Saya bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri. Saya menafkahi keluarga saya dari hasil penjualan kayu akasia yang diolah menjadi kertas.

Perusahaan tempat saya bekerja merupakan mitra pemasok bahan baku APP Sinar Mas bernama PT Bumi Andalas Permai Distrik Sungai Jelutung. Distrik ini memiliki sekitar 100 karyawan. 

Lika-liku pekerjaan silih berganti dihadapi. Saya akan memulainya dengan kisah pribadi.

Suka dan duka telah banyak saya alami bekerja di sini. Saya mulai bekerja pada tanggal 21 Februari 2018 sebagai Sosial & CD, meski banyak yang belum saya pahami mengenai dunia sosial ini.

Pertama kali saya tiba di mess perusahaan, saya menemui seseorang yang bernama Ahyaudin. Ia juga bekerja di bidang sosial.

Ahyaudin lebih senior dari saya. Ia mulai bekerja tahun 2009. Darinyalah saya banyak belajar mengenai ilmu tentang sosial. Berlatar belakang pendidikan ilmu komunikasi sosial dan agama, jadi wajar kalau ia sangat menguasai dunia itu. 

Berbeda dengan saya yang berlatar belakang pendidikan pertanian. Hanya saja, saya pernah memiliki pengalaman organisasi di kampus dalam bidang sosial. Bekal ilmu yang saya miliki sangat jauh jika dibandingkan dengan Ahyaudin.

Di minggu pertama, saya belajar mengenai administrasi kantor. Di minggu kedua, saya belajar memahami karakteristik masyarakat yang saya bina. 

Masyarakat yang saya bina adalah masyarakat kampung Sungai Pitis, Jelutung, Rasau. Ketiga kampung ini terpisah secara administratif: Pitis dan Jelutung masuk dalam Desa Bukit Batu, sedangkan Rasau masuk dalam Desa Riding yang berjarak sangat jauh ke desa induk.

Saya bertemu dan berdiskusi dengan ketua kampung Pitis, Sulaiman; Jelutung, Sudirmin; dan Rasau, Kodiansyah. Dari hasil diskusi saya, masyarakat di ketiga kampung ini banyak merasakan hal yang positif dengan berdirinya perusahaan Hutan Tanaman Industri ini.

Masyarakat dulu, jika mau bepergian, harus melalui jalur air dikarenakan wilayah ini dulunya adalah wilayah perairan. Dengan adanya perusahaan, banyak akses-akses darat yang dibangun oleh perusahaan. Hal ini mempermudah masyarakat untuk bepergian.

Selain itu, perusahaan juga selalu aktif berperan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di kampung, di antaranya ikut membantu secara penuh, baik berupa bantuan biaya pelaksanaan maupun menyediakan pembicara pengisi kegiatan.

Perusahaan juga membantu membangunkan tempat ibadah yang diperuntukkan untuk beribadah dan juga untuk kegiatan belajar Alquran bagi anak-anak kampung.

Perusahaan juga membantu menyediakan guru di ketiga kampung ini. Guru ini diberi honor atau bantuan insentif oleh perusahaan di setiap bulannya.

Masyarakat sangat berterima kasih dengan adanya bantuan dari perusahaan. Masyarakat yang dahulu kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat, kini merasa diayomi dengan adanya program-program CSR dari perusahaan.

Itulah sebabnya saya suka bekerja di perusahaan ini. Saya berpikir, "Kapan lagi saya bisa membantu orang dengan menggunakan uang orang (uang perusahaan)?"

Selain kisah suka bekerja di bidang sosial ini, saya juga banyak merasakan duka dan kesulitan. Pada musim hujan, saya kesulitan jika harus ke kampung, dikarenakan jalan ke kampung binaan adalah jalan hitam yang lengket dan membuat ban sepeda motor penuh dengan tanah.

Saya sering terjatuh ketika berkendara. Begitu sulitnya perjalanan yang saya tempuh dari kantor distrik menuju kampung. Lebih kurang sejauh 13 km perjalanan jarak antara distrik ke kampung.

Pada suatu ketika, saya pernah kerja sampai larut malam karena ada hajatan di kampung. Saya membantu dan juga menghadiri acara hajatan tersebut.

Saya pulang dari kampung sampai larut malam, tepatnya pulang pada pukul 23.00 WIB. Di perjalanan pulang, suasana sangat mengerikan. Hanya tampak lahan akasia di kiri jalan dan tampak lahan sawit di kanan jalan. Kesunyian malam begitu terasa sangat mencekam.

Selain itu, sering saya temui perbedaan pendapat dengan masyarakat, antara keinginan masyarakat dan persetujuan dari pimpinan yang membuat saya kesulitan karena saya harus adil berdiri di dua kaki.

Satu kaki, saya berdiri di masyarakat kampung; satu kaki lagi, saya berdiri di perusahaan.

Pernah suatu ketika saya memiliki program pemberdayaan masyarakat. Program itu adalah Masyarakat Peduli Api (MPA). Program ini menggandeng pihak masyarakat untuk bersama-sama dengan perusahaan dalam menjaga dan melestarikan hutan tanpa api. Hal ini saya lakukan ketika memasuki musim kemarau yang bertujuan agar terhindar dari peristiwa kebakaran. 

Awalnya saya diutus oleh perusahaan untuk mencari 8 orang untuk menjadi MPA. Keesokan harinya, keputusan management berubah. Management hanya membutuhkan 4 orang MPA. Hal ini dikarenakan akan adanya bantuan personel pemadam kebakaran dari Palembang.

Dengan adanya hal ini, menjadi dilema bagi saya dan bola panas ada di tangan saya. Pihak masyarakat merasa kecewa, sampai-sampai pihak masyarakat mengancam akan ada kebakaran besar.

Keselamatan saya pun juga terancam jika jumlah MPA tidak sesuai dengan jumlah orang yang direkrut. Hal ini langsung saya diskusikan dengan pimpinan distrik. 

Pimpinan distrik membantu saya melobi pihak Fire Operational Management (FOM) Palembang. Syukur, jumlah masyarakat  yang direkrut untuk menjadi MPA tetap 8 orang.

Inilah sepenggal cerita saya yang bekerja di perusahaan penghasil kayu akasia. Dari sini saya mendapatkan gaji dan bisa hidup menafkahi keluarga. 

Satu hal yang sering kita sepelekan adalah tentang sebuah kertas yang habis dipakai lalu dibuang. Padahal, tanpa kita sadari, banyak perjuangan-perjuangan di balik terbentuknya sebuah kertas di meja-meja kita.

Dari kertas saya hidup. Dari kertas jugalah masyarakat sekitar perusahaan hidup dan merasa terbantu.

Hargailah kertas yang ada di lacimu. Manfaatkanlah kertas sebijaksana mungkin, agar keringat dan upaya kami menjadi indah sebagai ladang amal di kemudian hari.