Betapa namamu adalah lautan yang ingin kubelai dengan pesiar, menjajaki tanpa henti meski mentari menjelma senja atau rembulan. Hendak telisik dengan segenap akal dan kata, yang tiada aku sampai dengan rapi. 

Di alam batara, konon katanya para dewata tiada memiliki cinta, kalah dengan dirimu yang selalu menguap asa dan rasa, menangis sendu terdekap sayang. Aku ingin memeluk dirimu dalam keabadian.

Gelombang air gemericik menyentuh daratan, hujan menghempas semut merah di pinggir tembok yang rapuh dan tidak ada daun gugur kala musim semi. Kau pun, tidak pernah aku sanggah dengan interpretasi semu ala roman picisan yang kian ramai di pasaran. Kau adalah kau, buana dalam alam imaji yang kupahami dengan sedikit pengetahuan. 

Ingin mencintaimu dengan sederhana, tapi kata ingin bukanlah kosakata yang tepat kali ini. Sedang ingin adalah hendak merasa, namun kau adalah aku. Kita menjelma sejak namamu kutulis dalam alam ideku. Sejak awal, tak pernah ada kata ingin, kau adalah cinta yang sederhana itu, tersimpan sejak tercipta diriku dan kau.

Cerita-cerita kita tidaklah terlalu hebat dan menggelora bak cerita 1001 malam, yang penuh dengan intrik dan siasat, atau apapun itu yang meninggalkan kesan hebat pekat. Tidak, barangkali percakapan kita kala sore atau di lantai 2 kampus adalah sekian kisah, penuh dengan kalimat yang  barangkali kita lupa tapi teringat rasanya.

Kau seringkali histeris dengan gaya bicaramu mengapi-api, dan meramu abu di tengah bicara. Ingin kupecahkan kalimat kosong itu, menggantinya dengan jawaban yang segan kau berikan. 

Ah, biarlah saja. Nanti kau pun lelah, karena kian hari peringatan tak kian reda, meninggi emosi lalu turun menerjang dengan canda dan tawa. Kau yang bermain suasa, dan aku kadang berbuat kesal. Kita adalah dua patah yang bersama. Aku ingin bersama, meski di pinggiran jalan kala malam.

Belum lama, kita sedang bermain luka. Menyentuh luka memang tak nikmat, bukan? Barangkali, kita mencoba agar saling memahami dan mengerti. Barangkali, kita jadikan ia sebagai canda dalam kalimat kita. Tapi nyatanya kita masih terlalu dini untuk mencoba, mulut serta hati kita masih rapuh dalam mencerna rapih. Masih perih untuk menghapus sedih. 

Tapi, bagiku lalu adalah lalu. Meski demikian kata adalah pisau yang belum kita pegang dengan erat, belumlah kuasa kita atas setiap kosakata dan maksud yang ada.

Sudah begitu banyak, kebaikan dan manis dari kita yang sudah tertata. Sudah banyak manifestasi dari segala konklusi, sedang solusi kian erat kita dekati. Apa masih ada maaf bagi tubuh dan pikiranku ini? Apakah memori baik dan manis, yang kita tempa kala berdua adalah angin lalu yang terhempas saja? Apa kepercayaan adalah debu yang bisa terhapus dalam satu malam? Apa maafku di sekian paruh pembicaraan adalah hampa?

Tidak, bagiku maafku adalah sungguh. Ia tiada miliki tapi, dan mengakui salah dalam perbuatan. Pintaku dalam maaf, ingatlah memori baik yang kita rawat hingga saat ini.

Aku masih menunggumu, segala tanya dan jawab yang ada di dalam benakku adalah milik dirimu seluruhnya. Tiada nama, dan tiada raga lain yang bercantum selain dirimu seorang saja. Salahkah, jika aku menyiasati dirimu agar tak lagi bersama pedih, yang menyeruak melubangi tubuhmu dengan luka.

Apa kita sama-sama tidak mengamini, bahwa kita selalu mencoba untuk memulai, meski kalimat kita saling menepikan. Sekian hari terlewat, sekian ingin aku menyebut luka yang kau buat. Aku mengerti itu manusiawi, namun kau lebih dari sekadar luka yang terungkit, kau adalah titik dari segala luka yang pernah kita rawat.

Simfoni alam masih menggema, aku turut mengamati dari balik gedung yang menjulang. Angin sepoi di akhir pekan, suara berisik dari mesin-mesin yang tidak pernah aku tahu, terbangun di kala subuh dengan kau yang masih ada dalam hingar bingar pikiran. 

Barangkali menaruh dirimu barang sejenak tak apa, di sela memori terdalam agar diriku beristirahat. Boleh jadi, kau akan tetap terbayang, namun aku masih punya kehidupan sendiri. 

Hasilnya nihil, kau tetap bersemayam. Kau menetap, kau tetap dengan luka itu.

Bagimu, dengan segala rasa sayang dan kalimat terserah itu. Aku terdiam, kau sungguh tidak berniat mengakhiri ini dengan cepat. Kau begitu peduli dengan dirimu, padaku dengan segala nasehatmu akan pikiran berlebihan, kau mengamini akan diriku. 

Aku pun. Kau, tidak pada dirimu. Apa perlu kalimat di paragraf sebelumnya kuputari sekian banyak, agar kau pahami bahwa kesalahanku adalah benar dengan segala maaf dan penjelasannya. Dan, pikirmu merenggut hatimu.

Dan, seakan semua kesalahan di setiap percakapan adalah benar bahwa hanya aku yang selalu mencintai masa lalu. Bahwa hanya aku yang hanya menyebut ia, tanpa peduli akan hatimu. Bahwa hanya aku, dengan segala keterbatasan ucap, adalah benar aku selalu membandingkan ia bersamamu.

Lihatlah, aku disini akan mengamini. Bahwa kesalahan itu adalah milikku, dan tiada dirimu miliki. Apa benar, itu yang kau mau? Apa mungkin, diriku tak pernah memaafkan dengan mudah ? Apa hanya aku yang terlalu lebih berpikir? Apa memang, aku seorang saja yang selalu mengungkit masa lalu? Apa aku saja, yang pernah berbohong?

----

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu-