Beberapa minggu lalu sempat viral sebuah video di media sosial. Video tersebut menampilkan sebuah kejadian yang sebenarnya sudah sering kita lihat dan juga beberapa kali malang melintang di berbagai media sosial setiap tahunnya.

Dalam sebuah postingan media sosial pastinya ada komentar-komentar yang bisa kita baca. Begitupun dengan video viral yang saya singgung sedikit di atas, ada komentar yang sangat menarik.

Komentarnya seperti ini "Hem bagi kita semua kalok emang gak ada uang lebih baik nahan keinginan dan kalok kebutuhan urgen lebih baik jual barang rumah daripada berhutang ........"

Terdapat komentar lain yang lebih nyelekit, komentarnya seperti ini "Kalo gak bisa bayar jangan ngutang...!! Kebanyakan gaya sih, giliran ditagih malah galakan loe"

Dari kedua komentar tersebut, kita bisa menerka video viral seperti apa yang saya maksud. Yaps, video viral tersebut menggambarkan sebuah kejadian seorang penagih hutang dengan orang yang meminjam uang. Namun, yang menarik perhatian adalah ketika si peminjam jauh lebih galak dibanding si penagih hutang.

Deretan komentar lain yang ada dalam video tersebut menunjukkan pengalaman serupa dengan si penagih hutang. Lalu, sebenarnya mengapa sangat sering kita jumpai kejadian dimana si peminjam yang lebih galak dibanding si penagih hutang? Atau meminjam tapi tak dikembalikan? Apakah kejadian memarahi penagih hutang karena rasa malu karena tak mampu membayar hutang? Si pemberi pinjaman yang tak memperhitungkan kapasitas si peminjam? Atau beban bunga pinjaman yang terlalu besar?

Pada dasarnya terdapat motif yang berbeda-beda ketika meminjam uang, ada yang meminjam untuk investasi, menambah modal usaha, memenuhi kebutuhan, atau untuk melalukan pembayaran yang mendadak dan mendesak, dll. Tapi terkadang selain motif yang saya sebutkan tadi, masih banyak yang meminjam uang untuk mengikuti gaya hidup dan tren yang sedang terjadi.

Dalam hal ini saya tidak menyalahkan jika seseorang meminjam uang dengan motif mengikuti gaya hidup dan tren. Bagi yang dasarnya memang sudah berpenghasilan tetap dan mampu menyisihkan pendapatan untuk membayar hutang dengan jaminan kebutuhan pokok untuk melanjutkan kehidupan sudah terpenuhi dengan penghasilan tiap bulannya, maka sah-sah saja meminjam uang. Namun, bagaimana dengan mereka yang belum ada jaminan dan pendapatan tetap? Ini menjadi permasalahan sekarang. Sesorang yang tidak bisa menjamin mampu untuk membayar hutang tapi ngotot berhutang dan si pemberi hutang juga tidak memperhitungkan risiko pinjaman yang diberikan.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kejadian seperti video viral tersebut bisa terjadi. Salah satu faktornya yakni terkait tingkat literasi keuangan masyarakat yang masih rendah. Mengapa demikian? Karena ketika tingkat literasi keuangan masyarakat masih rendah, masyarakat belum mampu untuk mengelola keuangan dengan porsi yang benar.

Literasi Keuangan

Pengertian Literasi Keuangan

Menurut Gerakan Literasi Keuangan Kemendikbud, Literasi Financial atau Literasi Keuangan adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Bagian Literasi Keuangan 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa terdapat empat bagian dari literasi keuangan di Indonesia, antara lain:

1. Well Literate, yaitu mayarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan terkait lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan

2. Sufficient Literate, yaitu masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

3. Less Literate, yaitu masyarakat yang hanya memiliki pengetahuan tentang jasa lembaga keuangan, produk dan jasa keuangan.

4. Not Literate, yaitu masyaraat yang tidak memiliki pengetahuan dan keyakinnan terhadap lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Manfaat Literasi Keuangan Bagi Masyarakat

1. Masyarakat mampu untuk memilih dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai kebutuhan

2. Memiliki kemampuan dalam melakukan perencanaan keuangan dengan baik

3. Terhindar dari aktivitas pada instrumen keuangan yang tidak jelas

Tingkat Literasi Keuangan di Indonesia

Berdasarkan Data Survei OJK, tingkat literasi keuangan di Indonesia tahun 2013 yakni 21% dan mengalami peningkatan di tahun 2020 menjadi 40% atau hanya 19% dalam kurun waktu 7 tahun.

Pada video viral tersebut dapat dilihat bahwa si peminjam belum memahami betul terkait risiko yang akan di dapat ketika harus melakukan pinjaman pada lembaga keuangan selain perbankan. Seharusnya, ketika ia sudah tahu perihal manfaat dan risiko yang akan di dapatkan dan juga sudah tahu kapasitas keuangan yang dimiliki, ia akan mampu memilih dengan bijak apakah ia hendak melakukan transaski peminjaman uang atau tidak.

Merujuk pada judul dalam tulisan ini dan kejadian dalam video viral tersebut, ketika kita belum memiliki literasi keuangan yang cukup, belum mampu mengendalikan gaya hidup, belum mampu menentukan mana kebutuhan prioritas dan bukan, tetapi tetap ngotot melakukan pinjaman apalagi melakukan pinjaman di rentenir dengan tingkat bunga yang mencekik. Secara tidak langsung kita dapat mmebunuh diri kita sendiri dengan perlahan. Mengapa demikian?

Logikanya seperti ini, saat dalam posisi harus mengikuti keinginan, mengikuti tren dan mengikuti gaya hidup, kemudian melakukan pinjaman kepada lembaga keuangan yang memberikan bunga tinggi, di tambah belum memiliki kecakapan dalam literasi keuangan yang. Tapi sudah terlanjur melakukan pinjaman dan tidak bisa membayar pinjaman, apa yang terjadi? Hutang semakin banyak karena ditambah dengan bunga yang melejit, serta terlilit hutang akan mengakibatkan terjadinya stres. 

Tingkat stres yang tidak bisa di kontrol dengan baik mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mengakibatkan penurunan tingkat kesehatan. Sudah berapa banyak orang yang kita temukan gila karena terlilit hutang? atau bahkan bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang dengan bunga yang berkali-kali lipat?. 

Untuk menghindari kejadian dalam video viral atau bahkan stres karena hutang, kita harus memiliki pemahaman yang cukup terkait literasi keuangan dan yang terpenting adalah mengendalikan keinginan dan gaya hidup sesuai kapastisas masing-masing, perbanyak bersyukur dengan melihat kelompok yang berada pada ekonomi di bawah kita bukan sebaliknya selalu melihat kelompok di atas kapasitas yang kita miliki. Sehingga dengan seperti ini kita mampu menjadi bijak dalam melakukan transaksi keuangan secara sehat dan mampu melakukan financial planning yang tepat.

Salam Literasi!