Sendiri mungkin pilihan dan sunyi adalah konsekuensi. Hati terus menggoda untuk melakukan hal-hal di luar nalar agar aku bisa melupakan semua kisah tentang aku dan kau yang tak kunjung menjadi kita.

Alhasil, gerak hati rupanya membawaku berkelana. Melihat sudut-sudut nusantara yang telah lama menjadi mimpi sejak dulu

Bagiku, berkelana bukan hanya perihal mengunjungi tempat baru atau bertemu wajah baru. Tapi lebih dari itu, melihat sisi kelam nusantara. Membuka mata dari realitas kehidupan rakyat Indonesia.

Ada yang tergusur atas nama keindahan kota. Ada yang terus mencari sesuap nasi dari tumpukan sampah. Ada yang masih tertidur pulas di bawah kolong jembatan.

Bagaimana dengan luka yang mereka alami sekian lama? Adakah tertanam dendam lantaran negara seolah diam melihat itu semua?

Luka mereka rupanya teramat perih dan tak sebanding dengan apa yang kurasakan saat ini. Lalu kenapa aku harus dendam lantaran rasa yang tak terbalaskan?

Kembali, semesta selalu punya cara tersendiri untuk menyadarkan manusia dari pilu yang dialaminya.

Sejauh kaki melangkah. Wajah-wajah lama kembali muncul pada sebuah ruang yang bernama rindu. Wajah itu makin jelas dalam malam yang begitu sunyi dan itu adalah kau.

Ku ingat lagi tatkala aku dan kau ada di barisan massa rakyat, turun ke jalan menyuarakan suara-suara yang telah lama dibungkam oleh penguasa. Sebagai mahasiswa, hal ini merupakan identitas yang telah lama hilang.

Kau tampil luar biasa, menjadi agitator yang mengangkat semangat juang.

Kita sama-sama ada di barisan terdepan, saling merangkul dan terus menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang telah lama tak terdengar.

Tak seperti kebanyakan, kau berusaha mengubah pola pikir orang-orang yang terjebak dalam konstruk budaya bahwa perempuan adalah makhluk lemah.

Saat beberapa perempuan lebih memilih diam di rumah, kau malah memilih turun ke jalan. Saat beberapa perempuan lebih mengutamakan kecantikan, kau malah memprioritaskan kesetaraan.

Rasa kagumku juga dibarengi rasa ketakutan. Ketakutan yang membelenggu pikiran saat mengingat Marsinah yang dibunuh, Munir yang diracun atau Wiji Thukul yang diculik.

Kala itu kau hanya berujar “Marsina, Munir, Wiji Thukul telah mewarisi darah perlawanan. Semangat juangnya tak pernah mati, akan tetap ada dan terus berlipat ganda”

Aku akan terus merindukan kisah itu. Romantisisme pada masa perlawanan.

Bagaimana kabarmu kini? Masih ingatkah kau cerita kita tentang novel Bumi Manusia yang membawa kita berdebat hingga larut malam? Atau tentang Nyai Ontosoroh yang begitu kau kagumi lantaran pemikirannya yang terkesan melampaui zaman?

Rupanya jarak diam-diam menumbuhkan bibit ego untuk memulai percakapan dan itu memuncak di masing-masing diri. Kita sama-sama saling menunggu tapi tak ada yang berusaha untuk mencari lebih dulu.

Terkadang, hati masih selalu dipukul mundur oleh logika. Hati terkadang menjerit untuk mengabari, tapi logika masih terus membatasi dan kembali mengungkit luka lama yang begitu pahit.

Dengan segala diam yang kita pendam, aku akhirnya angkat bicara dan memulai semuanya.

Kusapa kau dari kejauhan. Jemariku bermain di layar ponsel sembari mengetik pesan “Hey, Selamat Malam.”

Kau merespons dengan cepat.

Kita kembali berbagi cerita seperti sedia kala. Hanya saja, ada perasaan canggung di antara kita karena sudah cukup lama tidak saling sapa

Kau lalu bercerita tentang sosok dia yang pergi meninggalkanmu begitu saja. Dia yang telah kau puja rupanya tak bisa menetap hanya pada kau semata. Rasanya terbagi ke segala arah.

Sama seperti kau, yang dulu tak bisa menetap.

Adakah itu karma? Aku tidak tahu. Yang pasti bodohlah diriku jika membiarkanmu terpuruk di ujung dunia.

Soal rasa, kau juga angkat bicara. Bahwa telah tumbuh benih cinta yang telah kusemai sekian lama.

Kita, yang terpisah oleh jarak hanya membiarkan rindu bertaburan di langit malam, aku menatapnya dari kejauhan, berharap kau pun melihat bintang yang sama.

Jarak memang sialan, memunculkan rindu yang tak kunjung dituntaskan dengan pertemuan dan menitipkan segala pengharapan yang tak jua terbalaskan dengan titik terang.

Tunggu, aku akan kembali. Membawa sejuta cerita dan rasa yang telah lama terpendam.

Juga bingkisan hasil berkelana. Ada tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer yang telah lama kau idam-idamkan.

-ooo-

Kau yang sedari dulu memberiku serangkaian kode, telah berusaha ku pecahkan sedemikian rumit.

Pada suatu senja di pantai yang begitu hangat, hati yang melebur dan detak jantung kita yang seirama, desir pasir bermain bersama ombak yang silih berganti berdatangan menjadi saksi bahwa aku dan kau menjadi kita.

Senja mengantarkan aku pada malam yang tak lagi suram. Ada dirimu yang kembali menjadi bintang untuk malam-malamku yang kelam.

Cinta memang selalu punya jalan tersendiri mempertemukan mereka yang terluka.

Aku tak menjanjikan kebahagiaan, tapi selama bersamamu aku akan berusaha.

-ooo-

Rutinitas masing-masing membuat kita terbatas pada pertemuan. Kau kembali pada duniamu pun sama sepertiku.

Kita yang terpisah oleh jarak, hanya sesekali melampiaskannya dengan pertemuan. Tapi aku dan kau sama sekali tak mempersoalkan. Bukankah pertemuan tak butuh waktu banyak. Bukankah pertemuan tidak selalu tentang kuantitas, tetapi kualitas?.

Beri juga ruang bagi rindu agar menjadi bunga tidur yang nantinya bisa kau petik untuk kau tabur pada malamku yang selalu memimpikanmu.

Segala perbedaan yang kita lalui tak lagi menjadi hal yang mesti dibesar-besarkan. Perbedaan itu indah. Ini bukan inginku juga bukan inginmu. Ini kehendak-Nya yang mesti diterima dengan hati lapang.

Pada sebuah jeda, akhirnya cinta yang membawa kita melangkah sejauh yang kita bisa. Menyatukan segala perbedaan diantara kita.

Sukamu adalah senangku, dukamu adalah sedihku, pun sebaliknya.