Aku terlelap dalam buaian ombak yang menerjang kapal Titian Nusantara, di lautan lepas pada pertengahan bulan November 2007, menuju pelabuhan Tanjung Perak-Surabaya.

Mungkin karena memasuki musim penghujan, sehingga deburan ombak bersahutan menghempas, menerjang badan kapal, hingga membuat kapal mulai terombang-ambing mengikuti alur gelombang yang tidak tentu arah.

Dengan begini,  membuat bukan saja aku yang terlelap karena mabuk, tetapi terlihat banyak penumpang yang berada di kelas ekonomi itu, tak kuasa menahan diri, akhirnya rebah di tempat tidur bercampur aduk dengan rasa was-was.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, aku terbangun oleh colekan jemari pada ujung telapak kaki. Perlahan kubuka kelopak mata, ingin melihat siapa gerangan yang telah membangunkanku, ini.

"Bang, sendirian, kah?" tanya seseorang yang bertutur santun menyambut senyumku, ketika kami saling menatap.

Aku terdiam, mencoba untuk mengingat-ingat kembali, siapa sebenarnya yang membangunkan dan mengajakku untuk berbincang.

"Maaf, Ade, mungkin aku yang lupa ingat," timpalku.

"Masa lupa sama ade, sih? Aku Hendro, adik semestermu dulu," jawabnya menjelaskan.

"Oo, maaf, ini Hendro, kah?" jawabku.

"Iya, benar sekali, Abang," jawabnya bersemangat.

Lalu kami pun terlibat dalam perbincangan yang mengasyikan. Tentang apa yang pernah kami alami di kampus waktu dulu. Terkadang suara tawa melengking memenuhi langit-langit kabin, karena canda kami sampai kepada hal-hal yang konyol, meskipun kami sadar, secara etis tidak elok, karena mengganggu kenyamanan tidur malam para penumpang di kabin itu.

"Ngomong-ngomong, abang sebenarnya mau ke mana?" Hendro bertanya setengah berbisik.

Sebetulnya aku tidak paham, tentang rute pelayaran kapal itu,  karena Surabaya bukanlah tujuan kepergianku. Tetapi rupanya, tidak ada pilihan lain, kecuali tumpangi kapal itu untuk kemudian lanjut ke Jakarta.

"Abang mau ke Jakarta," jawabku.

"Lho, kok, tidak langsung saja ke Jakarta?"

"Tadinya ingin transit di pelabuhan Tanjung Priok, cuman lama menunggu jadwal kapal yang langsung ke sana, sih."

"Terus, rencana nginapnya di mana, Bang?"

"Di hotel, Hendro, abang tidak punya siapa-siapa di Surabaya."

"Oh, kalau begitu, begini, Bang. Kita ke kontrakanku, nanti besok pagi kuantarkan ke stasiun kereta."

"Terima kasih, Hendro, atas keikhlasanmu."

Ternyata obrolan kami cukup menyita waktu tidur. Entah sudah sampai di mana kapal ini membawa kami dalam kegelapan malam itu, mengarungi lautan yang mencekam.

Tetiba terdengar suara azan subuh menggemah, waktunya sesama umat muslim menunaikan sholat shubuh di Mushola yang letaknya tidak jauh dari kabin di mana kami berada.

"Hen, istirahat yuk," ajakku.

"Iya, Bang, nanti disambung lagi, ya," ucapnya sembari pergi meninggalkanku.

***

Gemuruh stom memecah keheningan malam itu, pertanda kapal segera berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak. Kulihat jam di tanganku tepat pukul 23:00 witeng, dan tidak lama berselang, terdengar suara dari ruang informasi, "ABK siap muka belakang."

Aku bergegas membereskan barang-barang bawaan yang berserakan di pembaringanku. Belum juga beres, terasa ada yang menepuk bahu kiriku, dan terdengar suara dari arah belakang, "Abang, yuk, kita langsung ke kontrakan, ya."

Tidak menunggu lama, secara refleks aku  menjawab, "oh, Iya, terima kasih, Hendra."

Lima belas menit kemudian, kami tiba di kontrakan Hendro, di bilangan Mulyiosari. Kontrakan yang sudah ditempatinya sejak lima tahun yang lalu, milik seorang pengusaha meubeler ternama di kota itu.

Sejenak melepas lelah di ruang tamu kontrakan itu, kupandangi pigura berdimensi 3D yang berjejer menghiasi dinding ruangan itu, dengan beragam corak yang tertata apik, sehingga menciptakan keasrian yang memikat hati untuk betah berada di galeri minimalis itu.

Pandanganku mulai menjelajahi satu per satu pigura yang terpajang. Tanpa kuduga, bola mataku menangkap sebuah lukisan wajah seseorang yang pernah menghiasi kalbu. Aku tertegun seketika dan rasa ingin tahu mulai teranyam dalam dada.

"Hendro, sepertinya aku kenal, deh, sesorang yang ada di foto ini."

"Yang mana tu, Abang?"

"Ini, lho," jawabku sambil menunjuk ke wajah Tania, yang berada di antara gadis-gadis itu.

"Memangnya, abang kenal, ya?"

"Iya, dong. Dialah wanita pertama yang merobek jiwaku, kemudian pergi membawa cinta entah ke mana."

"Ooo, gitu ya? Dia sepupuku dan sekarang sedang bekerja pada sebuah perusahan fashion di kota ini," jawabnya menjelaskan.

Aku terdiam, ada rasa yang berkecamuk antara percaya dan tidak, ketika mendengar penjelasan Hendro. "Jika apa yang diceritakan ini benar, maka ini adalah bagian dari kehendak Tuhan untuk menyatukan hati antara aku dan dia," gumamku.

Sambil menikmati kopi yang sudah dihidangkan, aku curahkan segalanya ke Hendro tentang cinta antara aku dan Tania ketika itu, sambil berharap, dari padanya ada jalan untuk bisa menemui wanita yang telah sekian lama menghilang.

"Hendro, boleh tidak berikan aku nomor ponsel Tania?"

"Boleh kok, Bang, silahkan dicatat."

Aku segera mencatat nomor Tania pada ponsel Nokia 6170 milikku. Kuhabiskan kopi yang masih tersisa di gelas dan kutelepon ke nomor ponsel yang barusan kudapat.

"Hallooo, selamat malam, Mas." Terdengar suara merdu yang dulu pernah terngiang manja di telingaku dari seberang.

"Dengan siapa, di mana?"

"Hay ... selamat malam juga, ini dengan aku. Masih kenal suaraku?"

"Siapa ni, Bang?" jawab Tania semakin penasaran. "Abang Jordi, kah?" Sambungnya.

"Kirain sudah lupa. Tania, aku sedang ada di kota di mana kamu berada."

"Masa sih, Bang, tidak percaya, ah!"

"Ya sudah, kalau tidak percaya. Besok pagi kita ketemuan, yuk, di stasiun Gubeng," jawabku meyakinkannya.

"Benar, Bang?"

"Benar kok, aku sekarang sedang ada di kontrakan Hendro. Kenal tidak, sih, sama si Hendro?"

"O, itu saudaraku, Bang."

"Oke lah, kalau begitu, besok jam 08:00 kita ketemuan di stasiun Gubeng, ya."

"Memangnya, abang mau ke mana? Kok, ngajak ketemuan di stasiun?"

"Nanti saja di stasiun akan kujelaskan, semuanya."

"Oke, deh, selamat bobo ya, Bang. Sampai ketemu besok," jawabnya menutup percakapan malam itu.

***

Arloji Seiko di tanganku sudah menunjukan pukul 07:20. Bersama Hendro, aku bergegas menuju mobil taxi yang sudah menunggu di depan kontrakan. Kemudian dengan tenangnya melaju menyusuri jalan itu, entah ke mana, aku turuti saja sambil mengirim pesan singkat kepada Tania gadis yang semalam sudah terlanjur kujanjikan.

"Tania, aku sudah meluncur menuju stasiun, ni. Kamu di mana sekarang?"

"Aku sudah di sini menunggumu, Bang ... kok lama sekali?" Tania membalas.

"Maklumlah Tania, abang telat bangun," jawabku sekenanya.

"Bang, langsung saja ke sana, itu ada Tania di sana," kata Hendro sambil menunjuk ke arah Tania.

Kami tiba di stasiun kereta itu pukul 07:35, langsung membereskan bawaanku dan kusodorkan dua puluh lima ribu rupiah kepada supir taxi itu, lalu bersama Hendro mereka pergi.

"Haiii Tania, apa kabar, ni?"

Sapaku sembari menjulurkan telapak tangan kananku untuk berjabatan tangan. Lantas kupeluk, dan sebuah kecupan mendarat di keningnya sebagai tanda bahwa aku merindukannya.

"Bang, tidak pernah terlintas di benakku tentang perjumpaan kita hari ini," bisik Tania sambil meneteskan air mata, "Bang, air mataku yang menetes adalah tetesan bahagiaku, karena hadirmu telah membuatku kembali tersenyum," sambungnya lirih.

Seperti gulungan gelombang di lautan lepas mengikuti hempasan angin yang menikam permukaan lautan, batinku pun mulai terombang-ambing mendengar ucapannya itu. Memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta atau berlabuh di hati Tania?

"Jujur, aku juga memiliki perasaan terhadapmu dan tidak bisa menolakmu. Tapi aku takut mencintaimu," jawabku.

"Mengapa begitu, Bang? Tolong jangan pergi meninggalkanku, karena aku masih mencintai dan menyayangimu."

Ternyata Tania belum berubah. Dia masih teguh pada cintanya. Sepuluh tahun tidak menjadi alasan untuk menghapus semua janji manis yang pernah terucap.

"Bukannya aku tidak ingin menjadi pacarmu, Tania, tapi aku hanya ingin kita dipersatukan dengan cara yang benar."

Barangkali terlampau jauh kami terhanyut dalam obrolan ini, sehingga akhirnya aku ketinggalan kereta. Aku menghela napas panjang dan menerima apa adanya kenyataan ini, karena memang keretanya sudah terlampau jauh untuk dikejar.

"Tania, lalu aku harus bagaimana?"

"Kita kembali saja ke kontrakan mas Hendro, Bang," jawabnya mantap.