Kekasih, kita adalah pelaut. Masing-masing dari kita menjadi pelaut. Sepasang pelaut yang berjumpa dalam mengarungi lautan. Entah darimana kita berasal, kita akan menjadi pelaut yang saling cemburu oleh rindu.

Rindu yang terperangkap dalam perahu-perahu kecil. Bagaimanapun, kita akan mendayung-dayung seolah waktu cepat berlalu, sekedar bertemu, menuntaskan rindu. Rindu yang membuat lautan merasa cemburu.

Berlayar tanpa arah, mengandalkan angin untuk berlayar ke pelupuk senyummu. Bagaikan burung-burung camar yang terbang dengan gelisah. Aku pun terlelap dalam selimut terang rembulan yang bulat. Namun tidak sebulat kedua bola matamu yang kuingat selalu.

Gemerlapan bintang-bintang yang entah jumlahnya, tak sempat ku hitung karena aku selalu terbayang-bayang oleh jumlah pertemuan kita yang singkat oleh takdir. Panorama lautan yang berupa awan-awan yang bergelombang, mengingatkanku pada rambutmu itu.

Ikan-ikan yang menari-nari dalam lautan, bagaikan rayuanku yang selalu membuatmu tersipu malu. Kekasih, barangkali kehidupan memang kejam, memperkenalkan kita dengan begitu erat, namun seketika berakhir menjadi saling merasa asing.

Ombak-ombak yang menerpa perahuku, kekasih. Mengingatkanku akan suaramu yang membuatku semangat dalam menjalani kehidupan, kekasih. Getaran-getaran yang tak pernah kurasakan selama berlayar, sendirian.

Sunyinya lautan, tak begitu terasa seperti hidup tanpa adanya dirimu, kekasih. Nyaring bunyi angin yang mendesir di telinga, seakan-akan menjadi pelipur lara seorang pelaut yang sedang menyebut-nyebut nama kekasihnya dalam kesunyian lautan.

Barangkali pelaut itu butuh untuk sekedar menepi di sebuah pantai. Ditemani oleh segerombolan pohon kelapa yang dipenuhi oleh kelapa-kelapa matang. Namun seberapa banyak kelapa-kelapa itu kuminum, tak mampu menghilangkan dahaga rindu yang memburuku.

Pantai-pantai yang ku kunjungi, lagi-lagi tak se-banding dengan senyummu yang menawan itu. Senyuman yang membuatku lupa akan siapa diriku yang sebenarnya. Senyuman yang paling memabukkan yang pernah kutemukan. Betapa beruntungnya aku pernah mengenalmu. Meski perpisahan adalah sebuah jawaban.

Tiada yang se-banding dengan senyumanmu, kekasih. Keindahan yang tak pernah lekang dalam ingatan. Abadi berlabuh dalam kenangan, menjelma sebagai candu yang ku butuhkan selalu. Tanpanya aku merasa rindu, tanpanya aku dalam bayang-bayang hampa.

Kekasih, kupandangi langit yang luas itu, langit yang sama dengan yang engkau pandangi juga. Setidaknya di situ langit menyisakan secercah obat penyembuh bagi luka yang tergores oleh waktu.

Pasir-pasir di pantai yang lembut, namun tak selembut sentuhanmu itu ketika engkau memelukku dengan mesra. Kekasih, lalu kulihat kepiting-kepiting yang berjalan beriringan seperti Nampak kita dahulu di sepanjang jalan.

Kekasih, ingatkah engkau dengan itu? Pelaut ini masih mengingatnya dengan tabah, setabah batu karang di lautan, meskipun perahu harus tetap berlayar di tengah lautan. Bagaimanapun, berlabuh ialah perihal tentang kesetiaan.

Air lautan yang asin, kuminum sesekali, walaupun tak se-asin kata-kata pisah darimu. Kubasuh air itu dengan sungguh-sungguh, agar pelaut ini tersadar oleh kenyataan denganmu. Bagai serpihan-serpihan perahu yang karam.

Penderitaan ketika terombang-ambing dalam lautan, tak sebanding dengan kehadiranmu yang telah berlalu. Kian cepat aku mendayu, kian jauh dari jangkauanmu, kekasih. Tangan manis yang membuatku merasa tenang.

Pelabuhan mana yang akan ku tuju pun aku tak tahu, karena tak menemukanmu. Tak ada yang melambai, tak ada yang memanggil namaku. Aku pun kembali ke lautan yang sunyi oleh keramaian.

Betapa membosankan berada dalam keramaian, namun tak ada suaramu sama sekali. Buat apa kekasih? Dimana keteduhan itu?

Kadang kala di tengah lautan, langit bermelodi dengan rintik-rintik hujan yang membanjiri perahuku dengan sekejap. Barangkali langit ingin menyisakan kegembiraannya padaku, kekasih. Namun, jangan khawatir padaku, aku pun tak sendiri, karena selalu ditemani oleh namamu yang telah berlabuh dalam sukmaku.

Betapa langit telah menghidupkan kembali kenangan-kenangan kita dengan badai-badai di lautan, yang mengingatkanku tentang kita yang pernah menepi berdua di sebuah tempat dalam waktu yang lama dengan perbincangan-perbincangan manja.

Kekasih, lautan memang hanya berupa air yang dipenuhi oleh kehampaan. Namun tak se-hampa apa yang kurasakan ketika mengingat dirimu yang telah berjalan menjauh. Setidaknya dalam lautan, pelaut dapat belajar akan arti kehampaan yang sejati.

Kekasih, bukankah engkau adalah pengisi kehampaanku, menjadikanku lebih bermakna. Seolah-olah apa yang berada dalam diriku, telah menjadi bagianmu. Bahkan ketika engkau memilih untuk berjalan dengan pelaut lain.

Kekasih, kita memang telah berlabuh dengan arah yang berpisah di persimpangan semenanjung. Aku pun tak tahu engkau akan berlabuh ke  mana, dan engkau pun tak tahu aku berlabuh di mana.

Kekasih, kisah kita telah mewarnai lautan menjadi biru dipenuhi oleh rasa saling cemburu dan rindu. Lalu apakah angin akan membawa kita untuk berlabuh bersama, lagi? Barangkali itu hanyalah sebuah kemungkinan semata, yang dapat terjadi dan sebaliknya.

Aku akan tetap berlayar, kekasih. Mencari perlabuhan yang paling teduh. Walaupun di sana ku menemukan keberadaanmu ataupun tidak sama sekali.