Kehidupan manusia adalah sesuatu yang begitu eksistensial, hidup di bawah tekanan, hidup dengan penderitaan, bahkan hidup yang dipuji-puji. 

Sebagai contoh, pernahkah kita mengalami situasi hidup saat merasa gagal dalam mencapai atau mewujudkan sesuatu yang kita inginkan? Atau pernahkah kita mengalami kebahagiaan karena mendapatkan pacar baru?

Situasi tersebut adalah situasi eksistensial manusia. Kita selalu terus terombang-ambing dalam kondisi hidup yang tak tentu.

Untuk orang yang tidak merasakan kehidupan eksistensial, mereka beranggapan itu hanyalah fenomena biasa dalam menjalani kehidupan. Namun bagi orang lain, hal itu adalah kondisi mengada dan menjadi sebagai refelksi hidup eksistensialnya.

Pengalaman-pengalaman yang telah disebutkan tadi begitu penting bila dikaitkan dengan konsep filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre (1905-1980) tentang yang lain l’autre dan tatapan mata le regard.

Sejak kecil sartre sudah menjadi seorang yatim dan hidup bersama ibunya (Anne Marie Schweutzer) dan kakek serta neneknya. Selama itu, hidup Sartre penuh dengan kebahagiaan karena menjadi pusat perhatian dan pujian keluarganya karena sisi ketampanan dirinya. 

Sampai suatu hari sang kakek membawa Sartre ke tukang cukur –dalam Les Mots Sartre menuliskannya- dan saat itu pula ia menemukan dirinya “jelek”. Mata yang juling dan perawakannya yang menyerupai seekor kodok. Ia lalu sadar bahwa ia menjadi jelek di mata mereka.

Dalam peristiwa ini kita melihat adanya suatu kondisi hidup eksistensial Sartre kecil di hadapan keluarganya, yaitu saat ia dijadikan objek pujian karena sisi tampannya dan kejatuhan dirinya saat menemukan bahwa dirinya sudah jelek.

Baca Juga: Sartre

Apa yang membuat hal ini menjadi suatu peristiwa yang eksistensial dan penting dalam filsafat eksistensialisme Sartre? Bahwa kita mengetahui terjadinya proses objektivasi oleh l’autre atau yang lain/orang lain dengan tatapan matanya le regrad. Ibu dan keluarganya kaget saat menerima anaknya pulang dari tukang cukur mewakili “tatapan orang lain”.

Kita melihat ada satu problem bahwa kita ada sejauh kita ada untuk orang lain etre pour autriu. Itu terjadi akibat proses objektivasi diri kita oleh yang lain, baik positif maupun negatif, dengan itu tidak adanya indeterminisme manusia atau absennya ruang kebebasan untuk menentukan dirinya.

Kebebasan

Sudah dijelaskan bahwa terjadinya proses mengobjekkan diri saya oleh orang lain dengan tatapan mata adalah suatu tanda absennya kebebasan eksistensial, namun apakah arti kebebasan? Kata Sartre, “Manusia dihukum untuk bebas.”

Kebebasan manusia adalah suatu kesadaran bahwa dirinya sebagi subjek yang membedakan dengan objek. Manusia menjadi subjek yang bebas saat ia mulai menidak penilaian objektif dirinya oleh yang lain.

Sebagai contoh, saat saya berada di balik pintu ruangan yang sedang terkunci, saya sejenak ingin melihat ada apa didalam ruangan dengan sedikit mengintip di lubang kunci pada pintu itu. Saya melihat di dalam ruangan terdapat beberapa benda seperti meja, kursi, lukisan, dan yang lainnya.

Di situ juga terdapat seseorang yang sedang duduk. Dengan tatapan, saya melihat semua yang ada dalam ruangan termasuk orang yang sedang duduk tanpa diketahui oleh orang tersebut.

Proses objektivasi yang terjadi pada orang yang sedang duduk oleh saya yang sadar sebagai subjek tunggal yang bebas bahwa dirinya sudah kehilangan kebebasannya. Tiba-tiba dari belakangku muncul lelaki dan mendapatiku sedang mengintip di balik pintu itu. Aku pun mulai diobjekkan olehnya.

Absennya kebebasan melalui proses objektivasi itu memungkin bahwa sebagai subjek tunggal yang bebas kita perlu menidak yang lain.

Sartre memperlihatkan bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri, mendefinisikan itu membuat manusia menjadi autentik/asli –asli bukannlah arti bahwa harus kembali pada keadaan dan kondisi awal mula atau asali- atau cara lain, yaitu manusia satu-satunya makhluk di mana eksistensi mendahului esensi.

Misalnya meja mepunyai ciri-ciri objektif tertentu, mempunyai tujuan meja itu. Bahwa tukang yang membuat meja sudah terlebih dahulu mengandaikan pengetahuan tentang benda apa yang ia buat (tentang esensinya).

Namun bagaimana dengan manusia? Apakah esensinya? Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengatakan tidak pada usaha penilaian esensi.

Relasi intersubjektif/antarmanusia

Pada filsafat eksistensialisme Sartre bahwa sarana relasi antarmanusia terjadi karena adanya negasi intersubjektif. Ini ditandai dengan suatu ciri kesadaran menidak. Bahwa setiap kesadaran-kesadaran yang saling bertemu mempunyai sikap untuk saling menilai dan memasukan kesadaran lain pada dunianya sehingga kesadarannya menjadi subjek tunggal.

Dengan demikian, terjadilah suatu dialektika negasi subjek-objek di mana salah satu dari mereka berkeinginan mengalahkan kesadaran yang lain objek bagi dia sebagai subjek. Semua relasi yang terjadi adalah negasi perjumpaan kesadaran-kesadaran, namun ada kemungkinan kedua yang bisa terjadi. 

Pada contoh yang dijelaskan tadi tentang saya yang sedang mengintip lewat lubang kunci kecil di balik pintu, saya dan orang yang berada dalam ruangan tersebut keluar dari ruangan dan bekerja sama untuk melawan orang ketiga yang sedang memergoki saya. Bersama-sama kita mengobjekkan orang ketiga itu. Kita menjadi solider.

Maka terjadilah apa yang disebut nous-object atau relasi “kita” untuk mengalahkan orang ketiga dan membuat dia menjadi objek kita. Dengan cara itu memungkinkan timbulnya kelas-kelas sosial dalam arti Marxisme.

Sartre menciptakan istilah etre-en-soi (ada pada dirinya). Istilah ini menunjukkan pada suatu kontingensi yang terus berubah-ubah dan mengada selama adanya orang lain artinya bukannlah kebebasan, ada begitu saja, dan tidak diciptakan.

Etre-pour-soi (ada bagi dirinya); istilah yang kedua menunjukkan pada kesadaran subjek, berbedan dengan etre-en-soi; etre-puor-soi sebagai kebebasan radikal yang ditemukan dari hasil dialektika negasi pada perjumpaan-perjumpaan kesadaran.

Sumber

A. Setyo Wibowo & Majalah Driyarkara. 2011. “Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul-Sartre”. KANISIUS: Yogyakarta.

K. Bertens. 2006. “Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis”. Terjemahan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.