Aku ingin punya uang - Uang yang banyak. Aku ingin memiliki aneka macam kebutuhan sebagai penunjang hidupku sehari-hari. Semenjak delapan bulan yang lalu, dempetku semakin menipis. Isinya semakin kesini semakin mengering. Mainan yang aku janjikan ke kedua ponakan mungilku dua bulan yang lalu batal  kubelikan. 

Aku jadi malu karena mereka selalu saja ingat dan menagih janjiku di usia yang sebelia itu. Sisa uangku sudah kualokasikan untuk membeli paket data bulanan yang oleh generasi sekarang dianggap jauh lebih penting dari pada makan dan berdandan. Gara-gara uang, harga diriku jatuh di depan kedua ponakan.

Aku ingin punya pekerjaan. Aku ingin bekerja seharian yang tak kenal larut tak kenal malam agar lekas menghasilkan banyak uang. Pekerjaanku hilang menyusul setelah kepergian sang uang. Kerja dan uang memang tak pernah mau dipisahkan. 

Gak kerja, ya, gak ada uang. Sekarang, pekerjaan idamanku adalah serabutan. Kerja serabutan yang aku idamkan rupanya diidamkan juga banyak orang. Alhasil, yang tadinya serabutan jadi semrawutan. Pikiranku mulai semrawut memikirkan uang dan pekerjaan.

Aku ingin keluar. Ya, sekadar jalan-jalan santai sebagai bentuk hiburan. Tapi aku tak ingin berniat keluar berlibur yang melibatkan pemerosotan finansial karena uang jajan. Tidak. Hal itu sama saja dengan penipuan. Memanjakan diri sesaat lalu melarat kemudian. Sudah miskin, tertimpa tangga pula. 

Aku ingin keluar sebentar saja agar problematika materi dan profesi tak melulu menghantui. 

Aku ingin bebas bernafas di udara lepas. Tapi aku ini taat peraturan. Aku sadar bahwa ada konsekuensi sekarat di balik kata nekat. Jangan sampai karena hidup yang kini mulai tak terkontrol sudah berani kurang ajar untuk tak mematuhi protokol.

Aku ingin berdiam diri. Aku ingin merebahkan penat di atas ranjang tidurku. Kurasa di sini jauh lebih aman. Aku bisa dengan leluasa melihat hidung dan mulutku bertelanjang bulat. Mereka sudah terlalu lama memakai baju biru muda mirip kutang dengan satu bungkusan yang kedua talinya dikaitkan ke telinga. 

Aromanya terlalu jigong. Tak kalah jigong dengan aroma dompet yang hambar. Sehari dua hari rebahan, aku mulai muak dan mual. Tak ada aktifitas pendamping. Tak ada bahan logistik sebagai penunda kelaparan. Yang ada hanya aku dan buku. 

Smartphone-ku yang setia mulai berlagak acuh tak acuh. Masak sekadar mengirim pesan ‘hai’ ke pacar saja pelitnya minta ampun. Sepertinya si kampret memang maunya dijual. Lumayan buat jajan.

Aku ingin membaca, membaca apa saja. aku ingin membaca koleksi buku-buku yang berserakan di rak kamar untuk kubaca ulang. Gara-gara mereka juga aku kehabisan uang. Alih-alih mendapat pesan informatif, hari-hariku habis dengan gombalan-gombalan semu yang tak bertuan. 

Kali ini, aku benar-benar ingin mengupas tuntas isi-isi buku yang berserakan. Kali aja ada halaman-halamn yang mengajarkan kiat-kiat menjadi sukses, menolak stress, atau menambal perut kempes. Sudah berjam-jam menyusuri halaman demi halaman, rasa ngantuk datang. 

Maklum, hanya mataku saja yang beraktifitas, setengah sadarku sudah terlepas. Aku capek, penat, bosan. Sesekali aku mencoba mencari benda-benda mungil yang siapa tahu bisa menjadi teman mata beraktifitas.

Aku ingin menulis. Aku ingin menulis apa saja – tentang siapa saja. Aku ingin jari-jemariku bergerak bebas. sudah lama mereka keram karena malas. Bisanya cuma makan, minum dan membersihkan lubang dubur saja. seskali, aku ingin mereka menjelma profuktif di masa-masa pasif. 

Kali aja berbuah tip dari tumpukan catatan yang bertarif. Tapi, lagi-lagi, rasa lapar dan bosan menjinakkan hasrat untuk melawan. Kepala bersikeras sementara sekujur badan mulai melemas. Alhasil, yag tadinya berniat menulis malah sibuk garuk-garuk penis.

Aku ingin berkabar. Aku ingin memberitahu semua kisanak bahwa aku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Aku merasa setengah sadar setengah gila. Kamar yang dulunya sejuk kini menjelma kantor, tempat sekolah, rumah ibadah, , tempat bermain, pusat pertukaran nasib yang flaktuasi. 

Ia tak ubahnya seperti pemandangan ibu kota yang kumuh dan suntuk. Seskali, aku pernah kedapatan memikirkan hasrat birahi. Menjadi penyendiri  rupanya rentan menjerumuskan kita pada bahaya colisinasi.

Aku ingin memeluk. Aku ingin memeluk siapa saja sebagai tempat untuk berlindung dari kekejaman sepi. Aku benar-benar butuh seikat lengan yang mampu menopang runtuhnya semangatku, seikat lengan untuk melumpuhkan ketidakwarasanku, seikat lengan untuk membersamaiku bercumbu dari derasnya aliran safsu. 

Nyatanya, hidup memaksa lengan untuk saling melerai renggang. Mereka dilarang berpelukan. Jarak harus dibentangkan. Tak boleh ada sentuhan antar tangan. Jika membangkang, embrio baru yang tak kasat mata akan membumi-hanguskan kinerja pernapasan -  lalu mati perlahan.

Aku ingin bercerita. Aku ingin sepasang telinga mendengarkan jeritan seorang lelaki yang sedang berada di ambang kematian. Aku ingin sepasang telinga mendengar suara nafas yang menjerit ketakutan. Lagi-lagi, yang diundang malah tak menggubris tak mendengarkan. 

Mereka juga sibuk kesepian bersama masing-masing tuannya. Rupanya tidak hanya aku saja yang sedang mendekam sepi menuju kematian, yang lain juga. Ah, aku jadi sedikit lega rasanya.

Aku ingin ragu, tapi malu. Aku ingin ragu akan keberadaan si benalu, tapi aku malu sendiri melihat pola tingkah masyarakat yang ketakutan dan bersembunyi. Aku ingin ragu mengakui eksistensi pandemi, tapi aku malu sendiri melihat pola tingkah pemerintah yang sedang giat-giatnya membasmi. Aku pun mulai menanam percaya, lalu yang tumbuh adalah rasa takut untuk mati.