“Ketuhanan Yang Maha Esa” Begitulah bunyi pancasila yang pertama. Singkat, namun mengandung banyak arti. Kalimat yang terkandung dalam dasar falsafah indonesia tersebut mewakili setiap agama yang ada di Indonesia. 

Dr. Ir. H. Soekarno sebagai pencetus seakan menyatakan bahwa indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri atas beberapa macam agama, bukan hanya satu agama saja. Tidak dibenarkan jika kita saling menjatuhkan satu sama lain hanya untuk mengangkat ajaran agama yang kita percayai. Tidak dibenarkan bahwa kita memaksakan kehendak agar orang lain mau mengikuti ajaran agama apa yang kita percayai.

Kebebasan manusia untuk beragama diatur dalam UU Nomor 39 Pasal 22 Tahun 1999 tentang HAM mengatur tentang hak atas kebebasan beragama dan beribadah sebagai berikut:

 (1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

(2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Pada ayat 1 telah ditegaskan bahwa setiap manusia bebas untuk memilih agama apa yang akan dipercayainya, namun pada kenyataannya sampai saat ini yang memutuskan agama apa yang akan diikuti bukanlah pilihan pribadi kita sendiri, melainkan warisan yang akan diturunkan oleh orangtua kepada anaknya. 

Teman saya pernah bertanya “mengapa kamu beragama kristen?”. Saat itu saya hanya menjawab “aku beragama kristen karena aku terlahir dari orangtua yang beragama kristen”. Lalu dia bertanya lagi “jadi hanya karena orangtua?”. 

Saya tersenyum lalu berkata “Tidak, karena selama aku hidup, dibesarkan dengan agama yang diwariskan oleh kedua orangtuaku aku merasa bahagia. Aku merasa setiap aku memiliki masalah dan berdoa aku mendapatkan ketenangan. Aku bisa mengadu dan menceritakan semua keluh kesahku. Aku merasakan bahwa setelah berdoa aku menemukan jalan keluar atas setiap permasalahanku”.

Pernah sekali teman saya menceritakan bahwa dia mengenal seseorang gadis yang ingin berpindah dari agama yang telah diwariskan oleh orangtuanya agar bisa menjadi seorang kristen. Gadis ini mengaku bahwa dia merasakan suatu ketenangan batin saat mengikuti kami beribadah, namun keinginan gadis itu harus dipendam karena orangtuanya melarang. 

Permintaan gadis tersebut sungguh membuat kedua orang tuanya merasa kecewa dan terpukul. Saya memahami tindakan orangtua gadis tersebut yang melarang anaknya untuk berpindah kepercayaan. Saya rasa bukan hanya orangtuanya, jika saya yang berada di posisi seperti gadis itu orangtua saya pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orangtua gadis itu. Jadi dalam mengatasi masalah seperti ini dapatkah UU tersebut diterapkan?

Jika tujuan setiap orang dalam memeluk agama adalah untuk membangun hubungan antara Tuhan sebagai pencipta dan Manusia sebagai ciptaannya, apakah mempertahankan agama sebagai warisan harus tetap dipertahankan meskipun tujuan utamanya tidak tercapai? Hal lain yang selalu terjadi terhadap orang yang mengganti kepercayaannya adalah sanksi sosial. 

Dalam kehidupan nyata ataupun kehidupan maya akan selalu ada hukuman untuk seseorang yang merubah kepercayaanya. Seperti dipandang rendah, dicacimaki, dijauhi, dijadikan sebagai topik pembicaraan dan disambut dengan beragam kata-kata kasar. 

Lalu jika hal ini masih berlangsung apakah kebebasan seseorang dalam memeluk agama masih bisa dikatakan terjamin kemerdekaannya? yang mengherankan adalah mengapa sebagai manusia bisa dengan mudahnya menghakimi keyakinan orang lain? Wajar jika setiap orang menganggap agamanya yang paling benar namun saya kira, tidak ada seorangpun yang memiliki hak untuk menghakimi keputusan orang lain dalam beragama.

Berbicara tentang hak asasi manusia dalam beragama sangat erat jika dihubungkan dengan terorisme. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam menyikapi perbedaan beragama. 

Ada orang yang mampu menerima perbedaan beragama dengan bersikap netral, ada orang yang mampu untuk menghasut orang lain agar mengikuti agama yang dianutnya, ada orang yang menutup diri dari perbedaan dengan menjauhi orang yang tidak sepaham dan ada juga orang yang memiliki pemahaman untuk menghancurkan orang yang tidak sepemahaman dengan berbagai cara. 

Hal ini yang kemudian menjadi alasan saling membenci satu dengan yang lainnya, sehingga berakhir pada keegoisan pribadi karena merasa dirinyalah yang paling benar dan memicu bersatunya orang-orang yang merasa satu pemahaman, membentuk kelompok dan meneriakkan pendapatnya seolah mereka mewakili harapan setiap masyarakat. Berusaha mencari celah untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan. 

Tidak hanya melalui sosial media menyebarkan ujaran kebencian, tetapi juga saat beribadah pun masih ada tokoh agama yang menyuarakan kebencian. Sungguh disayangkan. Kemajuan teknologi berdampak pada kemudahnya mengakses segala informasi yang dibutuhkan secara bebas, sehingga penyebaran pengetahuan tentang agama yang tidak benar dapat disebarkan.

Ada beberapa tindakan secara nyata yang menunjukan terjadinya terorisme diantaranya adalah peledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 2016, perusakan Masjid Baitur Rohim Tuban di Jawa Timur, Kelenteng di Karawang yang mendapat ancaman bom, Gereja Santa Ludwina Bedog yang diserang menggunakan pedang. 

Tiga patung suci umat Hindu di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur yang dirusak dengan menggunakan kapak pada tahun 2018. Meskipun motif pelaku dalam melakukan hal tersebut berbeda-beda, namun tindakan pelaku yang dengan mudahnya menyebarkan ancaman ataupun melakukan perusakan rumah ibadah dengan sengaja merupakan hal yang harus diselesaikan secara tuntas karena meresahkan masyarakat yang ingin beribadah. 

Kejadian-kejadian tersebut menjadi contoh pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam hal beribadah. Di sisi lain hal-hal tersebut memicu peperangan di antara umat beragama. Komentar-komentar kebencian mulai bermunculan saat berita tersebut mulai dipublikasikan melalui sosial media. Kata-kata kasar, umpatan, isi kebun binatang, kecaman dan kalimat lainnya menghiasi kolom komentar. 

Hei! Tidak sadarkah kalian bahwa yang mengkosumsi berita tersebut bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak di bawah umur. Mereka mungkin melihat, mempelajari bulat-bulat cara kita menanggapi persoalan ini. Bukan mustahil mereka akan meniru cara kita memaki. Generasi yang semakin mudah memanas akan lebih mudah diadu domba.

Satu paham yang harus dimiliki adalah jangan memiliki pemikiran bahwa agama yang dianut oleh pelaku teroris berarti orang-orang yang menganut agama tersebut merupakan teroris juga. Sebaiknya kita mulai mengubah cara pikir bahwa tidak seharusnya menyalahkan suatu agama dan kemudian menyamaratakan bahwa setiap orang yang memiliki agama yang sama dengan pelaku teroris merupakan teroris juga. Cara pandang seperti ini yang harus dihilangkan. 

Saya percaya bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan. Jika ada yang berbuat jahat, salahkan orangnya bukan agamanya. Bertahun-tahun meributkan hal yang sama, perdebatan yang sama dan krisis hal yang sama. Mungkin semua akan tetap sama jika kita hanya bisa menunjuk dan menyalahkan orang lain.

Berhenti menyalahkan dan menuntut pemerintah. Mari kita bersama-sama mewujudkan indonesia sebagai negara yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu jua. Menghormati agar dihormati. Berbalas kebaikan, belajar untuk menghargai orang lain, bersama-sama kita melawan terorisme.

Sumber:

Fatmawati. 2011. Perlindungan Hak Atas Kebebasan Beragama Dan Beribadah Dalam Negara Hukum Indonesia. Jurnal Konstitusi, Volume 8, Nomor 4.