Malam sedingin ini bawang merah ku habis, Bapak minta dibikinin nasi goreng. Aku menggerutu sendiri dalam hati, bukan karena disuruh Bapak, tapi kenapa bawang merah ku harus habis dimalam hari? 


Mengenakan jaket menjadi keharusan untuk menjaga suhu badan sebelum keluar rumah. Saat menyusuri gang, satu dua rumah tetangga masih menyala lampu ruang tamu nya, lebih banyak yang sudah padam. Jam 21.00 terasa sudah sangat malam di desa kami. Seolah sudah menjadi kesepakatan warga, jam 21.00 adalah jam istirahat. Hampir semua orang sudah beranjak ke tempat tidurnya.


Gang depan rumahku tidak cukup lebar, kira-kira hanya 1.5meter. Jangankan mobil, motor saja kalau papasan salah satu harus berhenti agar tidak menyenggol pot bunga milik tetangga. Meski di pedesaan rumah kami berhimpitan layaknya di perkotaan, karena keterbatasan kepemilikan tanah. Tidak semua orang desa adalah tuan tanah, lebih banyak buruh serabutan. 


Setelah dapat bawang merah, aku tidak sabar untuk pulang. Pikiran ku melayang ke banyak hal. Tiba-tiba hati dan pikiran didominasi oleh kegelisahan. 


"Ibu kenapa kok wajahnya ditekuk sambil nunduk gitu? Uang ibu jatuh?" Sapaan Bapak mengagetkan ku. Tanpa aku sadari, Bapak sudah di ambang pintu memperhatikan langkahku menyusuri lorong gang dengan langkah tergesa.


"Nggak pak. Uang ibu gak jatuh, gak papa." Aku menoleh kebelakang, tak sabar ingin melepas resah, menceritakan apa yang barusan aku lihat. Menyadari masih di lorong gang, aku memilih untuk diam. 


"Kok ibu terlihat terburu-buru?" Bapak bingung sendiri.


"Mari pak masuk, diluar dingin. Maaf bapak jadi nunggu lama. Tadi warung Bu Sarti tutup, jadi Ibu harus ke warung Bu Heni." Bukannya menjawab pertanyaan Bapak, aku malah langsung masuk ke dalam rumah. 




•••


"Anak-anak gak disuruh makan sekalian Bu?" Suara bapak memecah keheningan.


"Anak-anak sudah makan pak, sekarang sudah pada tidur." Kami hidup dengan dua anak, nomor satu seusia Sekar, nomor dua baru kelas 3 SMP. 

Wini, anakku yang pertama baru saja lulus SMA tahun ini. 


"Ibu mau ada yang disampaikan?" Bapak memulai pembicaraan.


Aku meletakkan sendok, tatapan ku kosong di atas meja. 


"Kok malah melamun." Bapak kembali menyendok makanannya.


Aku bingung mau memulai dari mana, tidak ada ide lain selain memulai dari apa yang aku lihat. Aku terdiam, mencoba mengatur nafas. "Tanpa sengaja Ibu tadi lihat Sekar dicium sama cowoknya di depan rumah." 


Bapak terdiam, menunggu diriku tenang. Tanpa sadar nada bicara ku bergetar. "Tepat di bibirnya pak." Aku menunduk, kemudian menitikkan air mata. 


"Kenapa Ibu menangis?" 


"Wini kemarin pergi dari pagi sampai sore, sama cowoknya." Suara ku masih terisak.


Ketara sekali bapak menghela nafas, "apa yang Ibu khawatir kan?" Bapak tetap dengan sikap tenangnya. 


"Ibu khawatir Wini seperti Sekar pak." Aku terdiam, pikiran ku kemana-mana. "Atau bahkan lebih." Aku mengatakan nya sangat lirih, hampir tidak terdengar. Karena tidak tahan untuk mengeluarkan kalimat itu dari kerongkongan, tenagaku tidak bersisa. 


Bapak juga terdiam lama, jelas sekali mempertimbangkan banyak hal. Bapak tidak pernah gegabah dalam menyikapi apapun yang terjadi, mau itu kabar gembira atau kesedihan. Mau kekecewaan atau kebanggaan, bapak selalu tampak tenang. Selalu mempertimbangkan setiap perkataan yang akan disampaikan. 


Bapak menggeser piring yang sudah kosong, "Ibu percaya kepada Sekar?" 


"Di tempat umum saja mereka berani ciuman pak, apalagi di tempat yang lebih sepi?" Bukannya menjawab pertanyaan bapak, aku malah menyerang bapak dengan pertanyaan.


Bapak kembali terdiam. "Itu bukan tempat umum Bu, itu halaman rumah Sekar." Bapak mengoreksi kalimatku. Aku hanya bisa terdiam dengan dadaku yang terus kembung kempis.


"Bagaimana cara kita melindungi anak kita pak? Bagaimana kalau anak kita juga ternyata sudah mulai melakukan hal-hal yang tak senonoh tanpa sepengetahuan kita?" Lagi-lagi aku tak mampu mengendalikan diri.


Aku gemas sekali melihat bapak minum dengan tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa. Apakah bapak tidak khawatir dengan Wini? Apakah bapak tidak terpikirkan sesuatu? Apakah perkara ini tidak membuat bapak resah? 


"Ehm." Bapak berusaha melonggarkan tenggorokannya. "Kalau Ibu percaya dengan Wini harusnya Ibu tidak khawatir seperti itu."


Aku menunduk, mencoba mencerna kalimat Bapak. 

 

"Kita tidak bisa selamanya, sepanjang waktu bisa melindungi dan mengawasi kegiatan anak kita Bu." Nada bicara Bapak menggantung, sengaja tidak diselesaikan.


Aku hanya melihat meja, tetap menunduk.


"Kita sudah menitipkan Wini ke sekolah agar dia pandai dalam hal akademik, kita juga sudah menitipkan wini ke ustaz agar dia belajar tentang baik buruk perilaku manusia, norma agama dan masyarakat. Setelah itu kita hanya bisa pasrah Bu. Yang pasti kita tetap harus mendoakan, semoga Wini selalu dalam lindungan dan bimbingan Tuhan yang maha kuasa." 


"Apakah tidak lebih baik jika Wini kita larang pacaran saja Pak?" Perlahan-lahan aku mulai mampu mengendalikan intonasi suara. 


"Bagaimana kita bisa memastikan bahwa Wini tidak Pacaran?" Kali ini bapak menjawab lebih cepat.


"Ya dengan melarang Wini pergi bersama cowoknya." 


"Sekarang Ibu tahu Wini pacaran karena cowoknya jemput ke rumah. Menurut bapak itu masih mending Bu, dari pada Wini dilarang pacaran terus cowoknya jemput di pinggir jalan besar sana. Hanya untuk menghindari bertemu dengan Ibu?" 


"Tapi kan setidaknya kita ada usaha Pak?"


"Bagaimana kalau nanti Wini pulang sore ngakunya belajar kelompok padahal pacaran? Ibu mau ngecek Wini kemana aja setiap hari? Ibu mau mengatakan itu dengan penuh kecurigaan kepada Wini setiap dia pulang sekolah?" 


Aku kembali menunduk.


"Selagi Wini masih ingin pacaran kita gak bisa mencegahnya Bu. Melarangnya hanya membuat dia semakin gak bisa diatur." Bapak menghela nafas. "Yang terpenting Wini tahu dimana batasnya. Kalau yang disebut pacaran adalah berusaha mengenal satu sama lain, dengan menghabiskan waktu untuk  berdiskusi, menurut bapak itu hal yang baik untuk mereka." Bapak kembali meneguk air putih nya.


"Menurut Bapak, yang dilakukan Sekar itu benar?" Tatapan ku menantang bapak. 


Bapak kembali terdiam, cukup lama. Bapak bahkan kini meninggalkan ku sendirian di meja makan. Meninggal kan ku dengan gejolak pikiranku sendiri.  Bapak kembali duduk di meja makan saat semua piring kotor sudah kembali bersih dan tertata rapi. 


"Ibu harus mampu mengendalikan perasaan, jangan berprasangka. Itu hanya akan menyiksa hati dan menyesatkan jalan pikiran Ibu. Kecuali Ibu melihat hal yang sama pada Wini dan cowoknya?" 


Untuk kesekian kalinya Bapak membuat ku tersadar, lagi-lagi yang membuat hari ku berantakan hanya sebuah kekhawatiran.