Hari-hari yang selalu sama, pagi kembali ke pagi, seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Kuberjalan pelan, kadang berhenti melihat sekeliling, mengingat sesuatu lalu berjalan lagi. Detak waktu mencuri penantianku, merebutnya dari tanganku.

Aku tak punya alasan untuk menyukai laki-laki berambut panjang itu, sungguh tak ada alasan, ia begitu payah, kemewahannya akan membuatku bosan. Tiba-tiba ia tersenyum, ah aku hampir pingsan melihat senyumnya. Ia memberiku secangkir teh, “Satu sendok teh gula, aku tahu yang kau sukai” katanya pelan sambil menggulung lengan kemeja hitamnya.  

Menyusuri pantai menjelang malam, dengan pikiran yang entah. Entah pada siapa, entah dimana, entah bagaimana, ah entahlah. Masih meraba-raba.

Aku, sebuah perasaan dan secangkir teh dengan satu sendok gula, kucecap dalam diam. Tanpa mengingatnya, ya mungkin aku harus melupakannya, selamanya.