Konsultan
5 bulan lalu · 183 view · 4 menit baca · Pendidikan 75970_29015.jpg
Dokumentasi YIB

Aku dan Cita-Cita Keindonesiaan
Catatan Pengalaman dari Cileungsi

Ijinkan saya berbagi cerita. Tentang cita-cita keindonesiaan, belajar memupuk toleransi, merawat harapan melintasi benua, kontak jodoh hingga memprasastikan nasehat Jusuf Kalla.

Kak Ucu, demikian sapaan akrab Wapres RI Jusuf Kalla (JK) di kalangan aktivis. Mungkin pada periode pertama bersama Presiden Jokowi inilah terakhir kali kita menyaksikan JK memangku jabatan publik. Entah apa lagi lahan pengabdian yang akan diisi JK. Dengan segala sumber daya yang dimilikinya, memang JK adalah pengabdi republik tiada henti.

Sebenarnya besar harapan publik, agar JK terus mendampingi Jokowi di pilpres 2019. Demi keberlanjutan pembangunan, stabilitas dan demokrasi yang terkonsolidasi. Atau mungkin maju sebagai capres. Jokowi pun mengakui bahwa JK paket komplit, baik secara politik, ekonomi, pengalaman di pemerintahan dan sosial-kemanusiaan, serta keagamaan.

Namun demikian, JK mengalami hambatan konstitusional, dianggap terhitung sudah menjabat wapres dua periode, yaitu era Presiden SBY (2004-2009), dan Jokowi (2014-2019). Sekalipun ada upaya sebagian pihak menggugat syarat cawapres ke MK, namun hingga batas akhir pendaftaran capres dan cawapres pada tanggal 10 Agustus 2018, MK belum menggelar sidang judicial review pasal 169 huruf N Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang masa jabatan presiden dan wakil presiden. Singkat kata, peluang JK tertutup.

Akan tetapi, peluang tetap terbuka buat kita selaku generasi muda untuk terus berguru. Cita-cita keindonesiaan JK harus kita kita lanjutkan. Percakapan tentang regenerasi kepemimpinan mesti terus digelorakan.

Pengusaha, politisi kawakan, negarawan, tokoh perdamaian, juru runding konflik antaretnis dan antarumat beragama, birokrat garis lurus, aktivis sosial kemanusiaan, pemikir solutif, icon ormas Islam moderat: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, simpul pemersatu nusantara, adalah beberapa dari sekian banyak kapasitas JK. Tentu saja masih banyak daftar panjang kapasitas dan kiprah JK kalau dituliskan.

Yang penting adalah, kita bisa menjadi ‘JK Kolektif’, Jusufers Kolektif. Maksudnya, diantara kita, sebagai kawula muda dapat meneladani kiprah JK sesuai spesifikasi peminatan dan latar belakang masing-masing. Entah itu merintis jalan menjadi pengusaha, politisi, juru damai, dan sebagainya.

Kalau kita tengok, ada banyak warisan JK. Kita bisa membacanya lewat biografi JK yang sudah banyak beredar, atau serba-serbi JK di media massa. Tulisan ini adalah sekeping pengalaman dari sekian interaksi dengan JK laksana hubungan sang murid dengan sang guru.

Dari Cileungsi ke Istana Wapres

Salah satu nasehat JK yang patut menjadi renungan bersama, dan harus diperjuangkan adalah menempuh pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga kita bisa fokus sebagai ilmuwan. Pokoknya, jangan lupa dengan dunia pendidikan.

Nasehat itu terus membakar semangat kami tatkala JK menerima delegasi Yayasan Insancita Bangsa (YIB) yang terdiri dari 50 peserta penerima beasiswa Bahasa Inggris YIB Angkatan ke-4 di Istana Wakil Presiden, Jakarta (5 Mei 2017). Di istana wapres, JK mendorong agar para aktivis meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris agar dapat melanjutkan pendidikan baik di dalam maupun luar negeri. Jangan urus politik saja, kata JK.

Iya juga sih, polarisasi antara “cebongers” versus “kampreters” sejak pilpres 2014 terus menyita energi para generasi muda bangsa. Padahal, pilpres bukanlah segala-galanya. Semoga labeling cebong dan kampret memfosil, berganti dengan pola komunikasi politik yang berkeadaban.

Sebagai catatan, YIB adalah yayasan yang didirikan oleh beberapa alumni HMI dengan perhatian utama pada pendidikan. Ir. Ismet Djafar, MM, Prof. Dr. Hafid Abbas, Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin, MSc., MEng, Prof. Ismail Suardi Wekke, PhD, adalah beberapa begawan yang setia mendampingi para pendekar YIB untuk berkontemplasi total kala itu.

JK berharap agar para aktivis dapat merebut masa depan melalui ilmu, berlakon sebagai insan akademis. Harus ada aktivis organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan (HMI, IMM, PMII, dan lain-lain) yang serius mendalami spesifikasi akademik dan ilmunya, demi kepentingan kemanusiaan. Saat audiensi itu, JK memberikan apresiasi kepada para awardee yang menuangkan isi hati dan pikirannya untuk kemajuan Indonesia lewat buku.

Riwayatnya, saya bersama Faiz Zawahir Muntaha (alumnus UIN Sunan Gunung Jati Bandung, saat ini Pascasarjana UI), Serpian (alumnus Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Universitas Brawijaya Malang), dan Haikal (alumnus STIE YPUP Makassar, saat ini Pascasarjana Universitas Trisakti), menginisiasi penulisan buku berjudul “Aku dan Cita-Cita Keindonesiaan: Bunga Rampai Gagasan Kebangsaan Anak Negeri”. Buku sederhana itu diberi pengantar oleh JK.

Buku yang terbit pada tahun 2017 itu diharapkan sebagai api kecil agar Indonesia terus menyala. Buku terbitan PB HMI Publishing bekerjasama dengan YIB ini disusun berdasarkan kumpulan 44 tulisan setiap awardee. Para kontributor tulisan berasal dari latar belakang pendidikan dan profesi. Ada yang bergiat sebagai guru, wirausawan/wati, aktivis, wartawan, peneliti, akuntan, budayawan, mubaligh, guru ngaji, teknisi, tenaga medis, bankir, aktivis lingkungan, dan lainnya.

Buku ini terdiri dari enam bab, yakni Cita-Cita Keislaman dan Keindonesiaan; Cita-Cita Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat; Cita-Cita Hukum, Politik dan Kebijakan Pembangunan, Cita-Cita Peradaban dan Perdamaian Dunia; Cita-Cita Sosial, Budaya, dan Pendidikan; Cita-Cita Teknologi, Lingkungan, dan Media Massa. Demikianlah cita-cita kami untuk Indonesia tercinta.

Sebagai tambahan, cita-cita keindonesiaan kami tak sekadar tertuang secara konseptual dalam buku, tapi termanifes dalam nafas keseharian. Misalnya pembudidayaan etos toleransi. Karena santri YIB itu berasal dari berbagai tradisi religio-kultural, maka tak ada kehendak untuk memaksakan teman-teman guna mengikuti ritual peribadatan tertentu.

Malam jum’at sebagian teman Nahdliyin mengadakan yasinan dan tahlilan, maka bagi warga Muhammadiyah cukup menyesuaikan, bahkan terjadi konvergensi. Hari jum’at, kami melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah di mushola YIB Training Center di Cileungsi, Bogor. Adapun khatib, imam, mu’adzin dan pengurus kotak amal dikelola oleh peserta.

Ngaji IELTS yang berlangsung sejak tanggal 25 Januari–22 Mei 2017 di YIB Training Center, memang menguras tenaga dan pikiran. Maka setiap malam minggu, kami menikmati liburan dan hiburan. Al-hasil, musik dan ngopi bareng adalah oase di tengah jepitan kompleks.

Selayaknya unit politik, kami dipimpin oleh seorang “gubernur”. Tercatat dua teman kami, yaitu Khoirul Umam dan Serpian (sesama jebolan Universitas Brawijaya) menjadi gubernur freelance. Kalau Khoirul Umam itu kader NU, maka Serpian adalah kader Muhammadiyah, akhirnya santri YIB bermesraan di bawah tenda besar kedua ormas muslim moderat itu. Karena peserta berasal dari berbagai aneka suku bangsa, maka praktis kami membumikan etika multikultural, sehingga terjadi penyerbukan silang budaya.

Walhasil, akhirnya sudah ada beberapa teman kami yang saat ini sedang melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri. Ada pula yang kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing. Apapun pilihan teman-teman, mudah-mudahan kita terus mewujudkan cita-cita keindonesiaan sesuai rute masing-masing.

Tak sedikit pula yang bertransformasi dari pelamunan ke ujung pelaminan. Nah, ngeri!