Penulis
1 tahun lalu · 262 view · 3 menit baca · Politik 71498IMG_3665.PNG.jpg
Pribadi/Bersama Pengungsi Rohingya, Aceh Utara

Aceh dan Rohingya

Solusi Konflik Rakhine

Kekerasan sekaligus pelanggaran HAM yang terjadi di Rakhine bagi saya bukan hal yang mengejutkan. Hal itu bukan berarti tak ada empati dari saya. Pandangan sejarah hidup saya mengatakan Rakhine conflict nyaris menyerupai konflik di Aceh. Konflik pemerintah pusat dan daerah.

Bila kemudian berkembang propaganda adanya konflik Agama, saya tidak setuju sama sekali. Konflik Agama hanya turunan dari konflik yang sesungguhnya. Aceh yang berkonflik dengan pemerintah pusat sejak 1976-2005 pun sempat diwarnai perang Agama.

GAM dan umumnya rakyat Aceh menyebut tentara Indonesia sebagai PAI. Penamaan Pengkhianat Agama Islam (PAI) ditujukan kepada TNI karena Aceh mayoritas Islam dan siapapun yang melawan dianggap pengkhianat.

Konflik turunan lain yang muncul ialah konflik kesukuan, sentimen kesukuan terutama terhadap suku Jawa muncul. Sebab utamanya karena TNI/POLRI kebanyakan bersuku Jawa.

Konflik di Aceh maupun di Rakhine bukan konflik Agama maupun Kesukuan. Tak penting yang mendasari konflik-konflik tersebut, satu hal yang pasti ialah penderitaan anak-anak dan perempuan.

Perang di belahan dunia manapun akan selalu memaksa anak-anak dan perempuan sebagai korban utama. Begitu pula konflik di Aceh dan sekarang di Rakhine yang menimpa etnis Rohingya. Masih segar dalam ingatan kita semua bagaimana anak-anak menjadi korban dalam peristiwa simpang KKA (199) Aceh Utara. Korban perkosaan pun tak kalah sadisnya, sayang tak terungkap.

Peristiwa Simpang KKA bukan konflik Agama, dan anak-anak juga bukan kelompok bersenjata. Peristiwa itu nyaris sama dengan kejadian di Rakhine hari-hari belakangan ini. Kelompok bersenjata dan tentara pemerintah Myanmar bertempur namun yang menjadi korban anak-anak dan perempuan. Sebuah arogansi mereka yang tak peduli nasib anak-anak dan perempuan.

Kedua belah pihak seolah lupa bahwa mereka memiliki anak dan mereka juga pernah menjadi anak-anak. Mereka juga mempunyai ibu yang menyayangi mereka sehingga paham bagaimana psikologis seorang ibu yang kehilangan anak. Mereka seakan lupa bagaimana seandainya anak perempuan atau istri mereka menjadi korban perkosaan. Mereka lupa bahwa trauma atas kekerasan seksual sangat sulit dihilangkan.

Mereka setidaknya menyadari nasib anak-anak dan perempuan ketika perang terus terjadi. Anak-anak yang seharusnya ceria dan bermain namun hidup dalam kecemasan dan ketakutan.

Saya masih ingat bagaimana keponakan saya ketakutan, malam itu terjadi baku tembak antara TNI dan GAM. Mereka harus bersembunyi dibawah tempat tidur mereka. Usia mereka masih belia namun terpaksa dewasa dihujani suara tembakan.

Hal yang sama pastilah dirasakan anak-anak Rohingya, bahkan bisa jadi lebih menakutkan. Berapa banyak anak yatim-piatu yang terancam masa depannya. 

Kita berharap negara lain pun tidak ikut memanaskan suasana. Pernyataan yang tidak produktif sebaiknya dihindari karena urusan internal Myanmar harus diselesaikan dengan bijak.

Berita dan foto provokatif serta hoax sebaiknya jangan disebarkan. Kita pun harus cerdas dalam menseleksi berita dan foto terkait konflik di Rakhine. Jangan mudah menjadi bahan mainan para provokator. Rasa solidaritas harus diarahkan dengan benar dan cara yang benar pula. Melakukan kebaikan harus dilakukan dengan cara benar bukan dengan cara salah.

Demonstrasi guna menekan pemerintah Myanmar jangan sampai menghilangkan akal sehat. Kita harus menjadi tetangga yang bijak tanpa menginjak kedaulatan negara lain. Konflik di Rakhine masih bisa diselesaikan dengan jalan damai. Ada banyak jalan menuju damai yang sangat kita inginkan bersama sebagaimana yang terjadi di Aceh.

Rekomendasi saya bagi Rakhine adalah menghadirkan pihak ke-3 seperti yang terjadi di Aceh. Perdamaian terwujud dengan hadirnya pihak penengah. Konflik Aceh-Indonesia terjadi (1976-2005) tanpa publikasi media sebagaimana di Rakhine. Data kekerasan sangat subjektif, berbeda dengan Rakhine.

Pun demikian pula dengan mewujudkan perdamaian di Rakhine akan lebih mudah dibandingkan Aceh. Kini media termasuk sosmed akan selalu memantau setiap tahapan perdamaian di Rakhine. Pemerintah Indonesia punya pengalaman mewujudkan perdamaian di Aceh. Mewujudkan perdamaian di Rakhine bukan hal yang sulit tentunya.

Sekarang tergantung pihak-pihak yang bertikai mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Indonesia memiliki peran strategis dalam mewujudkan perdamaian dan menyelamatkan etnis Rohingya tanpa menyinggung pemerintah Myanmar.

Saya sudah saksikan sendiri bagaimana anak-anak dan perempuan etnis Rohingya dipengungsian, Aceh Utara. Mereka benar-benar membutuhkan bantuan semua pihak, bukan hanya bantuan logistik akan tetapi bantuan penyelamatan masa depan mereka. Mereka butuh bantuan menghilangkan trauma, seperti anak-anak di Aceh.

Anak-anak di Aceh yang sekarang beranjak dewasa masih mengalami trauma. Melihat TNI masih ada yang merasa takut, seolah akan ditembak dan perasaan ketakutan lainnya.

Indonesia pantas menjadi penengah konflik di Rakhine mengingat keragaman yang dimiliki bangsa ini. Suku dan Agama yang dimiliki Indonesia sangat beragam dan sampai detik ini mampu diharmoniskan. Pemerintah Myanmar tak perlu malu meneladani bagimana Indonesia mampu menjalin persatuan diantara keanekaragaman. Bhinneka Tunggal Ika memang warisan bangsa yang patut kita banggakan. 

Indonesia bisa menularkan Bhinneka Tunggal Ika kepada Myanmar, dengan menjadi penengah ataupun pelopor penengah. Indonesia dapat menggerakan ASEAN guna mengakhiri konflik di Rakhine, Myanmar.

Saatnya perdamaian diwujudkan.

Artikel Terkait