Peneliti
1 minggu lalu · 91 view · 5 menit baca · Cerpen 11166_22820.jpg

Aku Hanya Mencintai

Aku, Zahara, berada di pesisir pantai, tepatnya di suatu kafe yang menghadap ke laut, kafe yang bernama Pasir. Di sana aku menikmati cokelat panasku sendirian. 

Namun, aku tak mendengar gemuruh ombak ataupun pasir berbisik yang harus aku dengarkan sambil berbaring di atas pasir. Aku hanya mendengarkan lagu-lagu romantis yang diputar di kafe ini. Bukan hanya romantis, tapi galau, seperti perasaanku saat ini.

Lagu Peterpan feat almarhum Chrisye yang berjudul Menunggumu mengalun menyakitkan. "Bila rindu ini, masih milikmu, harus berapa lama, harus berapa lama, aku menunggumu."

Lagu itu membuatku bertanya, bertanya dalam hati. Bertanya pada diriku sendiri. "Pernahkah kamu mendapat pertanyaan seperti ini, menunggu atau ditunggu?"

Aku akan menjawab apa? Menunggu? Ditunggu? Setiap jawaban pasti punya alasan masing-masing.

Aku akan memilih ditunggu. Menunggu itu berat, bro. Capek juga, iya. Selama ini aku selalu menunggu dalam ketidakpastian. Apakah menunggu untuk ditunggu? Yang artinya, sama-sama menunggu. Entahlah.

Tapi, pertanyaannya kemudian, apakah dia akan menungguku? Aku tak yakin.

Lagu "Menunggumu" berakhir. Lalu terdengar lagu Ab Three. Mereka dulu adalah penyanyi grup terkenal dengan tembang lawasnya yang berjudul Cintailah Aku.

"Cintailah aku, setulus hatimu kasih; jangan kau biarkan cinta kita, berlalu begitu saja, hanya karena emosi di hatimu."

Kemudian, aku bertanya lagi pada diriku sendiri dengan pertanyaan seperti ini, "Kamu memilih yang mana? Mencintai atau dicintai?"

Aku akan menjawab apa? Mungkinkah dicintai seperti pernyataan Ab Three? Namun, aku lebih memilih mencintai. Ya, mencintai seperti perasaanku sekarang.


Dewa dan Tuan Muda

Perasaanku sekarang pada dua lelaki, Dewa dan Tuan Muda. Sebut saja mereka begitu. Aku selalu mengagumi dan menghormati laki-laki yang kucintai. Makanya, aku menulis nama mereka di media sosial WhatsApp (WA) dengan nama panggilan yang kusematkan kepada mereka.

Dia, dia yang cerdas dan dewasa kupanggil Dewa, karena dia kupuja. Seperti kalimat dalam lagu Mulan Jamilah, "Aku memuja kamu, sepertiku memuja Dewa Cinta."

Lagu ini, aku sekali. Aku juga memuja dia seperti memuja Dewa Cinta. Aku akan "memuja" memohonkan hati ini padanya. Andai ada 'upacara' untuknya, aku akan menghadirinya, dan mempersembahkan hati dan diri. 

Namun, Dewaku ini tak menerima persembahanku, tak menerima sesajenku yang berupa bunga yang berwarna-warni dan buah yang manis tapi beraneka ragam.

Dewaku memiliki Dewi. Dewi yang cantik, Dewi yang mempunyai senyum yang indah, Dewi yang... Sudahlah, aku tak mau membahas Dewi lagi.

Sedangkan Tuan Muda adalah laki-laki muda yang bapaknya seorang pejabat daerah, seperti Raja. Tuan Muda itu keren, dia gambaran laki-laki yang dihormati dan berwibawa. Dan dia masih muda, dia lebih muda dariku.

Tentang Mereka

Aku bertemu Dewa pada suatu seminar kebudayaan. Kebenaran, dia menjadi pembicara. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dewa begitu cerdas. Caranya menyampaikan makalahnya runut, artikulasinya bagus. Dia juga menjawab pertanyaan audience termasuk aku dengan asyik. Ah, dia begitu memukau.

Kami pun berkenalan. Ternyata, dia sangat low profile, dosen muda itu terlihat sederhana dan bersahaja. Dia mau mengenal semua orang dan berusaha menjadi teman yang baik. Aku jadi tambah jatuh cinta.

Dan dari situ, kami pun dekat walau hanya sebatas teman diskusi. Aku memujanya, aku mencari semua tentangnya, mengkepoin media sosialnya, apalagi tulisan jurnalnya di online jurnal. Setiap dia punya acara, menjadi pembawa acara, atau menjadi pemantik, aku mengusahakan untuk selalu hadir. 

Namun, ketika aku stalking media sosialnya, aku melihat dia sudah bertunangan. Dia bertunangan dengan Dewi. Aku mundur teratur. Walau, kami masih berhubungan, chat-ku tidak seintens di awal pertemuan. Namun, kami tetap saling menyapa untuk masalah pekerjaan.

Oh Dewa, alangkah beruntungnya perempuan yang mendapatkan dirimu. Dan aku menangis sedihnya karena kehilangan. Walau, aku tak pernah memiliki, hanya merasa memiliki.

Bukankah cinta tak harus saling memiliki? Seperti lagu Dewa 19 sekarang yang terputar, Roman Picisan. "Cintaku tak harus, miliki dirimu, meski perih mengiris, iris segala janji."

Cerita tentang Tuan Muda lain lagi, walau mereka sama-sama cerdas, Tuan Muda lebih suka membaca buku. Tuan Muda juga seorang guru. Dia guruku. 

Tuan Muda seorang pengajar. Di usia yang masih duapuluhan, dia menjelma bagai seorang kakek tua yang bijaksana. Aku belajar banyak darinya. Jiwanya "pendeta" yang banyak memberikan ilmu. Namun tampilannya anak muda yang masih kuliah S2 yang masih suka nongkrong di kafe tapi sambil membaca buku.

Aku juga kagum pada Tuan Muda. Dan aku juga jatuh cinta setelah banyak berguru darinya. Jatuh cinta, setelah merasa aku tak punya asa dan harapan dengan Dewa. 

Namun ternyata, aku juga tak punya asa dan harapan dengan Tuan Muda. Dia punya seseorang yang dia cintai dan mencintainya.

Untungnya, baik aku dan ataupun mereka tak pernah saling menyatakan cinta. Aku dan atau mereka juga tak pernah saling berkomitmen. Aku hanya mencintai mereka berdua. Dan aku tidak tahu dengan perasaan mereka. Jadi, aku tak pernah menduakan siapa pun. 

Bukan pikiran yang mendua. Aku mencintai sesuai dengan porsinya. Terkadang, aku mengingat Dewa sebagai perwujudan cinta di masa lalu. Dan Tuan Muda adalah bentuk cinta untuk masa depan. Walau, semuanya tak akan pernah terjadi.

Aku menyeruput cokelatku. Cokelat panas itu telah menjadi dingin.

Aku bisa apa? Aku hanya bisa mencintai. Seperti lagu Astrid yang bernyanyi, "Terasa menyenangkan melihat dirimu bahagia, hidup bersamanya, kudoakan untuk selamanya, walaupun hatiku tak mampu untuk memilikimu, bila kau bahagia, aku bisa apa?"

Lagu itu mengisi seluruh ruangan kafe yang bernuansa simpel, minimalis. Kafe yang tenang untuk berpikir, tidak terlalu ramai dan berisik dengan banyaknya orang.

Aku bisa apa? Aku tak harus berjuang mati-matian untuk dicintai. Bukan namanya cinta bila itu paksaan. Aku hanya ingin dicintai bila cinta itu benar-benar milikku. Artinya, dia atau mereka juga mencintaiku pada pandangan pertama.


Aku bahagia dengan kebahagiaan mereka. Mereka membuatku ikhlas mencintai tanpa dicintai, dan aku akan mungkin juga menunggu yang pasti saja. Seseorang yang membuatku bersinar dengan terang. Mungkin bukan Dewa, atau Tuan Muda. Namun dia adalah Rajaku.

Minuman cokelatku enak, tapi terasa pahit. Efek terlalu lama menyendiri di kafe. Di sini, aku hampir satu jam. Pekerjaan yang kubawa belum beres. Notebookku menyala sejak tadi tapi tak sempat kusentuh untuk mengetik data hasil wawancara. Aku lagi menulis jurnal berkolaborasi dengan Dewa. 

Aku membuka hape androidku menyalakan data. Lupa tadi meminta password untuk wifi. Dan media sosialku berbunyi, Facebook, Mesengger, dan WhatsApp. 

Aku membaca WA, chat dari Dewa masuk. "Bagaimana hasil penelitiannya, Mbak Zara?"

Aku membalas, "Tunggu ya, pak. Lagi saya ketik." Aku mematikan data. Terlalu banyak pesan yang masuk, ketikanku tak akan selesai. Aku memilih meninggalkan kafe yang lagu-lagunya membuat aku terhanyut pada suasana.

***

Di sudut kafe itu, seorang laki laki muda sejak tadi memperhatikan seorang perempuan yang sedari tadi duduk sendiri. Pikirnya, mungkin, perempuan itu sedang mencari ilham, tidak mau diganggu dengan notebook di depannya, dan kertas-kertas catatan. 

Dia mengenal perempuan itu, kaka Rara. mereka sering bertemu. Awalnya, pada suatu bedah buku dan di toko buku. Lalu, mereka juga bertemu di kampus pada acara kemahasiswaan dan akhirnya saling mengenal.

Dia tak mau mengganggu dengan menyapa perempuan itu seperti dirinya yang tak mau diganggu membaca buku.

Artikel Terkait