Aku adalah manifestasi kesedihan yang selama ini bermukim di tubuhmu. Seperti kawanan lebah yang harus minggat dari naungan tangkai pohon besar agar selamat dari gangguan manusia.

Orang-orang menderita sebab mengandalkan orang lain dalam hidupnya, sementara kau selalu tersiksa sebab aku yang tidak bisa memberimu kepastian, itulah sehingga aku harus pergi jauh biar sisa-sisa kenangan yang hanya kau ingat sebagai bekas pijakan sementara.

Ada yang pernah bilang esensi tak akan pernah berubah hanya karena penamaan.  Sehingga aku tak perlu lagi menyebut namamu, atau memanggilmu dengan istilah romantis. Cukup kukatakan sekali lagi, terimalah kenyataan. Biar aku pergi saja sebelum semua selesai dan aku memang gagal meninggalkan jejak.

Laki-lali yang belakangan meminangmu jadi istrinya akan sangat bahagia. Ia akan mencintaimu sepenuhnya, ibarat penambang yang bertahun-tahun menggali lumpur lalu akhirnya berhasil menemukan sebongkah emas, ia akan sangat menjadikanmu istimewa.

Sebagai perempuan istimewa, kau akan sangat bahagia. Kau akan diperlakukan sebagaimana kau harapkan selama ini yang tidak pernah kau temukan dariku.

Kau patut bersyukur kepada Tuhan. Sebab kepastian yang kau impikan tidak bisa aku penuhi, sementara lelaki di luar sana mampu memberimu apapun yang kau ingin. Kau sangat berhak berpaling dariku dengan alasan apapun.

Mula-mula kau akan mengingatku sebagai lelaki yang baik. Tetapi waktu akan merenggut apa-apa yang pernah ada dan lama di hatimu, waktu jugalah yang akan membawamu pada ingatan baru yang lebih menyenangkan. Segala memori ingatanmu akan mengalami evolusi dari kesedihan paling menyesakkan menuju ketenangan hakiki.

Tak akan ada lagi mood yang membuatmu kurang bahagia. Laki-laki yang meminangmu akan mengerti bagaimana memperlakukan perempuan, ia akan menyayangimu sepenuh hati dan menghilangkan segala kesempatan moodmu mengganggu.

Sepasang lengan lelakimu akan lebih hangat dari badanku, peluknya lebih damai dari puisiku. Berbahagialah engkau. Tidurmu akan nyenyak, makanmu akan lebih teratur, hidupmu jauh lebih sehat. Sebab lelakimu akan bekerja dan memberimu nafkah melebihi kebutuhanmu. Beda denganku yang hanya bisa berkata-kata, di mana kata-kata hanya bualan yang tak pernah bisa mengenyangkan perut.

Setelah pesta dirayakan semeriah mungkin. Kau akan menikmati malam-malam lembab bersama suami. Tubuhmu tak akan menggigil seban kedinginan, segala keluh dan sakitmu akan diobati, dirawat dengan sebaik-baik perlakuan.

Berdoalah agar kau hamil dan segera punya anak laki-laki dan perempuan yang tentunya tidak menjadi manusia sepertiku yang brengsek ini. Kau akan punya anak saleh dan salehah. Anak-anak yang religius, mengerti agama serta dirindukan umat seperti ibunya.

Bila kau punya waktu luang di luar dari aktivitas rumah tangga, berkirimlah surat padaku. Buktikan bahwa kau benar-benar bahagia sebab tidak menikah denganku. Sampaikan padaku tentang rencana dan impianmu di masa lalu yang kini sudah tercapai, pun sangat engkau nikmati.

Aku akan hidup seperti ini hingga nanti, mungkin sampai mati, jadi saat kau bosan dengan riuhnya kota, atau risau pada ramainya keadaan, kau bisa mengajak keluargamu ke rumahku mengunjungi duniaku yang paling sunyi dari kehidupan.

Saat tiba di rumahku. Kau bisa langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu. Tak akan ada yang tersinggung, sebab di rumahku tak ada lagi kepekaan. Tetapi jangan khawatir, aku akan membuatkan kau secangkir cinta dan sepotong puisi seperti hidangan sebelum-sebelumnya yang memang hanya itu yang aku punya.

Suamimu pasti akan protes. Sehingga perlu kau berikan pemahaman, bahwa cinta dan puisi memang tidak mengenyangkan perut, tetapi keduanya menenangkan jiwa.

Maka suamimu akan menerima sebagai pemakluman, bukan berarti ia suka. Hanya saja ia tidak bisa membuat kau kecewa. Ia akan menuruti semua kemauanmu demi kebahagiaan seorang istri.

Sebagai istri yang religius, tertiblah sama suamimu. Jangan memaksanya bekerja. Jangan menuntut banyak hal. Biarkan dia melakukan pekerjaan bahkan yang belum sempat kau pahami. Kau harus mengingat, pertikaian dimulai dari prasangka buruk.

Jadilah istri yang menerima keadaan suami. Jadilah sepasang manusia yang paling berbahagia di dunia, pun di akhirat. Kelak, sampaikan pada anakmu bahwa dahulu ibunya pernah dekat dengan lelaki yang lemah. Lelaki yang hanya bisa menulis puisi dan menghabiskan waktunya membaca buku.

Anakmu bisa memanggilku paman. Sebab kita tidak bisa menjadi keluarga dekat, maka biarkan anakmu yang menjadikanku keluarganya. Walau bukan orang baik, bukan berarti keturunanmu harus melupakanku. Minimal mereka tahu namaku, dari situ ia bisa belajar tentang sejarah paling tidak mengenang sebuah nama.

Beri tahu anakmu, bahwa pamannya terlalu berambisi mengubah dunia. Walau mengubah dirinya saja tidak mampu. Sebab itulah ibunya tidak terlalu tertarik.

Anakmu harus tahu, kita pernah saling cinta. Meski tidak bertahan lama, juga tidak terlalu menyenangkan. Paling tidak ibu anak-anakmu pernah. Lagian aku yakin orang-orang muda di masa yang akan datang akan berkelahi hanya sebab memperebutkan kata pernah.

Anak-anakmu juga harus tahu rumahku, sehingga bila orang tuanya sibuk. Ia bisa sembunyi-sembunyi mencuri waktu mengunjungi pamannya hidup dari sisa-sisa genangan dan bertahan dalam sia-sia.