Kehidupan lancung; merongrong dari lolongan anjing. Alerta! alerta!

Sebuah bahasa meraung-raung, awal kalimatnya dikotomi – merampas otoriter anu

Atau kehidupan baru diam-diam mengampanyekan virus disease? apakah warga dunia belum sadar? bersosialisasi secara langsung, namun melalui perangkat digital bernama modernitas

Aku dipaksa bekerja online, mencari pasangan online, memesan makan online, mengantar barang online, menjelajah pasar dan toko buku online, mengirim tugas online, rapat pleno online, menikmati seni online

"Hidup terlampau canggih untuk menjadi kecanggihan" otak kita perlahan-lahan mati. Sedang dirancang untuk memenjara tubuh dan udara, lubang hidung yang sumpek, menghirup ruang 3×3 meter persegi. Ah persetan dengan kemajuan!

Sementara aku yang primitif, murung dalam pertanyaan segudang; barangkali basi bukan terbuat dari susu tetapi kepalaku dan salahku yang tidak dirancang untuk menginstal semua tuntutan zaman – inisiatif usang 

Aku berjalan sejauh mungkin di jalan keterasingan. antik; hilang

Berdiri mengejar sosok lain. Modernitas zaman dan sentuhan-sentuhan efisiensi yang bosan, memaksa aku untuk memegang, merasa, berada

Sudah umur masih gerutu, lain arus masih membatu. Yang hilang tak dikenang, kecanggihan tak dikekang

Apakah pohon-pohon masa depan tetap hidup? sungguh aku ingin pulang sebagai orang hilang. Kubiarkan jasadku menjadi pupuk yang mengubah aku sebagai sosok tanaman

Aku ingin memantau masa depan. apakah ideologi manusia masih tukak? aku ingin memantau puisi, apakah dia menjadi kode bar yang rusak? 

Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

Imajinasi datang ke warung tegal. otak-otak itu lapar, ia memesan ruang makan – kosong 

Sebuah piring berisi kemiskinan menyisakan rintih-retak negeri Afrika 

Tanah menyembur perut dan memastikan ketidakrelaan bangunan-bangunan tinggi kian merajut 

Sebuah kekayaan bukanlah kekayaan jika warung tegal menjual lisensinya ke bahu asing 

Keluh kesah tumbuh di ginjalnya memotret keroncongan lewat sinar x; perbedaan orang kelaparan dan orang rakus memakan punuk-punuk lembu di gurun usang.

Kaum Liberal di Serambi Mekkah

Kamu menjadi liberal hari ini; kobaran api berombak, meradak masuk ke tubuhmu 

Air lautnya ke mana ya? garam-garam manis, aku menyantap tunasusila. Oh! uh! adalah ungu. Jalang mendesah, selampai 

Surga-surga menjauh, matahari menyinari bulan, wanita bersetubuh dengan setan.

Ulat Bulu Yang Sunyi

Ulat yang malang; nomadik
kini tubuhnya menggambar kelelahan alam

Kelam – seperti hutan-hutan di Kalimantan. Ia membawa sulut api di sengatannya, tapi hendak ke mana ingin pergi? kematian menghampirimu lewat sini

Memotret roda ban mobil; seperti gilasan kejam para melata. Tunggu aku! kita akan mencari hidup bersama-sama.

Jurang Kebimbangan

Pilih buang atau bunuh? manusia satu nasib dengan kematian. Membicarakan sebuah kematian, bagaimana cara membaca puisi ketika berada di liang lahad? tunjukkan aku di jurang kebimbangan itu 

Aku rindu sebuah panggung di mana namaku disebut-sebut sebagai binatang langka 

Namun, mengapa puisi ikut mati juga?

Merasai Asin Garam 

Apakah kita tidak perlu laut, untuk membuat awan? apakah kita tidak perlu awan, untuk membuat hujan? apakah kita tidak perlu hujan, untuk membuat pelangi? apakah kita tidak melihat pelangi, di balik pencakar langit?

Pelangi, warnanya telah hambar. rasanya sudah pudar oleh kepulan gas industri dan asap kendaraan, angin menjadi senyawa yang membuyarkan dirinya sendiri

Hidup serba dinamis, lingkungan semakin tersisih, hidup serba konklusif, alam tercampur aditif 

Kini hidup seperti perahu tanpa dayung, tanpa laut. 

Tulisan Ulu

Aku selalu mengeluh di sepertiga malam – badan merasa fit, mata bagai burung hantu, kaki dan tangan juga seagak-nya wayang

Sedang manusia-manusia tertidur; melanglang buana mimpian. Kapan lagi? itu berulang-ulang. Sementara jari tangan tidak habisnya memegang tinta hitam

Dewasa ini, disisa umur 50 tahun yang akan datang, jadi seperti apa tubuhku ini? apakah kembali mati bernapas sebelum jam sepuluh malam? sukar sekali diriku membayangkan

Berapa banyak kerikil otak terkikis di dalam pikiran. tergesek di antara ubun-ubun.
Gembel aku! rambutku terus mengikal seperti kapuk

Sebenarnya siapa "aku"?

Sakit

Gigil hanya bising yang meriap kaku, kasur bagai permaisuri yang tumbuh dalam perhatian. Maka, izinkan aku untuk pulih. Pulih dalam keadaan normal bersisa; tanpa dosa, tanpa muslihat.

Aku iri dengan mereka yang sehat di sana, sebab aku tidak bisa keluar, berkelana selama wabah, mengitari banjir, kebakaran hutan, letusan gunung, dan pantai dengan tumpukan-tumpukan sampah – riang dalam sifat, senang dalam dekap.

Nyatanya, sakit kian menggebu-gebu. Terus terang, ini sangat sakit dibanding sakit hati. Aku iri, aku iri dengan mereka-mereka yang sehat!

Jalang, Lalu-Lalang

Hidup seperti jalang lalu-lalang memanggil pinggir kota lalu mengerang di plat kendaraanmu; sambil menepi, menikmati 

Mulut-mulut itu saling beradu. Mencuek bebek; dengan payahnya menyahut lidah lain dengan tergesa-gesa.

"Sini dong aku rem, biar ilalang kita semakin murah untuk dikenang."

Takdir Buatan

Alam buatan. Vaksin buatan. Dunia buatan. Robot buatan. Kita sedang membuat ketenangan dari tisikan jarum jam melalui media buatan

Tusuk-mematuk, ringis-mengikis, jalan-kebenaran

Tuhanku, aku mengadu. Mengapa saban hari takdirmu menjadi buatan?