2 tahun lalu · 677 view · 5 menit baca · Agama jaga-konvoi-fpi-agar-tak-rusuh-polda-metro-kerahkan-143-personel.jpg
Foto: merdeka.com

Aku Ingin Jadi Pembela Islam

Ya, aku ingin menjadi bagian dari FPI. ‘’Front Pembela Islam’’. Apa yang salah dengan membela agamaku sendiri? Bukankah suatu hal yang sangat wajar, seorang membela sesuatu yang dianggapnya benar. Malah terdengar aneh, bila ada orang yang tidak ingin membela Agama yang dipercayainya.

Islam tentu saja Agama yang benar menurut penganutnya. Seperti orang Kristen yang mengklaim kebenaran Kristus atau Buddhist meyakini jalan hidup mem-budha adalah jalan yang benar. Kebenaran tentu saja menurut versi masing-masing.

Satu hal yang perlu dicatat, dari semua klaim kebenaran masing-masing umat, satu yang saya pikir semua sepakat, yaitu tiap orang pasti membela kebenaran dan apa yang diyakini. Itu suatu yang alamiah dan merupakan tabiat dasar manusia.

Oleh karenanya, saya tegaskan bahwa saya ingin menjadi bagian dari ‘’Front Pembela Islam’’. Sebuah barisan atau sikap individu yang melindungi dan mencegah rusaknya Agama Islam dari perilaku yang tidak benar. ‘’FPI’’ tentu saja anggotanya tidak hanya para muslim yang terdaftar secara organisatoris-formal.

Siapa pun itu, asalkan Islam diyakini sebaga Agama yang mengajarkan kebaikan, lalu dia membelanya dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, sesungguhnya dia juga telah menjadi ‘’Pembela Islam’’. Mereka-mereka ini masuk dalam barisan ‘’Front Pembela Islam alias FPI’’. FPI bisa dalam bentuk formal-organisatoris atau nonformal-esensialis.

Ambil contoh, ketika banyak orang di dunia mengutuk ‘’Paris Attack’’ ‘’, bom di Belgia, Denmark dan beberapa negara Eropa, (pelakunya terbukti beridentitas muslim; muslim sebutan bagi manusia yang meyakini Islam sebagai pedoman hidup), dan mengaitkan Islam sebagai agama kekerasan (terorisme), masih ada orang nonislam yang malah bersikap sebaliknya.

Mereka membela Islam. Bahkan beberapa tokoh dunia secara terang-terangan emoh menuding teroris tersebut bagian dari Islam.

Saat banyak manusia pemuja kebencian menyudutkan Islam, Paus Fransiskus (Tokoh Katolik Dunia) dengan tegas mengatakan ‘’Terorisme sama sekali bukan Islam’’. Di saat rakyatnya mencela, mengejek dan menyudutkan, Angela Merkel mempertaruhkan popularitasnya demi menyelamatkan lebih dari 1 juta pengungsi (mayoritas beragama Islam). Dia malah menegaskan ‘’Islam adalah bagian dari Jerman’’ ujarnya dengan penuh kasih kemanusiaan.

Di tanah Amerika Serikat yang katanya musuh Islam nomor wahid, seorang wanita bernama Larycia Hawkins, Profesor di Wheaton College (kampus penyebar Agama Kristen di Negara Bagian Illinois, USA) rela dipecat karena pembelaannya atas hak muslimah untuk mengenakan jilbab.

Ketiga kasus di atas menegaskan, bahwa tidak hanya muslim saja, orang nonmuslim pun ada yang berpihak pada umat Islam atas nama persaudaraan umat manusia.

Mereka dengan santun dan bijak menjadi Pembela agama Islam. Ketika orang-orang tersebut membela Islam sebagai ajaran yang benar, saat itulah mereka-mereka itu secara otomatis menjadi bagian dari ‘’Front Pembela Islam’’. Yaitu suatu front, barisan atau golongan manusia-manusia yang membela agama Islam.

Logika pembelaan tersebut dibangun atas dasar kemanusiaan yang melewati batas-batas agama. Kita manusia, dia manusia, oleh karenanya harus saling memanusiakan. Manusia tentu saja mempunyai kelebihan dan keunggulan yang mampu menembus batas-batas. Kehendak manusia mampu melampaui border keyakinan, suku, negara dan pandangan politik sekalipun.

Untuk menjadi pendukung Manchester United misalnya, kan anda tidak harus menjadi penduduk wilayah Manchester atau Warga Negara Inggris. Dukungan dan kecintaan anda pada MU cukup menjadikan anda Supporter klub sepakbola tersebut. Status anda sebagai pendukung MU sama sahnya dengan warga kota Manchester yang mendukung klub tersebut.

Untuk menjadi penyayang binatang, anda tidak perlu menjadi binatang. Asalkan anda punya kepedulian dan semangat melestarikan binatang, maka anda sudah layak disebut Penyayang Binatang.

Begitu pula sebaliknya, meskipun anda tidak ikut mengangkat senjata, melempar granat, meledakkan rumah warga dan tercatat sebagai anggota ISIS, kalau sikap dan pandangan anda mendukung perbuatan teror tersebut, maka sesungguhnya anda adalah bagian dari teroris. Iya, dukungan anda mengamini terjadinya teror. Setidak-tidaknya anda bersimpatik atau melakukan pembiaran terjadinya teror yang keji tersebut.

Dari sana saya berpikir, bila orang yang bukan beragama Islam saja menjadi FPI atau bagian dari individu yang tergolong dalam ‘’Front Pembela Islam’’, kenapa saya yang menganut agama ini tidak demikian? bila sesuatu yang diyakini benar dijelek-jelekan orang lain, kita diam saja, itu malah terasa aneh. Makanya, saya ingin menjadi bagian dari ‘’Front Pembela Islam’’.

Tuhan tentu saja tidak butuh dibela. Bahkan orang yang berpikir Tuhan butuh bantuan, merupakan paham yang salah dan dekat dengan kesyirikan. Seolah Tuhan seperti lemah, terancam dan dirugikan sehingga perlu dibela.

Menjadi Pembela Islam adalah semata-mata sadar, bahwa ajaran Allah sejak diturunkan ke alam manusia, rentan diselewengkan. Manusia tentu saja punya potensi dan kemampuan untuk merusak Agama (ajaran). Maka yang relevan adalah membela Agama, bukan membela Tuhan. Kalau terpaksa bertempur, maka yang benar adalah berperang demi terjaganya kebenaran ajaran Agama, bukan berperang demi Allah.

Untuk dapat membedakan sikap aksiologis diatas, tentu butuh berpikir keras. Karena Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan, maka menjadi FPI harus dapat membedakan konsekuensi-konsekuensi piihan jihad diatas. Jangan sampai niatnya membela ajaran Islam agar terjaga kebenatrannya, malah terbelokkan seolah Tuhan butuh dibela sehingga ramai-ramai kita mesti menggeruduk umat lain.

Untuk sampai pada tingkatan berislam yang bijak, dibutuhkan akal sehat yang sepanjang waktu digunakan untuk berpikir. Saya tentu saja ingin menjadi Pembela Islam. Tapi menjadi FPI yang benar-benar membela Agama.

Sikap membela adalah sikap yang memposisikan diri dalam keadaan netral-benar, lalu menjumpai adanya penindasan atau serangan yang mengancam kebenaran (menurut versi yang kita yakini), maka saat itulah sikap netral-benar tersebut bereaksi (menjadi Pembela) dengan membela korban atau pihak yang ditindas.

Maka menjadi FPI yang baik tentu saja tidak memulai gesekan. FPI yang baik tidak memancing atau menyulut pertikaian. Merasa jadi korban atau bermental victim boleh-boleh saja, tapi ingat, ‘’merasa’’ diserang atau ditindas belum tentu benar-benar diserang dan ditindas loh.

Maksud saya, untuk mengetahui apakah hari ini di Indonesia, Islam sedang diserang, dihina, direndahkan dan ditindas (victim), harus benar-benar dikaji secara mendalam terlebih dahulu. Mengkaji (mencari kebenaran secara objektif) tidak menggunakan pentungan atau penggerudukan fisik, tapi memakai otak.

Untuk menentukan posisi Islam kita butuh kajian mendalam. Orang yang berpikir saja belum tentu menghasilkan kesimpulan benar, apalagi yang tidak berpikir. Bagaimana mungkin orang-orang yang kerjaannya terika-teriak, membubarkan acara oranglain atau merecoki diskusi kelompok lain dapat menemukan kebenaran, sedang dengkulnya lebih dominan ketimbang otaknya. Kita tahu untuk berpikir itu yang dipakai otak, pakai akal, bukan kepalan tangan.

Jadi, saya tetap ingin jadi FPI. Entah diformalkan dalam bentuk ormas atau tidak, itu tidak penting. Membela sesuatu tidak harus menjadi anggota organisasi ‘’Pembela’’. Dimanapun tempatmu dan apapun latar belakangmu, anda sah disebut ‘’Pembela’’ bila perilaku anda benar-benar mencerminkan ‘’Pembela’. Jangan sampai niatnya membela, tapi karena caranya salah, akhirnya menjadi Pencela.

#LombaEsaiKemanusiaan