Jakarta, apa kabar? 

Di saat kami merayakan tahun baru, Jakarta banjir. Aku tak percaya. Namun, aku melihat dari berita-berita di media sosial (medsos) yang dibagikan di grup WhatsApp (WA) kalau Jakarta lagi banjir (parah).

Belum lagi, status seorang teman dan keluarga, yang mau merayakan tahun baru di Jakarta, malah terjebak di hotel karena hujan. Kemudian, postingan foto dia selanjutnya, air (banjir) yang menggenang di jalan raya, di depan hotelnya. Saat itu, ia berada di lantai kesekian, namun terlihat jelas mobil yang terendam. 

Lalu, aku bertanya pada seorang panitia kegiatan yang kuikuti di Jakarta lalu. Apa kabar di sana, mbak? Alhamdulillah, di sini baik-baik saja, katanya. 

Rasanya, baru kemarin aku berada di Jakarta, pada kegiatan yang diselenggarakan mulai pada 10 s/d 20 Desember 2019. Aku datang ke sana karena terpilih sebagai peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Ahmad Syafii Maarif periode 3 (SKK - ASM 3).

Peserta yang berjumlah 25 orang itu berasal dari berbagai provinsi yang hampir mewakili Indonesia secara keseluruhan. Walau ada beberapa teman yang berasal dari Papua dan NTB yang datang dari Jakarta itu sendiri, karena mereka itu sedang berkuliah di Jakarta.

Kami berkumpul di ruang yang keren, kantor Maarif Institute, yang terletak di daerah Tebet Selatan. Selama dua hari, kami dibagi dua kelompok untuk melakukan sesi ujian wawancara dan presentasi. 

Dan beruntungnya aku karena mendapat sesi ujian yang pertama. Di hari kedua, di mana yang lain sedang ujian, aku dan beberapa teman yang sudah ujian bisa jalan-jalan keliling kota Jakarta. Kami ke pasar tradisional di dekat hotel daerah Tebet. Lalu, ke Sadra press, membeli buku. Jalan ke Blok-M menggunakan kereta api listrik yang lagi viral (Mrt). Dan tidak lupa makan di warung tegal (warteg). 

Walau jalan- jalan di Jakarta bukan lagi perjalanan pertama, karena sebelumnya aku sudah pernah ke sini. Di tahun 2010, dan 2011.

Di tahun 2010, ketika ke sana, aku mendapat undangan dari sepupu yang datang dari  Aussie, kak Dani, sedang liburan di Jakarta. Dia membiayai semua biaya perjalanan. Walau cuma sekitar dua hari yang juga termasuk perjalanan, aku sangat senang, habis, ini pertama kalinya aku menginjak Jakarta. 

Di hari pertama waktu itu, aku datang dengan menggunakan pesawat dari Jogja, saat itu memang lagi berkuliah di sana. Kemudian, menginap di hotel bintang lima, makan di restoran ala Timur tengah, ke masjid Istiqlal, kemudian naik alias masuk di dalam Monumen Nasional (Monas).

Di hari kedua, kami cuma jalan di sekitar kos sepupu yang lain, makan warteg di pinggiran Jakarta. Aku masih senang bgt, apalagi mendengarkan celotehan khas Jakarta yang rasanya enak di telinga. Namun, kami tak berbelanja di Tanah Abang. Di Jogja, juga banyak barang yang murah-meriah. Lagi pula, uang hibah dari sepupu yang menikah di luar negeri itu bisa dipakai untuk membeli buku.

Pada2011, teman kostku yang berasal dari Filipina, mbak Mucha, mengajakku datang ke Jakarta. Dia yang kuliah S3 itu, sedang mengurus izin perizinan risetnya tentang suku Bajo di kantor LIPI. Aku yang tidak tahu tentang Jakarta ini, diajak menemaninya. 

Katanya dengan penuh humor, "Kita adalah dua orang yang tidak tahu tentang Jakarta, namun, tidak apa-apa kita tersesat berdua, daripada tersesat sendiri."

Aku tertawa mengiyakan, jiwa petualangku muncul, kapan lagi, bisa tersesat di Jakarta? Namun, bukan hanya itu, mbak Mucha, sudah seperti saudara jauhku, keluarga yang berasal dari negeri Pinoy. Dari sharing bersama beberapa kebudayaan Sulawesi banyak yang sama dengan Filipina, hal tersebut membuat kami dekat. 

Aku ke Jakarta dengan mobil travel berangkat malam jam sepuluh, tiba jam sepuluh pagi juga karena pagi-pagi Jakarta sudah macet sekali. Seingatku, kurang lebih seminggu, kami tinggal di hotel bernuansa Jepang yang tidak jauh dari LIPI. Dimana, kami hanya berjalan kaki lewat belakang hotel ketika harus ke LIPI. Kami juga jalan-jalan sambil menunggu surat-surat itu kelar. 

Naik bemo yang lucu, naik bis yang sesak. Jalan kaki ke Monas, karena terletak dekat dengan hotel sambil cuci mata di jualan kaki lima dekat Monas. Makan di blok M, dan sebagainya. Walau macet dimana-mana, Jakarta memang selalu seru untuk dijelajahi. 

Lalu, akhir pertemgahan 2019 ini. Walau, sebagian acara SKK-ASM 3 juga diselenggarakan di Depok (Jawa Barat?), namun, beberapa kegiatan dilakukan juga dilakukan di Jakarta seperti kunjungan ke Yayasan kemanusiaan, yayasan Budha Tzu Chi, di Jakarta Utara.

Jakarta Banjir, Hatiku Sedih

Sekarang, Jakarta banjir. Walau, semua kota di Indonesia selalu menjadi langganan banjir. Namun, entah mengapa, aku bersedih Jakarta banjir. Jakarta merupakan kota yang (masih) menjadi ibukota negara ini begitu mempunyai kedekatan emosional denganku. Walau, aku bukan "orang Jakarta".

Bukan hanya masalah banjirnya, aku juga larut dalam diskusi tentang Jakarta. Ketika Gubernurnya yang keren, Ahok di-bully karena dianggap menghina Al-Quran ketika berbicara di Pulau Seribu. Kata-kata Ahok kemudian diplintir. Saat itu, buya Maarif yang ikut "membela" Ahok menjadi korban kebencian orang-orang. 

Pernyataan Buya, bahwa, Ahok tidak bersalah, Ahok tidak menistakan Al-Quran, telah menjadi sesuatu yang kontroversial. Buya dianggap "aneh" padahal, Buya melihat secara realitas. 

Jakarta dan Permasalahannya

Ada video yang menarik, dikirim di grup WA, tentang 6 kota di dunia yang akan paling cepat tenggelam (fastest sinking). Menurut BRUT, didasarkan dari data World Economic Forum, Jakarta adalah kota kedua yang (telah) tenggelam 6,7 cm per tahun. 

So that's way, dalam video itu, Presiden kita, bapak Jokowi akan memindahkan ibukota negara ini, karena beban Jakarta dan pulau Jawa semakin berat kedepan.

Kata Pak Jokowi, kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas yang sudah telanjur parah, polusi udara, dan air (banjir) yang harus segera ditangani.

Walau Jakarta nanti bukan ibukota negara Indonesia lagi, Jakarta tetap punya daya tarik yang tetap mempesonaku. Jakarta akan tetap jadi Jakarta yang penuh kenangan.