Suara motor vespa terdengar berisik kala memasuki halaman parkiran kampus. Suara motor yang khas dan sudah bisa ditebak kalau itu adalah Ikal Arya Aksara atau biasa disapa Ikal, mahasiswa akhir disalah satu perguruan tinggi swasta.

Ia datang dengan sangat tergesa-gesa sampai lupa merapikan rambutnya yang terurai hingga punggung.

Bukan apa-apa, ia datang untuk memenuhi panggilan Rektor terkait permasalahannya dengan Panitia Ujian Skripsi yang enggan mengikutsertakannya dalam ujian tahun ini.

Beberapa hari yang lalu, Ikal sempat adu mulut dengan Panitia Ujian lantaran namanya tidak ada dalam daftar mahasiswa yang akan mengikuti ujian skripsi semester ini hanya karena ia enggan memangkas pendek rambutnya.

“Ini sudah peraturan. Jika ada mahasiswa yang menolak untuk memangkas rambutnya alias berambut gondrong, maka ia tidak diperkenankan mengikuti ujian skripsi tahun ini” Ujar Panitia Pelaksana sesaat setelah Ikal bertanya perihal namanya yang tidak tertera dalam daftar mahasiswa yang akan mengikuti ujian

“Kenapa kampus turut mencampuri hal-hal yang sifatnya menjadi hak mahasiswa. Makanya pak kalau buat peraturan itu harus melibatkan mahasiswa karena yang merasakan dampak dari peraturan tersebut adalah mahasiswa, jangan hanya seenaknya saja membuat peraturan ini dan itu” balas Ikal yang masih berusaha untuk tenang

Baca Juga: Derita Gondrong

“Mencampuri? Justru pihak kampus telah mendorong kamu untuk bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat dan juga lingkungan sekitar, salah satu caranya ya mulailah dengan memperbaiki penampilan luar terlebih dahulu” balas Panitia Ujian yang sudah mulai naik pitam

“Kalau penampilan menjadi tolak ukur baik atau buruknya seseorang di mata masyarakat, terus kenapa masih terlalu banyak orang-orang yang berpakaian rapi dan berdasi namun ujung-ujungnya terlibat kasus korupsi. Tidak ada kaitannya antara otak dengan rambut” bantah Ikal

Dan perdebatan Ikal dan Panitia Ujian pun berakhir dengan kata

“Keluarrrr......” terlontar dari Panitia Ujian yang sudah muak meladeni Ikal

Perkara ini akhirnya sampai ditelinga Rektor dan juga menjadi perbincangan di kampus, karena itulah Ikal mendapatkan panggilan untuk menghadap.

Puluhan pasang mata turut mengantar Ikal menuju ruangan Rektor. Bukan apa-apa, Ikal adalah satu-satunya mahasiswa yang berani buka suara dan menolak peraturan tersebut.

Ia berkeyakinan bahwa ada banyak mahasiswa yang sebenarnya juga tidak setuju dengan peraturan tersebut tapi karena tidak ada keberanian akhirnya mahasiswa tersebut memilih untuk bungkam.

Yang dibutuhkan mahasiswa saat ini adalah percikan api untuk membakar keberanian dalam menyuarakan apa yang tak sesuai kehendak.  Seperti itulah keyakinan Ikal selama ini

Sebenarnya bisa saja Ikal mengambil jalan ‘aman’ yaitu dengan mencukur. Tetapi karena Ikal menilai bahwa peraturan tersebut tidak masuk akal, makanya ia menolak untuk patuh.

Ikal sendiri cukup populer dikampus. Selain karena prestasinya yang segudang dibidang debat, saat ini ia juga masih menjabat sebagai Ketua Umum di UKM Mahasiswa Pencinta Alam.

Karena pertimbangan itulah, Rektor memberikan Ikal keringanan yakni bisa mengikuti ujian tapi dengan catatan harus meminta maaf kepada Panitia Ujian karena sikapnya yang tempo hari dinilai telah melewati batas dan yang kedua bersedia membuat surat pernyataan untuk memotong rambutnya setelah ujian.

Negosiasi antara Ikal dan Rektor rupanya tidak menemui titik terang. Ikal tetap pada pendiriannya yaitu menolak meminta maaf kepada Panitia Ujian skripsi karena merasa tak bersalah dan yang paling utama ia tetap tak ingin memotong rambutnya karena menurutnya belum ada alasan yang masuk akal tekait adanya peraturan (dilarang gondrong) tersebut. Jelas, keringanan yang ditawarkan oleh Rektor ditolak mentah-mentah.

“Bapak ini seorang terdidik. Tak sepantasnya untuk menilai seseorang hanya dari tampilan fisik. Dulu kita digiring untuk beragam, tapi kenapa sekarang kita seolah dipaksa untuk seragam. Terima kasih pa katas segala kebijaksanaannya” Tutup Ikal dan langsung keluar dari ruangan Rektor

-ooo-

Karena tak ingin kejadian tadi siang terus membebani pikirannya, malam ini Ikal memilih menghabiskan waktu di Kedai Inspirasi sembari menyeruput kopi.

Kedai kopi yang selalu menjadi tempat utama berkumpulnya komunitas-komunitas gondrongers dan juga orang-orang yang memiliki kegemaran bertualang untuk sekadar berbagicerita, ide, gagasan atau mendiskusikan kegiatan yang akan dilakukan.

Tak seperti biasanya, Ikal tampak sengaja tidak bergabung dengan teman-temannya yang lain dan lebih memilih sendiri disudut kedai yang dipenuhi quotes-quotes dari tokoh besar.

Dengan jari-jarinya yang lihai, ia memainkan tuts keyboard laptop ditemani senandung lagu Kuingin Gondrong dari Natinson. Ia mencurahkan segala yang ada dikepalanya

-ooo-

Entah mengapa, diera sekarang ini. Orang-orang masih saja menilai dari apa yang ia lihat. Bahkan sebelum mengenal nama pun, orang sudah memberi penilaian dari sebuah penampilan.

Urak-urakan, penjahat, berandal, pemberontak, pemabuk, bajingan, kriminal adalah hal yang masih saja ada dikepala kala melihat sosok yang berambut gondrong.

Rupa-rupanya orde baru cukup memberi andil dalam menanamkan segala stigma tersebut ditengah-tengah masyarakat melalui media-media massa, televisi dan film pada awal 1970-an. Acap kali pula penjahat digambarkan dengan ciri khas berambut gondrong.

Stigma tersebut juga masih menjalar didunia pendidikan. Tak ayal, birokrat kampus yang memiliki kuasa dan alat legitimasi pun membuat aturan seenak perut dengan melarang mahasiswa untuk berambut gondrong.

Lalu, sudahkah kita berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan kata Pramoedya Ananta Toer?

Terlalu dini bagi orang-orang yang terus menilai dari satu sisi dan menyimpulkannya dalam semua segi. Seolah orang yang berambut gondrong tak pernah berbuat sesuatu hal yang begitu bermanfaat.

Demikianlah manusia, kadang setitik keburukan akan jauh lebih mentereng ketimbang segudang kebaikan, seperti mudahnya mengingat kesalahan dan sulitnya mengingat kebaikan.

-ooo-