Bisakah kita mencintai lebih dari satu orang di waktu yang sama?

Membahas tentang cinta memang selalu rumit. Karena bagaimanapun cinta adalah sebuah benda abstrak yang sama sekali tidak bisa diukur. Jika kita hanya melihat cinta melalui perspektif naluri hormon alias nafsu, maka mungkin saja kita bisa jatuh cinta pada lebih dari satu orang. Bahkan, mungkin saja setiap harinya kita bisa jatuh cinta pada orang yang berbeda-beda.

Pertanyaannya mungkin begini: Apakah mungkin seseorang memiliki dua komitmen asmara yang berbeda di waktu yang sama?

Untuk menjawab pertanyaan ini ternyata jauh lebih rumit. Bisa-bisa untuk menjawabnya saja, butuh waktu dua hari tiga malam dan harus melalui berbagai macam pertimbangan sana sini.  Then, let’s make it simple. 

Mumpung suasana hari ini sedang mendung, pertanda akan turunnya hujan, bagaimana jika kita menjawabnya sambil jalan-jalan di luar? Sembari menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dan rintikan gerimis. Sepertinya ini waktu yang pas untuk menyusuri jalan sembari melihat keindahan kota di kala hujan turun.

Agar tak sendirian, baiknya kita mengajak dua orang lagi untuk menemani kita berjalan. Oiya, pastikan dua orang itu telah membawa payungnya sendiri-sendiri. Selain agar tak kena hujan, hal itu juga dapat membuat kita tak perlu repot-repot untuk membawa payung dari rumah. Kita bisa bebas nebeng salah satu dari mereka. Toh, sudah ada dua payung. Tinggal pilih saja mau nebeng yang mana.

Hujan di bulan Desember memang selalu unik dan tak bisa ditebak. Terkadang turun dengan derasnya, tetapi juga tak jarang pula hanya rintihan gerimis serupa embun pagi.

Berjalan dengan dua orang yang sama-sama membawa payung di tengah rintik hujan membuatku jatuh pada sebuah dilema. Bisakah tiga orang berjalan lurus sejajar dengan dua payung tanpa berdesakan?

Jika pun bisa, paling hanya sampai hitungan menit ataupun detik saja, mengingat sepasang payung tersebut jika berdempetan pasti akan mengenai satu sama lain dan justru akan membuat kita menjadi susah bergerak.

Idealnya, salah satu dari pembawa payung harus ada yang rela untuk berada di depan. Satunya lagi mundur ke belakang. Karena kita satu-satunya individu yang tidak membawa payung, alhasil mau tidak mau kita harus mondar mandir dari satu payung ke payung lainnya secara bergantian.

Apa nggak capek bolak balik depan belakang? Capek nggak sih?

Capek memang. Solusi yang bisa ditawarkan adalah hanya menggunakan satu payung saja dan lipat payung lainnya. Gunakan satu payung untuk bertiga. Biarkan semuanya berada dalam satu kendali yang sama.

Perjalanan pun berlanjut. Sekali lagi, hujan di bulan Desember yang selalu tak tertebak membuat kita bertiga harus berdesakan karena berdiri di bawah payung yang sama secara beriringan.

Satu orang berkata: “Eh, geseran sedikit dong, sebelah kiri basah nih!”

Orang yang lain turut menimpali: “Geser kiri bisa nggak, di depan ada genangan air”

Siapa disini yang bakal bingung? Otomatis orang yang berada di tengah. Karena yang di posisi tengah selalu akan mengikuti baik itu ke kanan ataupun ke kiri.

Mungkin penyebab kita berdesakan karena memang payungnya terlalu kecil untuk bertiga. Kalau begitu, lipat saja payung kecil ini dan ganti dengan yang lebih besar agar muat untuk kita bertiga. Strategi itu nampaknya tidak berhasil juga. Karena payungnya terlalu berat, dibutuhkan tenaga lebih. Walhasil, payung ini harus ditopang dengan tiga orang sekaligus. Ironisnya, satu payung hanya memiliki satu pegangan.

Duh, serba salah.

Mari letakkan payung besar itu, kemudian buka kembali dua payung kecil tadi dan lanjutkan sisa perjalanan. Dengan kata lain, harus ada yang dikorbankan. Satu orang akan selalu bolak balik dan mondar mandir hanya untuk berteduh dari satu payung ke payung lainnya.

Melelahkan bukan?

Jadi, apakah kita disaat bersamaan dapat memiliki dua komitmen? Mungkin jawabannya bukan bisa atau tidak. Lebih tepatnya, pertanyaan lain justru akan muncul yakni: sanggup atau tidak?

Bisa dibilang, payung bagaikan sebuah komitmen. Payung memang diciptakan untuk melindungi orang di bawahnya dari hujan maupun panas. Namun, saat berjalan dengan tiga orang di bawah payung itu, tentu yang terjadi adalah keributan dan pertikaian. Hal ini lantaran masing-masing orang tersebut merasa memiliki dan berhak atas kendali dari payung tersebut.

Bukan berarti payung tidak bisa digunakan oleh lebih dari dua orang, tetapi akan cukup melelahkan jika harus menyesuaikan ego dari banyak orang hanya dalam satu payung. Bisa sebenarnya, asal orang-orang tersebut mau menurunkan ego dan bersedia berbagi.

Harus ada yang bersedia untuk berbasah-basahan terkena percikan air hujan karena disisi lainnya sedang menghindari cipratan mobil. Sedangkan jika menggunakan dua payung berbeda, justru kita sendirilah yang akan repot dan kehujanan karena harus berpindah-pindah payung, setidaknya seperti waktu di jalan tadi.

Kalaupun harus memilih, sepertinya cukup satu payung saja. Saya tidak merasa harus membutuhkan dua jika satu saja cukup. Meski harus menerima risiko terkena air hujan, saya pastikan bahwa hujanlah yang akan saya nikmati, bukan berebut dan berdesak-desakan yang tidak perlu.

Toh, berjalan di tengah hujan merupakan suatu hal yang romantis bukan? Apalagi jika berjalan di tengah hujan berdua. Bukankah lebih baik menikmati hujan berdua dibanding mengkhawatirkan perihal apakah kita semua terlindungi atau tidak?