Libertarian
3 tahun lalu · 4968 view · 3 menit baca · Hiburan sunrise.jpg
Adegen film 'Before Sunrise.'

Aku Mencintaimu Sampai Pagi
Tentang Film 'Before Sunrise'

Celine, 23 tahun, mahasiswi Sorbonne, berada dalam perjalanan kereta dari Budapest menuju Paris. Ia duduk berseberang kursi dengan Jesse, pemuda asal Amerika yang hendak berhenti di Wina untuk naik pesawat ke negaranya.

Ini adalah kisah cinta yang kebetulan. Kalau saja tidak ada sepasang penumpang yang bersitegang dalam bahasa asing yang tak dimengerti Jesse, mungkin jalan cerita akan menjadi lain. Itulah yang membuat Celine mencari tempat duduk lain yang kosong. Tempat duduk di seberang kursi Jesse.

‘Apakah kamu tahu apa yang mereka perselisihkan?’ Jesse bertanya. Belum juga Celine menjawab, Jesse melanjutkan pertanyaan ‘Apa kamu berbahasa Inggris?’ ‘Ya,’ jawab Celine. Ia mengangkat bahu dan sedikit menggeleng, ‘Bahasa Jermanku payah.’

‘Apa yang kamu baca?’ tanya Jesse. Celine memperlihatkan sampul buku di tangannya. Kumpulan cerita pendek erotis karya George Bataille. ‘Kamu?’ Celine balik bertanya. Jesse membalik bukunya, memperlihatkan bagian cover pada Celine. Memoar Klaus Kinski, ‘All I Need is Love.’ Lalu Jesse tersenyum. Begitu juga Celine. Manis sekali.

Mereka kemudian pindah ke restoran. Percakapan sepanjang perjalanan terjadi di situ. Lalu tiba waktu berpisah. Kereta telah sampai di Wina. Jesse mengakhiri perjalanan keretanya di kota itu. Selanjutnya ia akan menghabiskan sisa hari menunggu pesawatnya terbang. Sementara kota tujuan Celine adalah Paris.

Tapi kisah mereka tidak sesingkat ini. Mereka tidak lantas berpisah. Dengan sopan, Jesse meminta Celine menunda perjalanannya ke Paris. Ia minta Celine menemaninya jalan-jalan di Wina sampai besok pagi. ‘Sekedar jalan-jalan, melihat kota, menghabiskan waktu,’ pinta Jesse. Menunggu kereta jurusan Paris datang dan jadwal pesawat Jesse tiba. Celine setuju.

Maka dimulailah petualangan ini. Dua orang muda beda negara menjelajah Wina untuk tujuan yang tidak begitu jelas. Dua orang yang baru saja bertemu dan bahkan belum tahu nama masing-masing. Perjalanan yang aneh.

Perjalanan yang tak bertujuan membawa mereka ke pinggir sungai, ke atas jembatan, café, tepi jalan, taman, gang, jalan sempit, toko kaset. Ya toko kaset dan piringan. Kisah ini terjadi pada 16 Juni 1994.

Pada percakapan yang tak ada ujung itu, tiba-tiba saja kita paham bahwa kedua orang ini sedang jatuh cinta. Dan mereka mengungkapkannya dengan gamblang melalui tatapan mata pada pohon, batu, dan pinggir jalan. Mereka juga ungkapkan itu dengan senyuman yang selalu tiba-tiba hadir.

Mereka terus berbicara, bertukar pikir, kadang-kadang berdebat. Dan sekali lagi, mereka akan membuang muka dan tersenyum ke arah lain yang berlawanan. Selalu begitu.

Tengoklah bagaimana adegan di ruang testing piringan musik. Mereka berdiri mendengarkan musik. Kali ini tidak ada perbincangan. Hanya ada suara musik dan orang menyanyi. Keduanya tersenyum-senyum sendiri. Jesse mencuri pandang pada Celine. Celine merasakannya. Lalu ia mencuri pandang balik pada Jesse.

Jesse memalingkan pandangan. Ketika Jesse kembali memandang Celine, giliran gadis itu yang memandang ke arah lain. Mata mereka tidak pernah beradu. Seolah-olah mencuri pandang adalah memang kejahatan yang tidak boleh diketahui. Begitu terus, berulang-ulang.

Ini adalah film romantis yang realistis. Isinya adalah percakapan dengan setting kota Wina yang dimulai menjelang petang sampai sampai terbit matahari. Film ini menyerupai sebuah film dokumenter yang merekam kehidupan biasa dan percakapan biasa. Siapapun yang pernah mengalami jatuh cinta dan pacaran sangat mungkin memperbincangkan materi-materi percakapan mereka.

Pada akhirnya, kekuatan utama film ini ada pada kedua pemeran utamanya: Ethan Hawke sebagai Jesse dan Julie Delpy sebagai Celine. Mereka mendalami karakter yang mereka perankan secara total. Seolah-olah semua itu adalah kisah nyata. Seolah-olah mereka tidak sedang memerankan suatu skenario. Percakapan-percakapan mereka mengalir deras tanpa bisa dibendung.

Di sini, sutradara Richard Linklater, yang kemudian juga membuat film fenomenal lain, Boyhood (2014), sepertinya menjalankan fungsi sebagai fasilitator yang membiarkan adegan demi adegan terjadi di luar kontrol.

Mungkin ada plot. Tapi sifatnya sangat umum, semacam peraturan yang bisa dilanggar. Selebihnya, pada detil-detil adegan atau percakapan, kedua pemeran utamalah yang lebih banyak mengambil inisiatif. Atau jangan-jangan mereka memang sedang saling jatuh cinta ketika film ini dibuat?

Selamat hari valentine!

 

Judul Film: Before Sunrise; Bagian pertama dari Trilogi “Before”; Sutradara: Richard Linklater; Pemain: Ethan Hawke dan Julie Delpy; Durasi: 1 jam 45 menit; Release pertama: 1995.