Ketika kita mencoba untuk merenung dan bertanya, "Apa yang hendak dikenang orang, setelah kita sudah tiada dari muka bumi ini?"

Dari pertanyaan di atas, kita bisa menjawab, "Dengan menulis." Ide sebagus apa pun, kalau kita tidak tuangkan ide itu dalam bentuk tulisan, saya yakin, pada saatnya ide itu akan termakan oleh zaman. 

Coba kita bayangkan, seandainya pikiran-pikiran Socrates tidak dituliskan dan dibukukan oleh Plato—muridnya—saya tidak yakin kita bisa mengetahui pikiran-pikiran Socrates seperti hari ini.

Seperti halnya juga, tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Seandainya esai-esai Cak Nun tidak dibukukan dengan salah satu penerbit, saya tidak yakin, kita bisa tahu pikiran-pikiran Cak Nun dari masa ke masa. Mungkin saja pikiran-pikiran itu sudah termakan oleh waktu sebelum Cak Nun tiada.

Dengan menulis membuat kita abadi. Kalaupun kita sudah tiada orang-orang bisa mengingat dan mengenang kita dari pikiran-pikiran kita yang sudah tertuang dalam bentuk tulisan. 

Menulis juga menata pikiran. Omong kosong kalau hanya sekadar membaca buku, kita bisa menata pikiran. Tapi dengan membaca buku, kita bisa punya ide untuk menulis. Dua aktivitas ini saling berkaitan.

Dari ide, ada serangkaian kata-kata, terus menjadi sebuah kalimat, dan menjadi sebuah paragraf, pada akhirya menjadi sebuah tulisan. Itulah menata pikiran hanya terwujud bila kita menulis. Selain itu tidak bisa. Apalagi hanya sekadar berangan-angan.

Kadang pada sebagian orang, menulis itu sudah seperti bernapas. Menulis seolah sudah menjadi kebutuhan. Kalau tidak menulis sehari rasanya tidak enak. Jadi, aktivitas menulis sudah menjadi aktivitas keseharian. Misalnya, seperti; orang makan sehari tiga kali, mandi sehari tiga kali, salat—bagi orang yang beragama islam—sehari lima kali, dan seterusnya.

Pada titik itulah, di mana titik yang ditunggu-tunggu oleh seorang penulis. Jadi, memang yang harus dilakukan seorang penulis itu jangan berhenti menulis. Terus menulis sebab itu bagian dari latihan.

Apakah ada selain tulisan yang membuat kita dikenang orang, ketika kita sudah tiada? Ada. Kebaikan kita di masa hidup. Yang paling diingat orang bukan soal kita pintar, tampan atau cantik dan seterusnya. Tapi kebaikan kita, di masa kita hidup. 

Dalam hal ini, kebaikan, menurut saya, tidak perlu dituliskan sebab kebaikan akan tertanam di setiap hati orang yang sudah merasakan kebaikan dari orang lain. Ini sebuah pengecualian dan hal yang berbeda.

Kalau kau ingin abadi, maka menulislah. Menulis itu bagaikan “Jejak Pikiran” yang menandakan kita pernah hidup di muka bumi ini. Dan tulisan bisa merangsang adanya diskursus. Dalam apa pun bentuk tulisannya. 

Kalaupun kita sudah tiada diskursus itu akan tetap berjalan. Contohnya: tulisan dalam bentuk buku dibantah dalam bentuk buku juga dan seterusnya. Seperti apa yang terjadi antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, dan banyak lagi.

Seperti yang kita ketahui, Al-Ghazali, dengan bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifa (Kerancuan Para filsuf), dibantah oleh Ibnu Rusyd dengan bukunya yang berjudul Tahafut at-Tahafut (Kerancuan Kitab Tahafut). Inilah yang dinamakan diskursus dengan tulisan. 

Meskipun orangnya sudah tiada, diskursus tetap berjalan. Lain halnya kalau diskursus dengan lisan, orangnya  tidak ada, diskursus pun berhenti—sudah termakan oleh zaman.

Bukannya sekarang sudah ada YouTube? Kita sudah tidak lagi repot-repot menulis buku. Kita cukup bikin video terus upload video itu ke YouTube. Dan tersebarlah pikiran-pikiran kita. Itu betul. Tapi, kalau aksesnya dihapus, hilanglah semua video itu. Itu juga bisa terjadi pada tulisan di media online. Berbeda dengan pikiran-pikiran kita yang dibukukan.

Buku, kan, bisa dibakar? Kalau sudah dibakar, habislah pikiran-pikiran yang dibukukan itu. Itu betul, kalau buku-buku itu, memang betul-betul terbakar semua. 

Saya tidak yakin, meskipun ada perencanaan pembakaran buku secara terstruktur dan masif pada buku tertentu, itu bisa terbakar semua. Lain halnya dengan video-video yang ada di YouTube, tulisan-tulisan yang ada di media online atau semacamnya. Kalau akses dihapus, hilanglah semuanya.

Coba bayangkan, seandainya Alquran tidak dibukukan, apa yang akan terjadi? Kita tidak bisa memegang dan membaca Alquran seperti hari ini. Tapi ini memang hal yang berbeda kalau kita berbicara tentang pembakaran. Jangankan dibakar, diubah satu ayat pun, ketahuan. Sebab Alquran dijaga oleh Allah SWT, dengan adanya dan makin banyaknya Hafiz Quran.

Saya cuma mau bilang, bahwa menulis itu membangun keabadian. Kalau kita ingin abadi, maka menulislah. Dengan menulis, kita membuat “Jejak Pikiran” kita sendiri, bahwa kita pernah hidup di muka bumi ini. Dan menulis juga menata pikiran.

Kalau Rene Descartes pernah bilang: “Aku berpikir, maka aku ada.” Dan, Albert Camus pernah bilang: “Aku memberontak, maka aku ada.” Saya pun juga mau bilang: “Aku menulis, maka aku ada.”