Apa yang paling indah dari hidup serba berkecukupan? Pertanyaan itu muncul seperti biji tersemai di musim hujan dalam kepala Eki, perempuan pengagum senja yang memiliki jiwa sosial tinggi.

Memperhatikan sejumlah bocah mengotak-atik tumpukan sampah, ingatannya melayang ke gedung mewah milik para konglomerat. Eki melongo sebelum menelan ludah dalam-dalam. "Kalau saja mereka punya uang banyak, pasti mereka sedang di sekolah belajar matematika," bisiknya menggema di kepala.

Sebagai mahasiswi yang telat selesai kuliah, walau jurusan jurnalistik, dirinya sangat humanis. Sering berpetualang dan menemui banyak hal, termasuk kondisi sosial yang beragam. Tetapi dari sekian banyak pengalamannya, baru sekarang ia tampak begitu terperangah.

Penampakan dari objek yang dilihatnya benar-benar kontras dari tulisan-tulisan berita yang sering ia kutip dalam narasinya. Ia hanya sering menulis berita ceremony, sebelum ia menyaksikan kampung kumuh di tengah kota yang tak jauh dari rumah tante tempat ia menetap untuk kuliah.

Banyak hal tak terduga yang dilihatnya. Terutama kehidupan pemulung, kerja keras anak di bawah umur, hingga cara makan penduduk yang dikelilingi sampah.

Tebersit di benaknya, "Apakah mereka juga memakan sampah?" Sesegera mungkin ia hentikan prasangka buruk itu. Ia kembali menganalisis dengan rasional, "Mereka adalah korban pembangunan." Ia kata dalam hati sembari tetap tersenyum, mencoba mendekat dan berbaur.

Perempuan dengan usia baru menanjak 23 tahun itu segera merapat ke gubuk para pemulung. Beradaptasi dengan pendekatan emosional yang semula sering ia dapatkan materinya dari para senior di kampus.

Alih-alih pikiran Eki makin menjadi-jadi. Sebelum ia bertanya banyak, bayangannya mengangkang. "Kalau saja Abu Rizal Bakrie, atau Surya Paloh, atau siapa saja yang paling kaya mau berbagi, mungkin tempat seperti ini tak akan pernah ditemui di Indonesia." Kecamuk batinnya menggelora.

Makin merambah pikirannya, terlintas nama Jusuf Kalla, yang menguasai sebagian besar pemasaran mobil Toyota di Indonesia. Sebab beliau adalah orang Sulawesi, dari Kabupaten Bone. Sementara tempat yang dijajaki Eki adalah pusat kota Sulawesi.

Ia membayangkan bila para borjuis asal Sulawesi yang berperan di pusat Kota Jakarta mau berbagi. Sedikit saja kekayaannya diberikan pada anak-anak yang putus sekolah karena desakan ekonomi keluarga, pastilah apa yang dilihatnya tak akan pernah terjadi. Kemiskinan akan berkurang, tentunya.

Tetapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan harapan. Kekayaan para politisi di negeri ini bertahan, karena ada pemulung, ada petani, ada gelandangan. Merekalah korban akumulasi kapital dari para tokoh yang kerap kali dipuji-puji saat tampil di TV.

Kontroversi hati dengan pikirannya, Eki tak berlama-lama merenung. Ia melanjutkan tujuan selepas berbincang-bincang ringan dengan beberapa ibu-ibu di kampung tersebut.

Rencananya ia hanya berkunjung sejenak. Namun, lama-lama kenyaman mulai merasuki tubuhnya. Akhirnya ia memilih bermalam bersama mereka yang entah di kelas mana ditempatkan dalam struktur masyarakat Indonesia.

Seperti biasanya, setiap orang yang dilanda kepatahan. Tak terkecuali sebabnya karena cinta maupun broken home. Selalu mencari pelampiasan, demikianlah Eki memilih tempat kumuh itu.

Sebenarnya ia tak menyangka bisa sedikit lebih tenang saat berbaur dengan para pemulung. Di mana kesaksiannya selama ini, bila ada temannya resah dan risau, selalu memilih cafe, gunung, pantai sebagai pelebur peluh.

Namun, dirinya mencoba susana baru. Ia mengunjungi perkampungan kumuh yang kontras dengan kebiasaan temannya melepas penat. Dan ternyata jauh dari bayangannya, ia diam-diam merasa tenang dan damai bersama para pemulung itu.

Kebahagiaan anak kecil yang ikut dalam kerumunan anjing, kucing, botol-botol bekas membuat Eki sekejap lupa dengan segenap persoalannya, dari tugas kuliah hingga hubungan asmaranya yang malang.

Melihat keramahan, serta gigi mereka yang mulai menguning akibat jarang disikat saat tersenyum dan tertawa lepas, memberi energi positif pada Eki untuk melawan kepasrahan. "Kalau saja mereka bahagia, hanya dengan satu botol bekas, lalu kenapa masih banyak orang belum mampu bersyukur?" nasihat Eki pada dirinya sendiri.

Tak terasa waktu begitu singkat berlalu. Eki sudah mulai merasa tempat itu adalah bagian dari dirinya. Antara pulang makan enak, tidur nyenyak di atas kasur empuk dengan tinggal berlama-lama berbagi cinta kasih pada mereka yang nama presidennya pun tak pernah diingat.

Menginta pergolakan politik, pertarungan saham, perebutan kedudukan, memaksa Eki masih menetap di tempat itu. Menemani anak kecil bersuka ria, sesekali memotret dan memberikan cerita mitologi Yunani, sekadar upaya agar pendengarnya terus tertawa gembira.

Bersama dengan mereka, Eki jadi ingin menjelma wujud jadi anak-anak kembali. Tanpa jatuh cinta, jauh dari patah hati, dan tidak terbebani bayang-bayang penindasan akibat belar nalar kritis.

Energi kebahagiaan mengalir dalam nadi. Eki baru menyadari kuatnya pengaruh sesama saat saling berbagi. Ia pun mengerti makna senyum dan tawa, semangat serta kegembiraan para pemulung: Bahagia bisa ditemukan dengan banyak cara, bukan semata karena cinta.

Tak terasa sudah hampir sebulan ia bersama dengan para pemulung di kampung kumuh itu. Ia belum pernah menyinggung soal kepulangannya, sebab kebersamaan telah mengikat. Ia seperti serangkaian keluarga harmoni dengan penduduk setempat.

"Aku ingin jadi anak kecil, hidup sederhana dan selalu bahagia," singkatnya sebelum ia bertolak dan menghilang dari hadapan wartawan.