Aku benci berada di sini.

Ruangan itu dicat cokelat muda. Tirai berwarna putih menggantung cantik di tepi jendela, dengan tirai krem transparan melapisi bagian sebelum kaca. Alisa duduk di sofa biru tua. 

Di depannya, agak menyerong sedikit, seorang wanita muda berkerudung putih duduk di sofa serupa dan tersenyum padanya. Senyum itu adalah jenis senyuman ramah yang hangat, tapi Alisa tidak merasakan kehangatan itu sampai kepadanya. Suhu ruangan itu terlalu dingin, atau mungkin hanya Alisa yang kedinginan.

Alisa membuang muka. Tatapannya mengarah pada dinding kosong membosankan di ruang samping kanan, sama membosankannya dengan ruangan samping kiri yang hanya diisi oleh meja panjang, kursi, dan rak buku tinggi. Juga tidak lebih baik daripada dinding di belakangnya, tempat pintu dan jam dinding berdetak keras mengisi kesunyian.

Tadi, begitu tiba di tempat ini, Ibu menyuruh Elisa masuk sendirian dan bertemu wanita muda itu, yang memperkenalkan diri sebagai Annisa. “Bagaimana kabarmu hari ini, Elisa?” tanya wanita di depannya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas putih di alas papan. “Baik,” jawab Elisa, terang-terangan menunjukkan ekspresi terganggu. 

Annisa tersenyum dan menyerahkan pensil kepada Elisa. Wanita itu kemudian meminta Elisa untuk menulis nama dan usia, yang ditulis Elisa dengan Elisa Reisa Rahimi, 21 tahun—Elisa baru akan menginjak usia 22 tahun Oktober nanti.

Kemudian Annisa meminta Elisa menggambar pohon di salah satu kertas, menggambar orang di kertas selanjutnya, lalu menggambar pohon, rumah, sekaligus orang di kertas terakhir. Elisa tidak diberi jeda terlalu lama tiap kali menyelesaikan satu gambar dan melanjutkan gambar lain. 

Namun, Elisa menurut saja. Dia senang menggambar. Rasanya lebih baik disuruh menggambar daripada ditanya-tanyai. Elisa mendongak setelah menyelesaikan gambar terakhir.

Annisa menatapnya sambil tersenyum. “Sudah? Sekarang saya mau kamu mengisi ini.” Wanita itu memberikan lagi beberapa lembar kertas yang berisi butir-butir pernyataan. “Di setiap nomor, kamu akan menemukan beberapa pernyataan. Pilih salah satu yang paling sesuai dengan dirimu selama dua minggu terakhir. 

Nggak usah terburu-buru.” Elisa sudah berniat menjawab asal-asalan saat menerima tugas baru dari Annisa agar pertemuan itu cepat selesai, tapi urung dilakukan.

Ketika Elisa membaca setiap kalimat, gadis itu mendapati banyak sekali pernyataan yang sangat menggambarkan dirinya saat ini. Rasanya seperti ada seseorang yang memahami Elisa. Pernyataan tentang sering memikirkan bunuh diri itu sangat Elisa. 

Begitu juga dengan pernyataan bahwa saat ini dia merasa tidak memiliki masa depan. Juga pernyataan tentang membenci diri sendiri dan pernyataan tentang keinginan untuk menangis sepanjang waktu. Akhirnya Elisa memutuskan untuk menjawab dengan sungguh-sungguh.

Ketika selesai, Annisa mengambil kertas dan alas papan dari tangan Elisa. Annisa mengecek jawaban Elisa, sementara Elisa menyempatkan melirik sedikit ke arah Annisa untuk membaca name tag yang tersemat di baju wanita itu—Annisa Rahma, Psikolog. Psikolog. 

Bagi Elisa, psikolog dan psikiater adalah tempat orang-orang sakit jiwa berobat. Sekarang ibunya membawanya ke sini, dan Elisa tidak tahan untuk tidak berpikir bahwa ibunya menganggap Elisa sakit jiwa.

Elisa terkekeh pelan menyadari itu, lalu terdiam saat menyadari kalau itu mungkin saja benar. Mungkin dia memang sakit jiwa. Gelombang putus asa datang dalam sekejap dan membuat Elisa merasa kesedihan seolah ditimpakan padanya seperti banjir Nuh. 

Namun, dia tidak mampu menangis. Elisa sudah lama tidak menangis dalam keadaan sadar. Dia selalu menangis dalam mimpi-mimpi buruk yang belakangan sering hadir. Elisa tidak mampu menangis, meski sangat ingin melakukannya.

Namun, rasa putus asa itu tidak kunjung surut, membelenggunya seperti mimpi buruk yang tidak bisa dia akhiri, lalu pelan-pelan kesadaran Elisa menguap bersama keinginannya untuk hidup.

Aku ingin mati saja...

“Anna.”

Saat suara itu menerpa pendengarannya—dengan tegas dan intonasi yang tidak terbantahkan—Elisa mengerjap. Gadis itu kembali melihat ruangan serba cokelat dan raut wajah yang barusan memanggilnya. 

Untuk pertama kalinya dia terpaku menatap sepasang mata Annisa, dengan warna kecokelatan yang lebih gelap daripada sofa yang sedang Elisa duduki. Annisa sudah selesai mengecek pekerjaan Elisa dan menyimpan alas papan itu di pangkuan. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Kali ini Elisa bersuara tanpa sempat berpikir. “Saya memikirkan kematian.”

“Kematian siapa?”

“Saya sendiri.”

“Kenapa?”

Elisa tidak menjawab. Gadis itu juga berhenti berusaha mempertahankan tatapannya pada Annisa yang masih menunggu jawaban. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan tangannya mulai berkeringat. Setelah sepuluh menit berlalu dan Annisa bertanya lagi, Elisa tetap bungkam.

“Elisa.” Annisa tidak lagi menggunakan intonasi tak terbantahkan, suaranya terdengar lebih lembut. “Kenapa kamu memikirkan kematian dirimu sendiri?”

Tidak ada jawaban. Hanya ada desau pendingin udara dan detak jam dinding—juga detak jantung Elisa, jika Annisa bisa mendengarnya.

Hingga sesi itu berakhir belasan menit kemudian, Elisa tidak mengeluarkan sepatah kata lagi dari mulutnya.