34804_33368.jpg
http://thecommunity.anglican.ca/everyday/12481/prayer-for-a-new-year/
Gaya Hidup · 8 menit baca

Aku, Kertas dan Perjalanan Hidup

“Kau membuatku mengerti hidup ini. Kita terlahir bagai selembar kertas putih. Hingga ku lukis dengan tinta pesan damai. Dan terwujud harmoni.” Begitu lah sepenggal lirik lagu dari grup band bernama Padi yang sedang booming saat itu. Lirik tersebut agaknya terasa syahdu dan nyata dalam menggambarkan kisah hidup penulis.

Selayaknya kertas, kehidupan telah siap menanti untuk ditulis dalam lembaran-lembaran kisah tak terlupa. Kertas pun telah menjadi saksi bisu atas peristiwa-peristiwa penting dan unik yang penulis alami. Tak terhitung sudah berapa banyak kenangan dan catatan penting terekam dalam jutaan kertas penuh makna tersebut dari kecil hingga usia penulis menginjak kepala dua. Satu demi satu akan penulis ulas dalam narasi di bawah ini.

Kertas dan Tantangan Masa Kecil

Cerita ini dimulai saat penulis sedang duduk di bangku sekolah dasar. Berbeda dengan sekolah lainnya yang menggunakan buku teks sebagai bahan acuan, sekolah dasar tempat penulis menuntut ilmu masih menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan belajar mengajar utama. LKS tersebut wajib dimiliki tiap siswa mulai dari jenjang kelas 1 hingga kelas 6. Menariknya, jenis kertas yang digunakan ialah kertas buram dengan kualitas yang buruk. Sungguh miris jika mengingatnya namun kenyataannya memang seperti itu. Meskipun demikian, semangat belajar penulis dan teman-teman sangatlah tinggi saat itu dan tidak berbeda jauh dengan semangat belajar siswa saat ini .

Waktu terus berjalan hingga penulis telah naik ke kelas 5. Saat itu, penulis diberi kesempatan untuk mewakili sekolah dalam rangka olimpiade sains antar kecamatan. Kebetulan subjek pelajaran yang diamanahi adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Bagi sebagian besar siswa, menjadi perwakilan sekolah dalam ajang olimpiade sains antar kecamatan ialah sesuatu  yang membanggakan sekaligus mengerikan. Sisi membanggakannya ialah mampu menjadi orang terpilih yang bertanggung jawab untuk mengharumkan nama almamter SD namun di disisi lain perwakilan sekolah harus mampu menjalin dan menjaga hubungan harmonis dengan guru kelas 6 lebih dini yang terkenal galak dalam setiap cerita kakak kelas maupun alumni olimpiade sains terdahulu. 

Saat itu pun datang. Saat dimana pertama kalinya kami sebagai perwakilan sekolah dikumpulkan di ruang kelas 6 dengan guru kelas 6 tentunya. “Horor!”, begitu lah kesan pertama saat memasuki ruang tersebut. Tak lama berselang, masuk lah seorang guru yang sudah tak asing bagi kami. Beliau mengucapkan salam dan langsung mengeluarkan suatu benda yang kami pun masih tidak tau jenis benda itu. “Kalian baca ini sekarang, 1 jam kemudian saya akan kembali lagi ke sini dan akan ada tes setelah itu”. Kami pun kaget dalam diam. Ternyata yang beliau keluarkan dari tas ialah buku-buku ringkasan materi yang beliau tulis dengan tangannya sendiri. Kami menyebutnya buku “utang” karena memiliki bentuk seperti buku yang dimiliki pemilik toko untuk mencatat utang pembelinya. 

Meskipun berisikan ringkasan, namun buku tersebut amat lah banyak dan mengandung istilah dan detail yang cukup banyak. Aku pun mulai pesimis dengan tes yang akan aku jalani setelah ini namun teman seperjuanganku yang lain memberiku semangat. “Ingat lah teman-teman, kertas-kertas dari buku utang ini lah yang menjadi saksi keberhasilan kita membawa nama baik SD ini. Kepada kertas-kertas ini juga lah kita seharusnya memberikan persembahan terimakasih setelah Allah, orang tua, dan guru kita”. Semangatku meningkat drastis, aku pun mulai menyukai buku dengan lembar-lembar yang rapuh itu. 

Satu jam kemudian guru itu kembali dan mengadakan tes dengan jumlah soal yang sangat banyak namun anehnya, hingga saat ini hasil tes itu tidak pernah dipublikasikan hasilnya. Hari pelaksanaan lomba pun telah dimulai dan hasilnya memang mengecewakan, aku tidak lolos untuk seleksi selanjutnya yaitu di kabupaten namun aku bersyukur dari situ lah aku mulai merasakan arti sebuah perjuangan dan kerja keras. Kertas-kertas dari buku utang itu lah yang menjadi saksinya.

Kegiatan perlombaan tersebut telah usai, selayaknya siswa SD lainnya, aku pun harus menempuh Ujian Nasional namun pada tahun itu istilah Ujian Nasional seperti istilah yang sering dipakai diubah menjadi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Kertas-kertas UASBN (lagi-lagi) menjadi saksi perjuanganku untuk lulus dari jenjang sekolah dasar hingga ku peroleh ijazah dan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional yang juga berbentuk kertas.

Kertas dan olokan dari orang lain

Selepas lulus dari SD, aku pun melanjutkan ke jenjang SMP. Namun anehya, pilihan SMP yang aku tuju bukanlah SMP yang memiliki gelar “favorit” di daerahku. Banyak yang menanyakan tentang alasan dalam pengambilan keputusanku itu namun aku memiliki alasanku sendiri yang memang tidak harus aku ceritakan pada orang lain. “Orang lain pun cenderung pragmatis dan menilai sesukanya sendiri tanpa memberikan celah pembenaran terhadap alasanku sekalipun”, batinku.

Bergaul dengan teman-teman yang dicap “nakal” dan berandal pun masih terus terdengar di telingaku dari mulut orang lain. Mereka mengkhawatirkan aku yang akan ikut-ikutan menjadi nakal pula. Namun aku memiliki persepsi terhadap diriku sendiri bahwa aku lebih kuat dari persepsi mereka. Sekolah di tempat tersebut nyatanya tidak berbeda jauh dengan sekolah lain menurutku, hanya saja mereka agak tertinggal dan lama dalam menyerap pelajaran. Meskipun demikian, mereka aktif untuk mengajakku berdiskusi terkait kesulitan mereka dalam materi-materi tertentu.

Tidak berbeda jauh dengan pengalaman SD, di SMP aku ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam ajang olimpiade sains. Kali ini bukan dalam skala kecamatan namun langsung skala kabupaten. Selama 3 tahun itu, setidaknya terdapat tiga prestasi besar yang mampu ku torehkan. Pertama, mengikuti olimpiade sains kabupaten untuk mata pelajaran fisika. Kedua, masih olimpiade sains namun mata pelajaran yang berbeda yaitu matematika dan terakhir Lomba Kompetensi Siswa Berprestasi. 

Dalam dua ajang olimpiade sains yang aku ikuti ini, hasilnya lagi-lagi mengecewakan dan belum mampu mengahrumkan nama SMP tercinta. Namun untuk Lomba Kompetensi Siswa Berprestasi aku mampu memperoleh pringkat pertama. Lomba tersebut terdiri atas tiga komponen penilaian yaitu tes tulis, pembuatan karya seni dan seni menyanyi. Jujur saja aku pesimis saat itu karena tidak menonjol di ketiga komponen tersebut namun guruku bernama Bu Sulfa meyakinkan aku dengan penuh semangat. Saat tes tulis, kugunakan pengalamanku saat SD untuk bisa berhasil yaitu dengan membaca materi untuk persiapan lomba tersebut setelah pulang sekolah minimal satu jam per hari. Hal tersebut aku lakukan terus hingga hari H tiba. 

Pada pembuatan karya seni, aku banyak sekali mencari sumber karya seni yang baik lalu dicetak dan ditunjukkan pada guru. Setelah berdiskusi panjang terkait karya yang dibuat akhir diputuskan untuk membuat bros mengingat guruku memiki keterampilan untuk membuat bros tersebut. Untuk menyanyi, ku pilih lagu daerah Madura yang aku kuasai dan indah untuk didengarkan kemudian mencetak lirik dan nadanya dalam sebuah kertas. Jika diingat sangatlah menggelikan mengingat kertas itu lah yang juga menjadi saksi atas kesumbangan dan kelucuan suara yang aku keluarkan.

Kertas dan pembuktian diri

Setelah pendidikan di SMP diselesaikan, ku putuskan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kali ini SMA yang aku pilih ialah SMA favorit di kabupatenku. Masuk di SMA tersebut nyatanya tidak sesulit seperti yang aku bayangkan dan orang lain katakan. Pertama kali masuk, aku beruntung dikumpulkan bersama teman-teman di kelas unggulan. Mendapat teman baru, saling berbagi dan menginspirasi, itu lah harapanku sejak awal namun kenyataan tidak seindah ekspektasi nyatanya. 

Setelah setahun berselang siswa dituntut untuk memilih konsentrasi apakah Ilmu Alam (IPA) atau Ilmu Sosial (IPS). Pilihanku jatuh pada IPS, lagi-lagi banyak yang mengherankan keputusanku namun seperti biasanya selalu ada rasionalitas dalam setiap keputusan yang aku buat. Jurusan ini merupakan jurusan dengan banyak sekali keluhan, komentar bahkan olokan untuk siswa di dalamnya entah dari guru, orang tua, siswa maupun masyarakat sekitar. Stereotype itu memang telah muncul dan terinternalisasi sejak dulu. 

Sebagai anggota di dalamnya aku pun tidak tinggal diam, aku mencoba untuk mengharumkan jurusan IPS dengan mengikuti kompetisi yang aku minati yaitu mata pelajaran ekonomi dan karya tulis ilmiah. “Lagi-lagi sepertinya memang kertas tidak bisa jauh dari kehidupanku hingga saat itu”. Bahkan pernah suatu waktu aku tertidur pulas dengan kondisi wajah tertutup buku lantaran terlalu lama membaca hingga mengantuk.” Kertas itu juga menjadi salah satu pelengkap cerita lucuku di saat SMA.

Kertas dan kehidupan yang lebih serius

Seperti kebanyakan siswa lain, aku pun juga mendambakan kehidupan perguruan tinggi yang penuh akan cerita, cinta dan nestapa seperti di sinetron. Oleh karena itu, ku putuskan untuk mendaftar untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun hal tersebut tidak semudah yang aku pikirkan, banya sekali berkas-berkas yang harus aku urus mulai dari berkas-berkas rapor hingga berkas-berkas pendaftaran bidimisi untuk menunjang hidupku di kampus tempatku menempa dan menimba ilmu nanti.  Semua berkas telah selesai dan tinggal menunggu pengumuman. 

Waktu pengumuman telah tiba dan aku dinyatakan lolos untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Rasa syukur tiada henti ku ucapkan pada yang Maha Kuasa untuk segala kemudahan yang diberikan dalam setiap langkah perjalanan hidupku selama ini. Aku pun tidak menyadari bahwa hidupku selama ini selalu diberi kemudahan dalam melaluinya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa bagi seorang yang biasa seperti aku. 

Hingga sejarah baru itu pun dimulai. Aku merupakan orang pertama dalam silsilah keluarga yang berhasil menempuh studi Sarjana. Meskipun demikian, bangku perkuliahan sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di bayanganku saat itu. Banyak sekali tugas yang harus dikumpulkan baik dalam bentuk esai, paper maupun naskah akademik lainnya. Iya, hal tersebut yang kemudian menjadikan frekuensi kebutuhan kertas semakin besar. 

Jujur saja, hal tersebut membuatku jenuh dengan kehidupan yang statis. Namun seiring berjalannya waktu ku temui ritme hidupku sendiri. Ternyata, semua rutinitas tersebut harus diimbangi dengan kegiatan menulis yang secara tidak sadar merupakan hobiku. Kucoba belajar menulis mulai dari mengikuti kompetisi esai, karya tulis bahkan artikel. Hal tersebut aku lakukan dengan penuh keingintahuan. Dari hobi terpendamku, ternyata aku makin menyadari ketergantungan terhadap kertas. Hal tersebut bukan suatu hal yang buruk mengigat jika hal tersebut bersifat positif dan merupakan hobi maka hal tersebut tidak akan menjadi masalah yang berarti.

Dari keseluruhan cerita di atas, penulis bahkan baru menyadari bahwa kehidupan penulis berkaitan erat dengan kertas dari kecil hingga seperti saat ini. Penulis sendiri merupakan satu dari sekian miliar penduduk di bumi yang masih membutuhkan dan bergantung pada kertas untuk menjalankan kehidupan sehingga peran kertas sangat lah penting tidak hanya untuk masa kini tetap juga untuk kini dan nanti. Belajar lah dari kertas karena dari situ lah kita akan mengerti tentang seni mewarnai hidup.