Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini karena insan yang bernama mahasiswa ini. Mahasiswa dan perubahan, 2 kata ini seakan menyatu dan begitu melekat untuk disandingkan menjadi elemen frasa yang tak bisa dipisahkan. Mahasiswa adalah insan kampus yang masih idealis dan bersikap independen dalam berpikir dan bertindak serta merupakan penentu kemajuan masa depan sebuah bangsa. Mahasiswa sering melakukan pergerakan-pergerakan ke arah perubahan untuk kemajuan sebuah bangsa.

Sekarang aku sedang menyandang sebuah titel yang sangat prestisius ini, sungguh titel yang sangat istimewa, yang mana tidak semua anak bangsa Indonesia ini dapat memperolehnya. Aku bangga dengan titelku, yakni si agent of change yang mana aku adalah generasi penerus bangsa. Namun aku sadar bahwa aku bukanlah orang yang cukup mulia, aku sadar bahwa aku bukanlah mahasiswa yang ideal, aku pun menyadari bahwa aku bukanlah seorang sosok teladan yang baik, terutama jika melihat integritasku yang sangat menyedihkan dalam ucapan dan tindakan.

Sebagai mahasiswa, aku adalah seorang pendosa. Ya, kalian tidak salah dengar, aku adalah mahasiswa pendosa. Aku masih mencicipi nikmatnya kebohongan dengan melakukan titip absen, bolos, surat pertangung jawaban palsu, berbohong kepada dosen, dan hal-hal nista lainnya, yang mana hal tersebut merupakan hal-hal kecil yang akan membawaku kepada tindakan kecurangan yang lebih besar dan lebih berdosa.

Aku sadar, aku telah mengecewakan dan merugikan diriku sendiri, orang tuaku yang telah membiayaiku kuliah, pemerintah,  tukang becak, penjaga toko, buruh bangunan, petani, tukang tambal ban, dan segenap rakyat Indonesia yang merelakan diri mereka untuk membayar pajak demi turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan meringankan biaya pendidikan anak anak bangsanya seperti aku ini. Aku sadar uang kuliahku dibiayai oleh rakyat Indonesia, dibiayai oleh orang tuaku, dan aku dengan segenap hati meminta maaf yang sebesar besarnya kepada kalian semua karena telah mengecewakan.

Alasan kenapa aku melakukan semua hal yang tidak baik itu adalah karena ketakutanku, ketakutan akan sanksi akademik yang bisa meruntuhkan impian-impian yang sedang kubangun selama kuliah. Aku takut tidak bisa ikut UAS, aku takut ini, itu, dan lain-lain.

Hafiz yang dulu bukanlah Hafiz yang sekarang. Hafiz yang sekarang telah berevolusi menjadi mahasiswa yang oportunis dan tak patuh terhadap aturan Tuhan lagi. Sangat menyedihkan, Hafiz yang dulu jujur dan sangat gencar menyuarakan kemurnian hati dalam bertindak, kini telah berubah menjadi orang yang permisif terhadap kecurangan yang ada. Hafiz yang dulu turun ke jalan menyuarakan dihukumnya para koruptor, namun dalam dirinya sendiri telah tertanam jiwa koruptor itu sendiri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang telah ku perbuat. Amin.

Tulisan ini sendiri sebenarnya merupakan pelajaran bagi diriku pribadi, yang aku harapkan juga bisa mendatangkan manfaat bagi teman-teman yang membaca. Dan hanya kepada Allah aku memohon petunjuk dan pertolongan. Semoga aku tidak disesatkan. Mudah-mudahan aku tidak hanya sekedar bisa berbicara. Amin.