Mobil-mobil para penjemput sudah ramai. Mereka terdiri dari berbagai merek, tapi kebanyakan mobil urban. Tempat parkir sekolahku sudah tidak muat untuk dimasuki mobil orang tua yang hendak mengambil rapor. Jalan di depan sekolah terpaksa menjadi area parkir dadakan.

Aku masih duduk di bawah tangga sekolah menunggu bapakku. Seperti biasa, bapak akan datang agak terlambat karena ia harus melaut dulu. Sering kali kedatangan bapak menjadi pemandangan tersendiri bagi wali murid lainnya. Ia hanya bersandal jepit memakai hem yang warnanya sudah pudar dan berbau amis.

Di ujung pagar sekolah, aku lihat bapakku dengan mengendarai sepeda onthel tua dengan bunyi rantai yang sedikit mengundang perhatian para orang tua yang hadir di sekolahku. Tanpa menoleh ke beberapa mobil di parkiran, ia terus melaju menuju gerbang sekolahku.

"Han, jangan pernah silau dengan apa yang dimiliki orang lain. Semua yang diperoleh orang lain itu sudah digariskan oleh yang Kuasa. Tugas kita adalah berusaha dan bersyukur," kata itu masih terngiang jelas. Kata itu diucapkan saat aku diajanya melaut di musim liburan sekolah.

Aku sering mendapat petuah dari bapakku hanya saat kita melaut bersama. Jarang sekali kita kumpul di rumah karena bapak lebih sering diluar rumah untuk berbenah jaring atau kapal yang perlu dibersihkan hingga malam hari.

"Pak, apakah aku akan diijinkan sekolah lagi di perguruan tinggi?" tanyaku suatu ketika. Saat itu aku sedang memancing berdua dengan bapak di malam  malam ketika musim purnama. Saat itu air laut akan pasang dan banyak ikan laut dalam yang minggir ke pantai.

"Semua tergantung kamu, Han," jawabnya singkat. Itulah ciri dari bapak jika memberikan jawaban pertanyaan tentang rencana ke depan. Seolah semua dikembalikan pada yang bertanya karena keputusan pada dasarnya ada yang bertanya.

"Lakukanlah semua yang menjadi keinginanmu. Percuma saja kau bertanya ke orang lain jika dihatimu sendiri selalu mengasikan apa apa yang diutarakan orang lain. Bukankah apa apa yang kita lakukan saat ini karena kita mau melakukan dan bukan hasil dari pertanyaan pertanyaan?"  

"Tapi bertanya adalah bagian dari mencari dukungan untuk apa apa yang kita ragukan, Pak?"

"Salah satu kesalahan kita adalah banyak bertanya dan tak mau melakukan," jawab bapakku sambil melempar kail ke laut yang berombak malam itu. 

Aku masih melamun di bawah tangga saat bapak mendekati aku. "Mana kelasmu, ayo segera ke sana," ajaknya sambil menggandeng aku.

Sudah beberapa semester ini aku gusar dengan diriku. Nilaiku banyak yang turun meski aku masih masuk rangking tiga besar di kelasku. Aku khawatir nilaiku membuat aku tak bisa lolos Seleksi Nasional Masuk Pergutuan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini.

Menurut guru bimbingan konseling di sekolahku syarat untuk lolos SNMPTN nilai rapot harus selalu meningkat. Itulah yang membuatku gusar. Namun, satu hal yang pasti, bapak nggak pernah menanyakan  aku dapat rangking berapa bahkan melihat nilaiku pun jarang. Ia hanya tahu huruf pegon.

Bapakku hanya seorang lulusan pesantren tradisional. Ia hanya pandai membaca kitab kuning. Seringkali ia diundang pengajian ke acara RT. Meski hanya seorang nelayan ia selalu pede mengajarkan kitab kuning yang dikuasainya.

Aku pernah menanyakan perihal keantusian bapak saat mengaji kitab kuning ini. " Pak, mengapa bapak kok senang membacakan kitab kuning ke acara pengajian RT?"

"Ilmu yang paling tinggi itu ilmu agama. Orang banyak mengejar ilmu dunia saja tanpa ingat bahwa dunia ini hanyalah sementara. Kenapa kita nggak mempelajari ilmu untuk menjemput keabadian kan itu lebih bermakna untuk hidup kita kelak," itulah alasan bapak yang diutarakannya dengan ketgasan yang sangat.

"Ilmu dunia hanya akan membuat kita lupa. Dunia itu sebenarnya menipu. Kita terlena seolah keindahan itu nyata padahal sebenarnya semu dan fana."

"Terus apa sekolah saya menjadi sia sia? Bukankah di sekolah aku lebih banyak berurusan dengan ilmu duniawi?"

"Bukan begitu, Han, kamu harus pintar memilah kebutuhan saat mana ilmu dunia itu harus kau gunakan untuk mengatasi kesulitanmu. Dan landasilah selalu dengan nilai nilai agama agar ilmu yang kau pelajari tak kehilangan arah."

Di ruang kelas sudah hampir sepi. Aku dan bapakku terlambat datang. Para wali murid   sudah banyak yang pulang. Beberapa tadi ada yang berpapasan denganku sambil murung. 

Aku mengantarnya masuk ke ruangan. Ia duduk dengan tenang. Kulihat  mulutnya bergerak gerak, mungkin sedang berdo'a. Saat namaku dipanggil Ia melangkah ke depan dengan tenang.

Wajah wajah orang tua di sekolah saat musim ambil rapot selalu bisa menunjukkan bahwa anaknya tergolong berhasil di sekolah apa tidak. Di antara mobil mobil yang sedang diparkir itu aku mendengar ada tangisan juga ada bentakan.

Di atas boncengan sepeda butut bapak,  kami pulang bersama. Di atas sepeda onthel butut ini, aku tak pernah mendengar bentakan ataupun keluhan tentang isi rapotku. Ia terus mengayuh tanpa keluh. Meski aku sudah SMA, ia tak pernah minta aku untuk menggantikan memboncengnya. 

Sebuah mobil melintas cepat melewati kami berdua. Aku melihat kepala yang keluar dari jendela mobil itu. Di tengah deru mobil kudengar suara di dalamnya, "Han.... Selamat, ya....."