Senja ini kau kembali datang padaku
Setelah kau pergi tanpa ada alasan jelas
Namun saat ini kau berbeda, tidak seperti biasanya.

Mungkin kau merasa bersalah atas keputusanmu
Pergi meninggalkan aku yang tulus mencintaimu
Aku yang berusaha membuat dirimu nyaman.

Kamu tidak perlu merasa bersalah, aku baik-baik saja.
Aku menghargai keputusanmu untuk pergi
Lagian untuk apa mempertahankan satu hubungan
Kalau kita tidak merasa bahagia menjalaninya.

Senja ini kau kembali datang padaku
Sambil menitikan air mata kau memohon padaku
“Kak kita balikan ya,... ternyata aku salah menilaimu
Maafkan keputusanku yang gegabah....untuk pergi”.

Hahahae, hanya tertawa sinis yang keluar dari mulutku
Aku pun tidak akan menolak dirimu datang
Sebab aku menghargai kebebasanmu
Demikian pun ketika kau pergi,
aku pun tak akan melarang keputusanmu.

Tetapi maaf, aku menerima dirimu saat ini
Bukan sebagai kekasih tetapi sebagai tamu, maaf.


Teruslah Berkarya

Jangan pedulikan apa kata mereka
Jangan hiraukan sindiran mereka
Jangan pikirkan apa pendapat mereka
Jangan pernah dendam terhadap mereka.

Teruslah berkarya, siapa tahu karyamu
membuat mereka tersenyum bahagia.
Janganlah menaruh hati dan pikiranmu
Pada sindiran, keritikan dan apa pun
yang mereka katakan tentang kamu.

Terimalah semuanya sebagai motivasi
Yang mencambuk diri anda untuk terus berkarya.
Satu hal yang perlu anda ingat,
Mereka hanya bisa menilai apa yang anda kerjakan
Belum tentu mereka bisa lakukan seperti apa yang anda lakukan.

Teruslah berkarya, selagi masih memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya.


Berharap Pada Takdir

Senja itu, tanpa sengaja dan rencana
Kita berpapasan di jalan berlubang pinggiran sawah.
Pertemuan tanpa ada kata, hanya anggukan kepala dan seuntai senyum di sudut bibir kita.
Sepintas saja pertemuan itu tetapi membekas.

Aku memutuskan untuk bersepeda setiap sore melewati jalur yang sama pula,
berharap mungkin takdir mempertemukan kita.
Dan ternyata senja ini kita kembali bersua di jalan berlubang ini.
Apakah ini yang namanya takdir atau hanya kebetulan saja.

Takdir atau kebetulan apa urusannya, terpenting aku bisa menikmati seyum manisnya.

Berharap setelah pertemuan ini akan ada pertemuan-pertemuan yang lainnya, mungkin di tempat yang special semisal di pojok RM Bayu Wening biar kita bisa habiskan senja bersama sambil menikmati kopi kendil.


Titip Rindu Untukmu

Di ujung senja ini
Pada jingganya langit
Pada malam yang mendekat
Pada puncak gunung Merapi
Pada merdunya kicauan burung-burung
Pada semilir angin musim hujan
Pada aroma lumpur basah
Pada harumnya getah pohon cemara
Pada hijaunya dedaunan
Pada bunga anggrek yang bermekaran di sudut pagar
Pada hiru-pikuknya jalan Kaliurang, Jogjakarta
Pada sepinya gang Bias
Pada tembok-tembok Biara ini
Kutitipkan rindu ini untukmu.


Jejak Rasa

Jejak rasa ini masih menjadi penghuni tunggal dalam hati ini.

Padahal semua peristiwa dan kisah antara kita telah kita relakan menjadi kenangan.

Tetapi jejak rasa ini tidak hendak beranjak pergi dari hati ini, justru semakin nyata dalam kesendirianku.

Apakah jejak rasa yang tertinggal ini bukti aku tidak bisa move on dari semua kisah kita. Mungkin?


Aku Baik-Baik Saja

Jangan tanyakan aku di mana
Sebab aku masih di sini
Bersama rindu dan harapku.

Jangan mencemaskan keadaanku
Sebab aku baik-baik saja, tanpa kekurangan apa pun.
Jangan tanyakan aku bersama siapa
Sebab aku masih seperti yang dulu
Hanya berteman sepi dalam kesendirian.

Jangan tanyakan aku tentang apa pun
Sebab aku tak mau diganggu.
Biarkan aku sendiri di sini
Tenggelam dalam kesibukanku
Menata sepi dalam kesendirian.

Aku berharap kau bisa mengerti keadaanku.
Bukannya aku tidak peka dengan perhatianmu,
Jujur aku bersyukur bisa memilikimu dan menjadi orang istimewa dalam hidupmu, semua ini tidak bisa kuingkari.

Tetapi untuk kali ini saja biarkan aku sendiri
Melalui hari-hariku tanpa ada senyum dan perhatianmu.
Jangan cemas sebab aku akan baik-baik saja di sini.


Tuhan, Jangan Biarkan,...

Tuhan jangan biarkan iman kami padaMu terluntur oleh situasi dunia yang kacau balau akibat virus Corona. Jangan biarkan mulut kami menggerutu kecewa padaMu atas apa yang terjadi saat ini. Jangan biarkan otak kami berpikir Engkau telah mati seperti kata para filsuf.

Jangan biarkan imajinasi kami berandai-andai, mungkin Engkau sedang sibuk, sedang tidur, sedang ada urusan bisnis, atau sedang keluar kota. Atau, mungkin Engkau suda tuli sehingga tidak mampu mendengar jeritan kami.  

Jangan biarkan kami saling menyalahkan sesama kami berhadapan dengan pandemi yang sedang terjadi ini. Jangan biarkan rasa solidaritas dan persaudaraan hilang dari dunia ini akibat ego dan nafsu.

Tuhan, jangan biarkan apa pun yang buruk terjadi di bumi ini.


Kamar No. 18, Biara St. Theresia Lisieux, Sudut Gang Bias, Jogjakarta