Filsuf
2 tahun lalu · 4228 view · 4 menit baca · Filsafat narc01r.jpg
http://thanasis.com/narc01r.jpg

Aku Narsis, Aku Eksis?

Tentang Bagaimana Manusia Mengada dalam Realitas Virtual

Manusia, menurut Heidegger, adalah satu-satunya entitas (being) yang bisa mempertanyakan Ada (Being). Pertanyaan seputar Ada-nya manusia—tentang apa arti keberadaan, dari mana dan kenapa, ke mana dan untuk apa—menuntun manusia dalam pergulatan sepanjang sejarahnya tidak hanya pada tingkatan spesies, tetapi juga pada tingkatan individu yang berupaya memaknai kehidupannya.

Pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu memotivasi manusia untuk secara bertahap mengembangkan pengetahuannya, mulai dari yang bercorak mitis, spekulatif, hingga positif-faktual. Rangkaian fase pengetahuan itu—yang tak pernah benar-benar terputus melainkan bertumpang tindih—membentuk watak peradaban manusia.

Dan kini, dengan kemajuan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi, suatu bentuk peradaban baru memaksa manusia mendekonstruksi semua idealisme filosofis tentang apa artinya menjadi manusia, tentang cara manusia meng-Ada di dunia. Kita hidup dengan-dan-dalam (within) Internet, jejaring yang terus meluas dan membentangkan “realitas virtual”, di mana setiap manusia hidup sebagai satuan-satuan digital yang saling terhubung.

Ilusi tentang Jati Diri

Internet menggugat kemapanan berpikir kita yang selama ini terperangkap dalam ilusi dikotomis: fakta vs fiksi, logika vs retorika, asli vs imitasi, murni vs campuran, kenyataan vs bayangan. Dan bukan hanya itu. Internet menggerogoti keyakinan warisan era mitologis yang diam-diam kita masih imani. Keyakinan tentang “jati diri”—identitas yang kita andaikan sebagai hakikat yang tak usang dalam perubahan.

Spiritualis mengajarkan kita bahwa “jiwa” adalah jati diri. Abadi bersemayam di balik raga yang menua, jiwa adalah juru mudi yang mengendalikan, fitrah yang mengingatkan kemanusiaan kita tentang asal-usul dan tujuan serta makna menjadi manusia. Jejak mitologis ini bahkan mengendap dalam ilusi modernisme Cartesian tentang “Aku yang Berpikir” (Cogito) sebagai sebab “Maka Aku Ada” (Ergo Sum).

Tapi sejak Nietzsche manusia sudah diingatkan, nubuat sudah disampaikan. Manusia dan amuba hanya berbeda dalam tingkat kompleksitas sebagai organisme, tetapi tidak berbeda dalam modus eksistensi. Seperti amuba, manusia meng-Ada dengan membelah diri hingga jumlah tak terbatas.

Identitas, dengan demikian, hanyalah omong kosong jika dibayangkan sebagai suatu jati diri—diri sesungguhnya, sebagaimana adanya. Internet memungkinkan manusia terus-menerus menggandakan identitas, menerbitkan ratusan atau ribuan akun media sosial dengan beragam nama panggil, yang masing-masing mengekspresikan siapa dan/atau apa dirinya sebagai manusia.

Realitas virtual membuka kembali kemajemukan dan heterogenitas dimensi kemanusiaan yang tertutupi oleh konsep identitas atau jati diri yang tunggal dan homogen. Setiap “Aku”, dalam realitas virtual kemanusiaan yang berjejaring secara intertekstual, adalah sekaligus “Bukan-Aku”, satuan digital yang secara matematis terus berkembang secara eksponensial tanpa batas awal dan akhir.

Digitalisme: Narsisme sebagai Modus Eksistensi?

Narcissus adalah sosok yang kecintaannya pada diri sendiri melebihi apapun selain dirinya. Dalam mitologi dikisahkan bahwa akhirnya Narcissus mati tenggelam di sebuah danau, mencoba meraih sosok rupawan yang muncul dari dasar danau, yang tak lain adalah bayang-bayang dari dirinya yang memantul di permukaan air.

Dalam psikoanalisisnya, Freud mengembangkan mitologi Narcissus untuk menggambarkan kondisi kepribadian narsistik, yaitu ketika seseorang terlalu mencintai dirinya-sendiri melebihi apapun selain dirinya. Dalam psikologi modern, narsistik digolongkan sebagai kondisi gangguan kepribadian yang ditandai dengan pandangan melebih-lebihkan supremasi diri dan kurangnya empati terhadap selain dirinya. Seorang narsis gemar membangun citra diri yang melebihi keadaan dirinya yang sebenarnya.

Banyak psikolog mengkritik perilaku media sosial sebagai sebuah gejala yang mengarah pada narsisme. Orang larut dalam pergaulan media sosial, menganggap sosok yang ia tampilkan di media sosial adalah dirinya yang sebenarnya. Gangguan kepribadian narsistik terjadi ketika seseorang akhirnya lebih mencintai citra dirinya sebagai entitas maya ketimbang sosok dirinya sebagai entitas nyata.

Namun begitu, dalam alam pikiran post-modern kita dewasa ini, psikologi terbuka untuk dilihat sebagai sebuah ilmu yang masih terperangkap ilusi modernitas tentang jati diri. Lebih jauh, kita bahkan dapat menggugat epistemogi psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengidap kerinduan nostalgik metafisika pada mitologi, yang mengandaikan adanya “jiwa” sebagai entitas obyektif dalam kemeragaan manusia.

Sudah banyak temuan saintifik yang menunjukkan bahwa “jiwa” dan aparatus-aparatusnya—seperti “kesadaran” dan “kehendak bebas”—hanyalah efek dari kerja-kerja syaraf otak manusia. Dengan kata lain, “jiwa” itu sendiri, yang diasumsikan sebagai diri manusia sesungguhnya, hanyalah sebuah citra mental yang muncul dari reaksi biokimia dalam tubuh manusia sebagai organisme kompleks yang berelasi dengan dunia yang jauh lebih kompleks lagi.

Gagasan tentang narsisme, dengan demikian, tak lagi dapat dipertahankan sejak dikotomi antara diri “jati diri” dan “citra diri” sudah terbongkar. Konsep “jiwa” yang dianut psikologi tak lebih dari sebuah reduksi yang mensimplifikasi kompleksitas proses-proses biokimia. Tak ada jiwa, yang ada hanyalah tubuh dan syaraf-syaraf yang bekerja.

Kompleksitas diri itulah kemudian yang tampil dalam ketakterbatasan ekspresi identitas dalam realitas virtual di media sosial. Alih-alih sebagai topeng yang menyembunyikan jati diri, puluhan ratusan, atau bahkan mungkin ribuan akun dan nama panggil yang digunakan oleh seseorang, misalnya, merepresentasikan suatu kondisi kedirian yang sejak awal retak karena berkontradiksi secara terus-menerus.

Seseorang mungkin bisa tampil kalem dalam suatu akun, tapi begitu ganas dalam akun yang lain. Ia mungkin seorang pecinta dalam satu akun tertentu, tetapi pada saat yang sama juga pembenci dalam akun yang berbeda. Adalah juga sebuah ilusi menganggap satu akun tertentu sebagai real dan akun lain sebagai maya dengan ukuran kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun, cara manusia berperilaku secara sosial juga merupakan sebuah citra diri.

Tiada yang asli dan tiada yang palsu, semua asli dan juga sekaligus palsu—baik ketika seorang indvidu berinteraksi sebagai sosok digital maupun ketika ia berinteraksi sebagai sosok yang berdarah, berdaging, dan bertulang. Tiada narsisme dalam media sosial, yang ada hanyalah sebuah modus eksistensi yang menghargai keberagaman ekspresi identitas, ketika setiap orang secara sadar maupun tidak menampilkan paradoks internalnya, kerapuhannya sebagai manusia.

Apa yang sementara ini disebut sebagai narsisme media sosial tak lain adalah sebuah cara mengada di mana seorang manusia menegasi identitasnya terus-menerus, karena hanya lewat negasi manusia menemukan kebebasannya. Dengan membongkar pasang identitasnya dalam akun-akun media sosial, manusia merumuskan ulang jati dirinya, berbicara sebagai “dirinya” yang sekaligus “bukan dirinya”, sebagai satuan digital yang menggandakan diri hingga jumlah yang tak terbatas, merayakan kebebasan dalam infinitas.

Artikel Terkait