“Sakit tapi tak berdarah” itulah luka yang lahir dari asmara, sebagaimana yang ku alami beberapa waktu belakangan. Jatuh ke dalam kubangan patah hati sehingga hidup menjadi uring-uringan, tak tentu arah tak tentu tujuan.

Aku rasa ada yang tidak beres pada kita akhir-akhir ini yang terlalu dingin satu sama lain. Tak ada lagi ucapan-ucapan hangat yang biasa kita hidangkan di pagi hari, juga tak ada lagi larik-larik harmonis yang kita tuang di malamnya.

Aku pikir kita butuh waktu untuk menyendiri, menepi sejenak sembari memuhasabah hubungan kita yang berjalan sudah bertahun-tahun lamanya. Barangkali kita butuh sejenak mendongakkan kepala atas diri kita masing-masing.

Namun aku tak paham, sebab apa kau menghilang dari hubungan ini. Tanpa alasan, tanpa kejelasan kau tak berkabar berhari-hari berminggu-minggu, meninggalkan sejuta tanda tanya dalam benak ini, atas perkara apa aku dikutuk sendiri ditinggalkanmu dengan kisah yang belum usai?

Duniaku menjadi padam, bahkan sangat kelam dari pada heningnya malam. Aku tersiksa oleh cinta, oleh pukulan batin yang kau sematkan di relung hati ini, sepanjang hari aku terkubur di dalam duka, di makan cacing-cacing kekecewaan yang menggerogoti batin ini.

Benar memang, ‘ditinggal tanpa jejak adalah level sesak hati tertinggi dari semua kekecewaan.’ Aku runtuh, aku sudah ambruk dalam kesendirian.

Luka yang lahir dari asmara memang amat menyayat, “Bak kesatria kehilangan pedangnya” istilah yang amat cocok disematkan pada diri ini.

Tanpa ada angin, pun tanpa hujan aku mendengar suatu kabar dari beberapa karib bahwa kau sudah bahagia bersama sosok pilihanmu di sana. Bak disambar petir di siang bolong, kabar itu benar-benar menyiksa batinku, mengoyak jala bahagiaku hingga tercabik-cabik.

Aku bagai diselimuti kabut-kabut kesedihan, dilumuri lumpur kegetiran, berhari-hari aku tak selera makan, susah tidur, bahkan suka melamun tak karuan pantangan. Kadang aku lupa bagaimana nikmatnya minum kopi di pagi hari ditemani pisang goreng panas di sebelahnya.

Beginikah rasanya di dalam neraka asmara? sesakit inikah rasanya kehilangan? Aku bahkan tak sanggup menjalani hari-hariku yang penuh kekecewaan. Aku rasa ini begitu timpang, kenapa harus terjadi padaku. Kisah cinta ini tak adil!

Aku sampai tak menyangka jika kau tega mengkhianati hubungan ini, lari dari masalah dan menyambung hubungan baru dengan orang lain di ujung belahan bumi bagian sana.

Bertahun-tahun kita rangkai hubungan ini dengan penuh kasih, kita rawat dengan penuh hikmat, lalu dijaga dengan penuh ketulusan. Tak ingatkah jika kita punya sejuta mimpi, seribu angan yang akan kita wujudkan bersama-sama kelak?

Begitu banyak memori yang terekam di sepanjang hubungan ini, hingga kisah-kisah di hari tua sudah sangat sering kita tuangkan dalam obrolan di setiap malamnya. Lalu begitu pula dengan keinginan-keinginan yang ingin kau gapai, dengan penuh semangat kau ungkapkan di hadapanku, adakah kau mengingat itu?

Atau bahkan kau sudah lupa dengan semuanya? lupa bahwa kita adalah sepasang kekasih yang telah melewati suka dan kedukaan bersama-sama dengan derai air mata yang sudah tak dapat dihitung dengan dua puluh jari yang dirangkai lalu disatukan.

Hari sudah berganti minggu, pun bulan telah berganti menjadi tahun, berkali-kali aku mencoba bangkit dengan luka ini, namun aku selalu gagal. Aku terus jatuh dan terperosok di dalam lubang yang kau buat, begitu dalam begitu curam.

Sejuta kata silih berganti datang memberi asa, sulit sekali rasanya bergerak. Kekecewaan ini begitu pilu, memberi bekas sebagaimana paku yang ditancapkan pada papan hingga mendalam.

Seandainya kebahagiaan itu sudah ada di benakmu kini, selesaikan dulu rasamu padaku dengan kepala tegak dan dengan sikap yang tegar. Tunjukkan jiwa malaikatmu, tuntaskan rasamu dariku bukan hilang tanpa jejak tanpa kabar.

Jangan biarkan tanda tanya di kepala ini merusak hari-hari yang harusnya berjalan dengan penuh senyuman berganti menjadi masamnya siksa kebatinan. Sungguh nestapa diri yang hidup di atas ambang ketidakpastian.

Aku beribu-ribu kali mencoba tegak dengan kepala dan lutut ini, tak sanggup jiwa menerjang karang yang isinya adalah ketidakjelasan hubungan kita. Kita belum usai! Kita belum selesai wahai kekasih.

Kini aku hanya meratapi bagaimana nasib seorang sepertiku sampai dibuat gaduh oleh kisah yang belum usai. Sampai kapan duka ini terus akan menyelimuti?

Di sela-sela malam di ujung patah hati, aku selalu menyesalkan atas apa yang terjadi pada kita, yang aku yakini kita adalah dua insan yang benar-benar belum mengakhiri hubungan ini.

Ya, kita belum selesai dengan perasaan ini. Aku masih mencintaimu! Bahkan pada dinginnya malam aku selalu berkisah bahwa aku selalu merindukanmu. Pun pada derasnya rintik hujan aku isyaratkan pula bahwa aku tetap dan selalu mencintaimu, hingga sampai detik ini.