Kemarin siang, adikku, Ammoz, mengirimkan sebuah video padaku melalui japri di WhatsApp (WA). Namun, aku baru membukanya di sore hari, sebelum magrib tiba. 

Ketika membukanya, aku masih malas. Ketika melihat video itu sekilas, aku merasakan aroma-aroma AKSI yang membuat "kepala sakit" dan aktivitas terganggu. Bagaimana tidak, hampir empat hari ini, isu yang diangkat hampir sama semua.

Mulai dari nyata dan maya. Nyatanya, aksi pasti membuat jalan macet, ketakutan karena ada informasi akan besar-besaran. Lalu di media sosial, apalagi WA, rata-rata mereka membahas tentang "Aksi" (termasuk aku juga, sih). 

Aksi ini menjadi status, juga menjadi pembicaraan di grup. Yang menjadi status tentu saja gambar atau foto-foto tulisan yang dibawa mahasiswa dalam beraksi dan dibagikan, baik itu garang maupun garing.

Misalnya saja: Selangkangan Bukan Urusan Pemerintah; DPR Wayahe Kerjo, Malah Turu, Sekali Kerjo, Malah Keliru!; Kalau Perempuan Dilarang Keluar Malam Jam 10, Terus yang Karokean dengan DPR, Siapa?; Jangan Bunuh Keadilan, Bunuh Mantanku Saja; dan sebagainya. 

Selain posting-posting tersebut, komentar-komentar tentang aksi, demo, atau apalah semacamnya juga sangat ramai di WA. Semua (merasa) terlibat, terpanggil, tergerak, sampai ada yang bilang, "tergigil"...

Walaupun, akhirnya, ada juga yang (merasa) muaranya akan ke Jokowi. Karena (ternyata) ada pihak-pihak yang menjadi penumpang gelap, menunggangi kuda, eh aksi yang katanya, menjelang pelantikan tanggal 20 Oktober ini.

Oh ya, kembali ke video yang dikirimkan ke WA-ku. Awalnya, aku kira video itu akan bercerita mau "Turunkan Jokowi". Namun setelah kulihat videonya sampai habis, aku jadi salut banget sama mahasiswa yang lagi ngomong di dalam. 

Dalam videonya, terlihat banyak orang dalam sebuah ruangan yang penuh dengan kursi yang diduduki mahasiswa. Di depan mahasiswa, ada beberapa bapak-bapak tampak seperti pejabat. 

Redaksi videonya seperti ini, bapak-bapak pejabat itu berkata: 

"Rekomendasi hari ini, turunkan presiden Jokowi, berani tidak? Berani tidak?" teriaknya. 

Mahasiswa-mahasiswa pun menyambut "tantangan" itu dengan berkata, "Berani."

Tapi, salah seorang mahasiswa yang duduk agak di samping, bukan di tengah bapak-bapak tadi apalagi di depan, tampak mengambil mikrofon (alat untuk berbicara) yang terpasang di meja. Dia memencetnya, dan berkata dengan keras dan tegas:

"Kawan-kawan, kawan-kawan, ingat apa tujuan kita di sini? Jangan terprovokasi, tidak ada turunkan Jokowi..."

Suasana dalam video kemudian menjadi riuh, antara setuju dan tidak setuju. Karena sebelumnya mereka mendukung "keinginan" pejabat tadi, kemudian temannya tadi meminta kawan-kawannya untuk tetap fokus pada tujuan awal.

Dia terlihat sangat berani. Seorang bapak pejabat tadi ingin menyelanya. Namun dia kembali berbicara, "Bapak DPR izinkan saya bicara..."

Aku tidak mendengar apa-apa lagi, karena keributan suara yang terjadi di dalam video tersebut. Yang jelas aku kemudian mengerti jika video itu adalah mungkin acara dengar pendapat, antara mahasiswa dengan anggota DPRD pada suatu daerah.

Aku pun langsung membagikan video viral itu ke status WA-ku, dengan caption "Aku Padamu, Man." (Plus emotikon smile love, keren).

Video itu hanya berkisar sekitar 30 detik. Memang itulah ketentuan durasi dalam WA, hanya 30 detik yang bisa di-share.

Beberapa teman memuji mahasiswa itu sebagai mahasiswa yang keren. Bagaimana tidak, dia berani menyerukan pendapatnya langsung di depan anggota dewan yang terhormat. Apalagi ketika yang dia ingin perjuangkan adalah sebenarnya RUU yang dibuat oleh DPR, namun bisa saja dibelokkan menjadi turunkan Jokowi.

Hari gini! semua kan' salah, salah Jokowi semua. Namun yang tidak salah jika tiba-tiba aku menjadi penasaran dengan sosok mahasiswa aktivis tadi. 

Aku pun searching di Internet tentang video yang tengah viral tadi. Siapa sih mahasiswa yang sejatinya (asli) mahasiswa ini? Menurutku, dia punya prinsip, tahu yang mana yang sedang diperjuangkan. 

Dari Google, ada informasi kalau mahasiswa ini kuliah di Universitas Andalas. Dari video kutelusuri, ternyata berasal dari postingan di Instagram (IG) seseorang. Di IG ini, banyak yang menanyakan nama dan sekaligus IG mahasiswa tersebut. 

Ternyata dia adalah Alfiandri. Ku-follow, tapi, masih menunggu, karena akunnya bersifat pribadi, dikunci. Dan sampai tulisan ini dibuat, masih belum diterima (mengajak pertemanan juga baru beberapa jam lalu). 

Melihat Alfiandri, rasanya ingin kembali menjadi mahasiswi S1. Mahasiswi yang bukan sekadar kampus, kos, dan mall

Tapi, mahasiswi yang menjadi aktivis kampus yang mungkin garang di podium, mengerti perjuangan rakyat, berani mengkritisi kebijakan pemerintah, bisa berdemo, dan pacaran dengan sesama aktivis juga (ups' maunya aku!).

"Wahai, Alfiandri, aku (salut) padamu."

Dua hal yang tidak bisa membuatku tidur malam ini, memikirkan pertemananku diterima oleh Alfiandri.

Dan presiden terpilihku, Jokowi, aku akan tetap bersama Jokowi. Dengan memakai hastag #SayaBersamaJokowi untuk agenda "Demi Indonesia yang demokratis, adil, dan sejahtera, Amin.