Perempuan cantik, kebiasaannya setiap kali datang menemui lelaki itu, ia mengenakan pakaian muslimah dengan jilbab yang lebar. Nampak seperti perempuan baik-baik mendominasi keimanan sebayanya.

Sehingga setiap lelaki yang ditemui tak pernah berpikir bahwa ia perempuan sembarangan, dan memang benar ia perempuan berbeda.

Selain jarang posting foto di sosial media, perempuan tersebut juga tidak banyak bergaul dengan lelaki, sebagaimana beberapa rekannya yang terbuka dan bergaul dengan kebanyakan lelaki, naik gunung, camp dan liburan di tempat-tempat wisata terdekat di kampungnya bersama kebanyakan lelaki.

Itulah membuat lelaki yang brengsek ini tak berani banyak tingkah bila bertemu, selain karena menjaga citra, dirinya juga sadar, perempuan yang baik harus diperlakukan semestinya.

Jadi ia hanya membawanya ke kedai kopi, atau ke pantai berbincang seputar aktivitas harian, tanpa pernah terlintas di benak lelaki ini untuk membawanya ke penginapan, bercinta sampai puas hingga pagi.

Perempuan tersebut terlahir di sebuah desa kecil di pesisir pantai teluk Utara, sementara lelakinya tumbuh meremaja di pegunungan bagian Barat. Mereka dipisahkan oleh aliran sungai besar yang juga menjadi batas administrasi kabupaten.

Karena berjauhan, mereka hanya bertemu dalam kondisi yang paling sempat dengan waktu luang maksimal satu kali sebulan. Setiap selesai pertemuan mereka di pusat kota terdekat, lelaki itu langsung pulang ke kontrakannya atau sesekali singgah di kedai kopi milik rekannya, di sana lelaki itu saling bercanda ria, mendiskusikan hal-hal progresif hingga asmara yang paling konyol, sampai lupa bagaimana nasib pemuda di hari depan.

Terhadap perempuan yang ditemuinya, lelaki itu positif thingking, menurutnya. Perempuan seperti itu baik dan tak layak di-ghibah. Lagian lelaki itu menyadari dirinya, perilaku buruk dalam dunia asmara belum bisa ia tinggalkan. Entah kecanduan bercinta atau memang sudah menjadi ritual privasinya, hal itu betul-betul membuatnya dicap sebagai bangsat yang terkutuk. 

Akibatnya, terhadap masa depan yang akan dijalani pun telah dipasrahkan pada dunia, entah bagaimana nasib baik atau buruk bisa berdamai dengannya, sudah menjadi konsekuensi dan siap diterima.

Selain menolak kemapanan, ia juga tidak berharap lebih untuk menikah dengan perempuan terbaik yang diidam-idamkan seumurannya. Ia begitu tenang dan nampak menerima segala peristiwa dengan santai.

Jelas lelaki itu seolah memiliki prinsip yang sangat kuat, bahkan tidak pernah terprovokasi oleh hegemoni lingkungannya yang kebanyakan hura-hura.

Lelaki brengsek itu seperti kehilangan masa depan, walau ia tak peduli pada ancaman kerumitan hidup mendatang dengan kondisi ekonominya yang di bawah standar kelayakan. Ia yakin selalu punya cara menyelesaikan persoalan, sekalipun kekuatannya juga tak seberapa. 

Bahkan beberapa rekannya sempat curiga, dengan penampilan seadanya masih saja ada perempuan yang mau berteman dengannya.

Berteman dengan banyak perempuan, bukan berarti ia paly boy bahkan hingga saat ini dirinya masih lajang, hatinya beku. Berteman dengan banyak perempuan adalah hal biasa baginya, tetapi mencintai satu di antaranya adalah kerumitan. 

Sejak enam tahun terakhir, ia tidak pernah lagi jatuh cinta secara mendalam. Bahkan ia sempat berpikir kalau dirinya merupakan keajaiban, lelaki yang hidup normal tanpa hati. Atau ia mungkin saja punya hati bekerja secara normal melancarkan peredaran darah, bukan untuk jatuh cinta.

Aktivitas lelaki tersebut memang tak menjanjikan secara ekonomi, menulis dan menghabiskan waktu sepanjang hari di warung kopi, sungguh tak menghasilkan uang. Tapi dia selalu menikmati apa-apa yang dilakoni, di mana hidup baginya hanya butuh syukur untuk ketenangan jiwa.

Berselang beberapa bulan tak ada kabar dari perempuan yang dulunya rutin bertegur sapa baik secara online maupun ketemu secara langsung. Ia mencoba mencari tahu, tapi sama sekali tak menemukan apa-apa, ia tabah menunggu, juga tidak membuahkan hasil. Meski tak benar-benar sayang, ia tidak mungkin begitu saja melupa toh sesuatu yang pernah ada walau lenyap tetap akan meninggalkan bekas.

Terbiasa berpetualang, sehingga tak satu pun ajakan rekannya ia tolak. Suatu waktu ia diajak liburan kecil ke kota tetangga, tanpa berpikir panjang dan langsung disepakati.

Naik motor seadanya, ia dibonceng menempuh perjalanan sekitar tiga jam, akhirnya sampai. Di kota tersebut tidak jauh beda dengan kota di kabupaten tempat tinggalnya. Tersedia banyak warung kopi, taman, kendaraan yang bising dan warna langit yang abu-abu.

Di kota itu tidak banyak yang mereka berdua kenal. Beberapa kontak di ponselnya dihubungi, berharap bisa dibantu mendapatkan tempat menginap atau paling tidak untuk tidur selama beberapa jam.

Akhirnya mereka menemukan penginapan murah, cocok untuk pemuda yang tidak memiliki banyak uang.  Namun, sebelum beristirahat di penginapan itu, mereka berdua diajak minum kopi di tengah-tengah kota.

Sembari berdiskusi layaknya mahasiswa aktif, mereka sesekali menikmati seruput kopinya.  Hingga larut dan mereka berdua pamit lebih dulu ke penginapan yang direkomendasikan oleh temanya di kota itu. Bergegaslah mereka berdua menuju penginapan tersebut, memarkir kendaraan di halaman lalu naik di lantai dua mencari kamar 206.

Terus berjalan melewati pintu utama lantai dua di penginapan itu, dengan tatapan ke mana-mana berharap menemukan pemandangan menarik. Ternyata benar, ia melihat sepasang muda-mudi di ruang utama saling tertawa gembira dari kejauhan. 

Ia dilema antara terus berjalan ke depan atau menikmati pemandangan langka itu, akhirnya tetap memperhatikan pasangan tersebut untuk memperjelas akibat rasa penasarannya yang semakin tinggi.

Setelah melihat jelas, ia langsung menarik rekannya mencari kamar yang semula telah dipesan, dengan buru-buru mereka masuk dan membuang dirinya di ranjang empuk. “Kenapa buru-buru?” tanya rekannya. Lelaki itu terlihat panik dan terbata-bata menjawab “Kau tau perempuan tadi? Itu adalah teman dekat yang sering aku bawa ke warung kopi tempat kita mangkal” katanya seraya menjelaskan.

Dengan penuh rasa tidak percaya, temannya terus memburunya dengan pertanyaan, “Mana mungkin. Selain dia tampak muslimah di kedai, katamu dia juga adalah perempuan baik dan taat pada agama?” lanjutnya bertanya. Kemudian dengan tegas lelaki itu menimpali “Iya aku juga tidak percaya, tapi ini kenyataan, sungguh!” sambung lelaki itu, sembari membayangkan kejadian yang baru saja dialami seperti mimpi tapi benar-benar nyata. 

“Apakah Dia pelacur?” tanya rekannya lagi, membuat dirinya melongo, tapi menyadari akan pertanyaan itu yang merupakan kewajaran “Kupikir iya, tapi entah!” jawabnya singkat.

Ia benar-benar tidak percaya perempuan selama ini yang ia anggap baik, bahkan dirinya sendiri tidak pernah berniat untuk membawanya ke kontrakan untuk bercinta, malah ditemuinya di penginapan dengan penampilan berbanding terbalik, baju kaos ketat, celana pendek, bahkan tanpa jilbab, bergembira dengan lelaki lain di hadapan matanya sendiri.

Bukan kebersamaan perempuan itu yang membuatnya kesal, tetapi kepercayaannya pada sesuatu yang ternyata tidak sesuai kenyataan. Belum lagi perempuan tersebut sebelum menghilang dalam hidupnya selalu berbagi cerita, kalau dirinya jijik dengan penginapan, bahkan tidak pernah terlibat dalam dunia semacam itu. Lelaki itu benar-benar percaya dibuatnya kala itu.

Walau bagaimana pun, lelaki itu tetap berusaha mengontrol dirinya agar semua terlihat baik-baik saja. Ia hanya membayangkan bahwa seharusnya tak seorang pun bisa percaya pada apapun. 

Bahkan dari kejadian itu, ia menganggap tak akan ada yang mampu menebak ke mana muara sesuatu yang dipercayai. Ia juga berbisik dalam hati “Aku mengimanimu Pram, bahwa kehidupan lebih nyata dari teori apapun tentang kenyataan”.