54978_98562.jpg
wandhiro.blogspot.co.id
Cerpen · 8 menit baca

Aku, Dia dan Kereta


Hari ini aku benar-benar merasa lelah, jadwal  kuliah dari pagi hingga sore membuat wajah yang semula tampak segar menjadi semeraut. Sampai di  rumah, aku duduk santai ditemani secangkir kopi kental dengan sedikit taburan gula, sengaja kubuat racikan “radikal”, kata orang kandungan kafein dalam kopi dapat menjernihkan pikiran.

Baru saja kunikmati kopi pahit itu, tiba-tiba terdengar deringan hp dengan  nada lagu favorit “Everglow” dari dalam kamar, siapa gerangan? mudah-mudahan yang menghubungi  “wanita” yang kupandang diam-diam di kelas saat kuliah tadi gumamku (berharap). Benar saja, yang menelepon memang perempuan, tapi ibuku.

"Assalamualaikum, Nak, apa kabar di rantauan dan bagaimana kuliah lancar?" tanyanya.

"Waalaikumussalam, alhamdulillah, Bu, semua lancar."

"Bagaimana keadaan di rumah?" tanyaku balik.

Ia pun terdiam sejenak, "Kakekmu sudah tiga minggu berbaring di rumah sakit, bisakah kamu pulang kampung besok, ibu kirimkan uang sekarang untuk perjalanan pulang." Katanya dengan nada memaksa.

"Ya Bu, Hendri akan pulang tapi di rumah hanya satu minggu, tak bisa belama-lama. Sudah mendekati semester, banyak tugas." Pungkasku.

"Mau tiga hari atau empat hari bukan masalah, yang penting kamu bisa membesuk kakekmu."

****

Aku pun bergegas mengambil uang secukupnya. Kepulanganku biasanya akan menempuh perjalanan melelahkan. Agar sampai ke rumah saja, butuh waktu sampai dua hari dengan kereta dan bus provinsi, maklumlah, aku berasal dari pulau yang dijuluki sebagai pulau seribu masjid.  

Setelah itu, aku pun memesan tiket kereta dengan jadwal pemberangkatan pagi dan membeli sebotol air mineral.

Keesokan hari, aku berangkat menuju stasiun, dengan baju lengan panjang warna biru, dimasukkan ke dalam celana panjang hitam. Gaya hidupku memang  rapi walaupun kadang-kadang terkesan formal dan cenderung kolot.

Setelah mencetak tiket kereta dan menunjukkan identitas pada petugas, aku dipersilakan masuk melewati pintu jalur tiga sebelah kanan. Tepat jam 6.45 WIB,  aku masuk gerbong nomor satu, dengan kode kursi penumpang 30 A. Waduh, aku merasa sial hari ini, gumamku. Sudah dapat kursi paling belakang, dekat  toilet pula.

****

Setiap kursi dalam kereta saling berhadapan, tempat duduk lain nampak penuh, sementara kursi dudukku saat ini masih kosong. Kuambil antologi cerpen dalam tas untuk mengusir penat. Cerpen ini tiga hari lalu kupinjam dari perpustakaan, maklum mahasiswa kere. Judulnya: “Fatahayyat Takhtaru Mautiha”, ketika hidup memilih kematian.

Sembari menyandarkan kaki ke kursi bagian depan, aku mulai membuka lembaran cerita pertama bertemakan Zahrah Tadkhulu al-Hay. Zahra masuk desa, kurang lebih kalau diterjemahkan. Tokoh utama, terlukis sebagai perempuan sangat cantik, tinggi semampai, kulit putih,  mata sipit dan tampak masih gadis. Namun di balik kecantikan itu terbersit kesedihan mendalam, gambaran cerita pada paragraf pertama dan kedua.

Sedang asik-asiknya membaca cerita, tak sengaja pandanganku ke arah depan kereta, terlihat sosok “perempuan” umur 20-an dengan jilbab coklat panjang, dan celana jean’s biru, memakai masker dan tas ransel merah. Nampak bingung menengok arah kiri dan kanan, mencermati kode-kode kursi penumpang sesekali melihat tiket yang dipegangnya. Dia semakin mendekat dan mendekat hingga berdiri persis di hadapanku.

"Maaf Mas, 30 B di sebelah mana, ya?"

"Ooo, ya Mba, di sini/" Tepat dia duduk di sampingku, dag dig dug perasaan ini. Biasalah, namanya juga laki-laki, keingintahuanku masih tinggi, makhluk sepertiku yang sejak awal semester hingga kini belum pernah sekalipun ada hubungan serius  dengan “perempuan” makanya aku disebut “Jomblo” abadi.

 Memiliki rasa dan tidak mampu mengungkapkan. 

Di balik rasa canggung, becampur dengan rasa senang  karena perempuan “anonim” persis sedang duduk disampingku, walaupun belum dapat melihat wajahnya dengan jelas karena  tertutup masker. Kesempatan bagus nih, Setan membisik. Tapi dengan sigap, aku pura-pura tak peduli dan membaca kembali cerita Zahra.

****

Dia pun membuka tas ransel dan mengambil sepotong roti

"Mas, sudah sarapan?" Tanyanya

"Sudah, Mbak," jawabku, padahal aku hanya membawa sebotol air putih. Waduh!

Dia meletakkan maskernya di sebelah kiri dan membuka bungkus roti dengan pelan.

Aku melirik, refleks mata ini menatap wajahnya, Maha Suci Tuhan, cantiknya makhluk ciptaan-Mu. Matanya yang bulat, wajah putih  dan bibir merah delima, So Cute.  

Mimpi apa aku semalam, aku merasa manusia paling beruntung dalam perjalanan ini jika dalam kisah Zahra digambarkan tokoh utama adalah wanita sempurna, tinggi semampai maka yang sedang duduk disampingku adalah “Zahra” dunia nyata bagiku.

****

Ingin rasanya untuk mengenal dirinya, namun perasaan belum ada keberanian, dag dig dug detak jantungku makin kencang, keringat dingin dan aliran darah menghujam ke kepala. Kapan lagi ada kesempatan, mungkin pertemuan tak sengaja ini adalah cara Tuhan memperkenalkanku dengan sang dambaan hati. Sengatan dingin yang menembus kulit dalam kereta seketika berubah panas!!!

Belum waktunya, berusaha meredam diri. Jangan sampai ketika aku bertanya ia tak merespon. Pikiran bercampur aduk, anggap saja dia adalah “mawar merah” dan aku seekor kumbang yang hinggap sesaat, tak harus ku miliki. Fokus-fokus, jangan berpikiran lain, tapi tetap saja mata tak dapat ku kendalikan, cerpen yang kubaca akhirnya hanya sebagai pengalih mencuri kesempatan memandang perempuan yang sedang disampingku.

Stasiun demi stasiun sudah terlewati, jalur kereta mulai melewati wilayah persawahan dan perbukitan. Sesekali kupandang ke arah jendela, bentang sawah dan terubuk putih membentang luas, sesekali dari kejauhan beberapa petani dengan kecapi khas mereka membungkuk mencabut gulma. 

****

Petugas kereta yang disebut juga Prami (sebutan pramugari) mulai menjajakan fasilitas kereta, “bantal bantal bantal, tujuh ribu saja," setelah itu ia kembali lagi. “Nasi goreng, nasi goreng. Nasi goreng, Mas?" Tanyanya ke arahku. "Tidak, Mbak, makasih." Perut sebenarnya sudah kosong sejak pagi.

Saat aku kembali melihat ke arah kaca  kereta sebelah kiri, tak sengaja dia juga melihat ke arah kanan. Pandangan kami tak terhindarkan! Aku melihat ke arahnya, dia pun sebaliknya, kurang lebih jika dihitung pandangan kami lebih dari sepuluh detik. Sengaja aku hitung, sebab menurut perkataan  komika terkenal, jika tanpa sengaja kita salig pandang lebih dari lima detik, disitulah kesempatan akan tercipta. Manjur!!

"Agar tidak terjadi salah paham, destinasinya ke mana, ya?" Tanyaku berlagak sok akrab

"Saya mau ke Surabaya, Mas," wajahnya memerah pertanda malu.

"Coba saya tebak, kamu mahasiswi, kan?" Tanyaku kembali.

"Ya, Mas!! saya Dita mahasiswi semester empat di Universitas Gadjah Mada."

"Saya Hen’s, semester enam, di UGM juga." Bahagia bukan kepalang, sudah cantik, manis dia juga satu almamater denganku, gumamku!!!

"Oh," jawabnya singkat.

****

Aku bingung mau tanya apa lagi, tipe perempuan jenis ini menurutku susah untuk diajak komunikasi. Kembali saja kulanjutkan bacaan cerpen.

"Mas Hen’s sedang baca apa? Seperti tulisan Arab?"

"Cerpen Dita. Judulnya Ketika Hidup Memilih Kematian, perjalanan tentang seorang wanita cantik, datang ke suatu tempat terpencil, menjadi pembantu untuk memenuhi kebutuhan suami dan anak-anaknya."

"Emang suaminya ke mana? Suami adalah pemimpin, malah istri jadi tulang punggung keluarga, dasar!"

"Diceritakan kalau suami dari tokoh utama, sejak lama sakit keras. Selain itu, pelajaran penting dari bagian pertama cerita ini adalah bagaimana perjuangan seorang wanita yang mencari kebahagiaan. Selain berwajah cantik, ia juga memiliki keterampilan khusus merangkak membuka bisnis hingga sukses," jawabku panjang lebar.

"Bagus juga ceritanya sambil tersenyum. Bagaimana pun, perempuan itu harus dihargai, jangan dipandang rendah dan dinomorduakan, banyak sekarang kita lihat, mereka bekerja sebagai TKW, tukang cuci piring dan pembantu rumah tangga. Banyak kasus penyiksaan oleh majikan bejat tempat mereka bekeja, sedangkan negara bisa apa? menerima keuntungan dan kadang terkesan tak peduli. Seharusnya negara menfasilitasi, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, nyatanya, wakil rakyat kerjanya cuman omong kosong."

"Prihatin saya mas, melihat keadaan mereka!! Ya, ndak?"

Tak disangka, kritis juga nih orang, dalam hati. Benar, saya juga prihatin melihat kondisi para TKW kita bahkan dari mereka dihukum pancung tanpa advokasi pemerintah. Para pemimpin negeri ini sudah kehilangan taggungjawab dan tujuan. Mereka pemegang kendali kekuasaan ujung-ujungnya hanya memperkaya diri.

Tak terasa, kereta sudah sampai di stasiun berikutnya.

****

"Permisi, saya keluar bentar Dita, mau beli bekal."

Aku pun ke arah belakang, membuka pintu kereta bagian kiri membeli roti, teh dan coklat di toko yang berjejer di stasiun. Lampu masih merah, tanda pemberhentian menyala, tak lama kemudian masinis memanggil para penumpang yang masih di luar, segera masuk karena kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan.

"Aku bergegas masuk, kembali ke tempat semula. Dita aku bawa minuman dingin, kamu mau?"

"Ooo ya mas Hen’s, makasih!!!"

"Kereta mulai bergerak, suara sirine tanda jalan terdengar keras sembari mengisi perut  yang sudah sejak pagi belum terisi."

"Mas Hen’s mau kemana? dari tadi kita ngobrol aku lupa tujuannya hendak kemana."

"Saya mau pulang  Dita karena kakek saya sudah tiga minggu sakit. Ibu menghubungi meminta saya  pulang hari ini." tegasku.

****

Komunikasi kami bedua mulai mencair, terpaku dan terpana dengan Dita, perempuan yang baru saja aku kenal. Banyak hal yang kita bicarakan, mulai dari lingkungan kampus, hingga membahas beberapa persoalan negara. Selain parasnya yang cantik, dia tampak perhatian pada isu-isu sosial, sepertinya aktif dalam kegiatan sosial, pikirku.

Matahari sudah tampak menguning, silih berganti penumpang  turun di tujuan masing-masing, sementara Dita dan aku tetap tidak beranjak dari tempat duduk. Badan sudah mulai pegal, kepala terasa berat dan ngantuk. Sementara Dita tertidur menyandar kursi.

Tiba-tiba saja Dita menyandar tepat di bahu sebelah kiriku, sumpah nyawaku rasanya akan copot, seperti disengat listrik tegangan tinggi, tangan dan kaki seperti lumpuh tak mampu dikontrol oleh saraf-saraf tubuhku.

Kupanggil namanya lirih pelan. Dita sontak kaget..

“Maaf mas, maaf yaa!" Tersimpuh malu sembari mengusap wajahnya manisnya.

Aku terdiam, tak merespon!! bukan berarti sok tak peduli, tapi merasa menyesal, kenapa harus ku bangunkan, alangkah baiknya  Dita terlelap di pundakku. Aku ikhlas kok, seikhlas-ikhlasnya!!

****

Sunyi, senyap diam seribu bahasa. Kereta terus bergerak mengejar jarak beberapa tujuan stasiun lagi.

Tibalah saat stasiun pemberhentian, Dita berdiri mengambil tas ransel yang diletakkan di bagasi. Tepat pukul 8:30 kereta berhenti di stasiun (tujuan Dita).

Mas, aku sudah sampai, maaf yaa kejadian tadi.

It doesn’t matter, jawabku!!

Perempuan itu pun berlalu, saat kereta berangkat, aku melihatnya berjalan ke arah pintu keluar. Bisakah kau menghadapku sekali saja (penuh harap), harapanku terkabul, ia berbalik arah, menatap tajam ke arahku, mungkin ingatannya masih terjebak  kejadian tadi.

****

Empat hari di rumah, aku kembali lagi ke Jogja, dengan rutinitas kuliah seperti biasa. Baru saja aku keluar dari kelas, dari kejauhan berdiri sosok wanita tampak tak asing bagiku. Coba ku perhatikan, benar saja ia adalah Dita, perempuan yang di kereta.

 Dita, dengan nada keras! menghampiri

Mas Hen’s, apa kabar? Berjumpa lagi kita yaa.

Mau pulang? Tanyaku.

Ya mas, tapi mau ke perpustakaan dulu, jawabnya!

Kebetulan Dita, saya juga mau ke perpus, mengembalikan antologi cerpen.

Akhir kisah, Dita, perempuan yang ku kenal di kereta menjadi milikku sepenuhnya.