Peneliti
2 bulan lalu · 103 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 65142_42815.jpg
Tribun

Aku Positif, Aku Bahagia

Negaraku, negara yang positif

Ada posting yang menarik yang kulihat baru-baru ini di Facebook (FB) temanku. Posting itu membuatku bahagia. Dia membagikan berita yang berjudul "Mengejutkan, Indonesia jadi negara paling positif no. 6 di dunia".

Selamat, Indonesia; selamat pagi, dunia. Alangkah positifnya berita ini kalau kita termasuk 10 besar negara yang paling positif di dunia, nomor 6.

Lebih lanjut, berita ini mengabarkan walau setahun ini kita panas akibat Pemilihan Umum (Pemilu), namun cuma Indonesia sebagai negara perwakilan Asia yang masuk dalam 10 besar ini. Negara yang paling positif ini adalah negara yang tetap bisa bahagia meski kualitas di negara mereka tak seperti negara maju.

Menurut berita itu lagi, dilaporkan oleh World Economic Forum (WEF), hasil ini berdasarkan wawancara lembaga survei Gallup kepada 151 ribu orang dewasa di 143 negara pada tahun 2018.

Dan pertanyaan yang ditanyakan, di antaranya adalah: 1. Apakah kamu sudah beristirahat dengan baik kemarin? 2. Apakah kamu seharian diperlakukan dengan respek kemarin? 3. Apakah kamu banyak tersenyum atau banyak tertawa kemarin? 4. Apakah kamu mempelajari atau melakukan hal yang menarik kemarin?


Kalau aku ditanya dengan pertanyaan tadi, aku akan menjawab pertanyaan tadi. 

1. Ya, aku pernah tidur sampai jam sebelas pagi karena semalam aku begadang menemani ibuku nonton final acara penyanyi dangdut dari pencarian bakat di salah satu televisi swasta. 

2. Ya, karena aku biasa menyapa orang kalau lagi punya mood yang asyik, walau kadang jutek juga. Tapi, mereka tetap ramah ke aku. Aku tetap mendapat perlakuan respek dari mereka.

3. Ya, aku banyak tersenyum dan tertawa sendiri mengingat kejadian konyol dengan seseorang yang aku sukai. Eh, bukan cuma itu, tapi lihat status di WhatsApp (WA) menyambut bulan suci ramadan yang lucu-lucu. 

4. Ya, aku melakukan hal menarik dengan menulis tentang puasa alternatif untuk suatu platform, Qureta.

Indikator Bahagia?

Namun, Ami teman diskusiku punya pendapat sendiri. Apakah kita bahagia dengan indikator-indikator pertanyaan ini? Dari 151 ribu sampel, 143 negara. Anggaplah sampelnya 1000 orang per negara. 1000 orang sampel dari 264 juta jiwa orang Indonesia sebagai narasumbernya.

Indonesia adalah negara yang besar. Bisakah hasil wawancara ini jadi acuan? Apakah wawancara ini juga tersebar ke seluruh Indonesia? Jangan-jangan yang ditanya cuma orang yang bahagia saja, orang yang positif dengan hidupnya (tanya Ami lagi).

Ami (harusnya) membaca berita ini lebih lanjut bahwa tingkat positif seseorang di suatu negara juga terkait oleh persepsi standar kehidupan, kebebasan personal, dan jejaring sosial (yang sehat). Mungkin, ini juga dilihat dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Menurut berita ini lagi, apakah yang bisa membeli kebahagian itu masih jauh untuk dipahami, tetapi laporan ini menyajikan ke para pemikir dunia mengenai gagasan siapa yang menjalani hidupnya dengan apa yang terbaik dan terburuk di dunia.


Kehidupan yang positif adalah kehidupan yang bahagia.

Pertanyaanku, apakah kamu berpikiran positif hari ini? Bagaimana dengan kemarin? Atau esok hari? Apakah kita akan terus berpikiran positif?

Menurutku, dari pikiran, pendapat, tindakan, perilaku, dan karakter yang positif akan menciptakan kebahagiaan. Bagaimana kita bisa memberi label kalau negara kita negara positif tanpa melihat kebahagian masyarakatnya?

Dan aku yakin, kita memang negara yang positif dan berbahagia. Dari hal-hal mungkin sepele seperti kata-kata "bahagia itu sederhana".

Bahagia itu sederhana ketika melihatmu tersenyum. Bahagia itu sederhana, makan tempe goreng sama sambelnya. Bahagia itu sederhana dengan minum kopi di warkop. Bahagia itu sederhana bisa beli buku diskon. Bahagia itu sederhana yang mewah itu gaya hidup. Dan lain sebagainya.

Bukan hanya dari kata-kata bahagia itu sederhana di atas, tetapi juga dari pengamatanku melihat fenomena orang Indonesia. Misalnya, melihat ibu dan empat anaknya yang masih kecil-kecil naik pete-pete, angkot dengan bahagia. 

Bagaimana dengan slogan dua anak cukup kalau dengan empat saja mereka bisa lebih bahagia? Aku juga melihat tukang becak dan bentor berkomunikasi dengan saling bercanda? Walau mungkin, tidak mendapat banyak rezeki hari itu.

Aku juga melihat di media sosial, kita orang Indonesia yang lagi menjalankan ibadah puasa memasang status yang unik dan kreatif, seperti besok Sahur Khan? Sambil memasang foto aktor India, Shah Rukh Khan. Atau foto makanan dan minuman yang menggairahkan sebelum buka seperti sabun cuci piring hijau sama dengan sirup berwarna hijau juga.

Atau foto syukuran, atau istilahnya bagi kami di Sulselbar, membaca makanan sebelum puasa, kegembiraan makan bersama sebelum ramadhan. Ada juga video pawai obor yang sangat ramai menyambut satu ramadan yang penuh bahagia. Budaya bangsa yang semoga saja terus dijaga dan dilestarikan.

Akhirnya, hidup itu memang untuk dinikmati, dan disyukuri. Inilah yang membuat kita termasuk negara positif (mungkin) karena banyak bersyukur karena jika kita tak bersyukur hilanglah jati diri Indonesia yang sederhana, ramah, dan berbudaya.


Semoga, Selamat berbuka puasa.

Btw: Kalau belum positif, ayo piknik biar bahagia.

Artikel Terkait