Secarik kertas dan tinta hitam
Berlenggak-lenggok di kanvas putih
Ada nama tersirat rahasia
Yang selalu menjadi topik utama

Berbisik aku kepada langit
Terbuai sendu dalam hening
Menatap lurus pada harapan kosong
Berharap banyak untuk terisi

Sunyi, sepi aku sendiri
Nyanyian riang jam di dinding
Seolah menyapa dengan hangat
Hatimu sakit, jiwamu tenang

Lantas apa yang semestinya mampu?
Aku hanya mengetahui satu hal
Yang akan kita lukis
Hanya luka..

Baru

Yang baru akan selalu hadir
Dengan tampak yang “seperti” lebih baik
Tapi, besok akan ada yang hadir kembali
Dengan tampak yang “seperti” lebih baik lagi…

Masalahnya adalah sampai kapan kamu berhenti berada pada titik memilih?
Dia yang datang dengan wajah barunya…
Dengan warna barunya dan dengan kenyamanannya,

Tidak lebih baik dibandingkan kekasihmu yang mungkin juga memiliki pilihan tetapi tetap memilihmu, merasa cukup atas kehadiranmu..
Karena pada dasarnya, 

Suatu hubungan itu dibangun dengan terus menerus sampai akhir..
Bukan untuk dibongkar pasang.

Paragraf Menyakitkan

Kamu mendiamkan aku,
Padahal kamu sendiri yang menyeretku masuk ke dalam hidupmu..
Menyertakan aku pada mimpi-mimpi yang dibuat seolah hanya denganku kamu ingin mewujudkan nya..

Yang hampir membuat ku percaya..
Bahwa semua hal yang bersangkutan denganmu pasti akan baik-baik saja.
Tapi, pada akhirnya aku dilepas secara perlahan,
Dibiarkan sendiri dalam dunia yang ternyata..
Tetapi, sudah tidak ada kamu lagi didalamnya..

Kamu sudah lama menyerah pada keadaan yang menjadikan aku seolah terlalu banyak menuntut padamu..
Hancur rasanya setelah dilepas,
Aku seperti tidak berharga atas kamu yang tidak berusaha berupaya..


Hari itu ketika pada akhirnya aku dengan berani memutuskan untuk memutuskan untuk melepaskan diri juga bukan tanpa alasan.
Masih ku genggam dengan erat harapan itu, 


Harapan yang kukira keputusanku itu tidak akan dengan mudah kamu iyakan. Harapan yang kukira kamu akan mencegahku untuk pergi tetapi ternyata kamu malah dengan mudah berbalik arah tanpa menengok lagi..

Jadi atas dasar apa aku harus kembali percaya pada cinta?
Atas dasar apa aku akan kembali berani mencintai?

A K U

Aku ingin menjadi matahari,
Diharapkan atau tidak ia tetap bersinar
Cahaya nya menerangi setiap sudut yang gelap..
Gelap mu menjadi terang karena nya..

Aku ingin menjadi senja,
Yang selalu kau elok-elokan saat kau menatapku..
Yang selalu kau tunggu kedatangannya..
Sampai kau lupa, bahwa yang datang juga akan pergi..

Aku ingin menjadi bintang,
Yang dapat menerangi langit mu yang gelap..
Yang kau tatap saat malam mu menjadi sunyi..

Dan yang terakhir..
Aku salah..
Aku ingin menjadi diri ku sendiri tanpa harus menjadi matahari, senja ataupun bintang..

Aku ingin menjadi apa yang aku punya atas apa yang telah Tuhan berikan kepada ku..
Tanpa harus menjadi orang lain..
Tanpa harus menjadi apapun yang dapat mengubah aku yang sebenarnya..
Aku ingin menjadi "aku" saat orang lain memanggil ku dengan sebutan "kamu".

Ruang Ekspetasi

Aku dan kamu bagaikan dua orang asing lalu terjebak dalam jurang yang sama
Kita sama-sama menikmati hasil dari sebuah perjuangan
Kita sama-sama berfikir untuk jalan keluarnya
Tetapi, hanya kamu yang terselamatkan

Aku masih tenggelam dibawah sana
Kamu yang berjanji akan datang kembali,
Nyatanya kamu memilih pergi tanpa menoleh sedikitpun..
Ternyata aku salah..

Sesuatu yang aku anggap yakin..
Nyatanya menghancurkan segalanya..
Sesuatu yang aku anggap percaya..
Dihancurkan dalam sekejap mata..

Ruang ingatan kembali mengusik
Aku mencoba menyembuhkan segala luka..
Nyatanya, tidak ada obat penawar yang paling ampuh
Aku hanya harus menyakinkan diriku sendiri bahwa,
Aku akan segera pulih kembali...

Gadis Itu Bernama "Aku"

Dia adalah gadis yang biasa saja
Mengeluh jika di ajak ke tempat yang bersuhu panas
Cemas ketika kamu tidak memberikan kabar
Cemas ketika kamu kelelahan..

Dia adalah gadis yang bersikap seolah-olah mengenalmu seadanya..
Namun, memperhatikan setiap kesukaan dan kebiasaan mu
Yang diam-diam mencoba segala hal yang berkaitan denganmu..
Yang selalu memendam apapun yang dia rasakan..

Sampai akhirnya..
Jika kamu sadar,
Dia yang ku maksud adalah "aku"
Ya, aku yang selalu nampak didepan mu..

Sayatan Lirih

Sekeras benda yang paling keras..
Bergema nyaring di ruang sunyi
Bodoh dan gila..
Dibatas ketidakwajaran, ada kewajaran
Diambang, diombang, diambing..

Luruh rasa kuatku,
Pandainya penyusup itu..
Dicurinya semena-mena
Aku kehilangan
Harap..

Lirih bisikku,
Disapu angin malam..
Dingin menusuk sampai ke tulang
Sunyi bersama pikiran kosong
Menatap lurus jendela kamar yang terbuka
Terdengar derai bisik menyayat..

"Aku tunggu disini"

Tuna Rasa

Kamu adalah ketidakjelasan
Semu..
Tidak,
Bukan wujudmu yang tak ada..
Tapi hati dan perasaanmu yang tak disini..

Kamu adalah keraguan
Dilema..
Tidak,
Bukan arah cinta yang salah tujuan..
Tapi kamu yang tidak membawanya kesini..

Dungu,
Buta dan tuli yang sebenarnya tidak.
Sepertinya kamu yang, TUNARASA...