83379_95365.jpg
cnnindonesia.com
Gaya Hidup · 5 menit baca

Aku Cemburu pada Boby dan Kahiyang

Menyaksikan pernikahan Bobby-Kahiyang melalui layar teve memuat saya merasa iri dan cemburu. Kemesraan mereka ditonton oleh jutaan pasang mata manusia Indonesia. Hujatan ucapan selamat dan do’a membanjiri kepada kedua mepelai. Pernikahan yang diselenggarakan di Kota Solo kediaman bapak Presiden Jokowi dibanjiri oleh ribuan tamu undangan, baik kalangan elit, tokoh agama, kalangan menengah, dan masyarakat biasa.

Empat kereta kencana yang mengantarkan kedua mempelai menuju Graha Saba Buana diiringi oleh para Polisi Wanita (Polwan) yang cantik menambah keistimewaan pernikahan kedua mempelai menuju kebahagiaan. Kedua mempelai juga sebagai cerminan dari sebuah keragaman. Kahiyang yang berasal dari Solo Jawa Tengah dan Bobby yang berasal dari keluarga Mandaling Sumatra membuat keharmonisan terpancar pada acara pernikahan mereka.

Di samping itu, acara pernikahan kedua mempelai menyatukan semua kalangan tokoh, tokoh agama, tokoh politik, dan masyarakat biasa dari berbagai daerah. Rasa cemburu itu pun semakin menggebu. Andai saya Bobby yang bisa menikahi Puteri dari orang nomor satu di Negara ini, sungguh akan membuat perasaan merasa sangat bahagia. Mengingat pernikahan adalah momentum melepas lajang yang dirayakan penuh dengan rasa kebahagiaan sebagai bentuk saling cinta.

Mematangkan Diri

Kematangan dalam berbagai hal dirasa perlu dalam melepas masa lajang, baik dari segi ekonomi, keluarga, mental, dan lebih lagi pendidikan. Pernikahan bukanlah perkara menjalani proses adat dalam suatu hubungan kasih sayang penuh bahagia seperti yang kita saksikan pada pernikahan Bobby-Kahiyang. Namun dibalik hal tersebut, kesiapan dan kematangan mental harus menjadi acuan, agar bayangan terhadap proses pernikahan tidak sesakral yang kita bayangkan.

Saat ini memang umurku sudah 24 tahun. Saya sedang dalam masa –masa senang dengan status  lajang. Banyak teman-teman, baik teman rumah, kampus, dan teman satu organisai sudah menanyakan kesiapan menuju pernikahan. Tidak pernah saya bayangkan nantinya dengan  siapa  (wanita) saya menikah? Apakah mendapat hujatan baik seperti Bobby-Kahiyang? 

Entah saya tidak tahu, yang pasti, saya akan menyiapkan berbagai hal terlebih dahulu dari sekarang, baik segi ekonomi, pendidikan, keluarga, dan mental barulah mencari pasangan dan berkomitmen untuk melepas masa lajang.

Tanggung jawab yang  cukup besar dan berat untuk ditanggung membuat saya dulu tidak menikah diusia dini. Waktu saya masih dalam masa-masa sekolah pada tingkat pertama, tidak pernah terpikirkan bagaimana rasanya menikah diusia anak-anak, kesiapan mental, ekonomi, peran orangtua, keluarga, dan  budaya di lingkungan tempat tinggal sangat berpengaruh bagi pernikahan.  

Pada usia 15-16 ayah saya mengajarkan saya tentang agama dan membimbing saya tentang pentingnya pendidikan untuk terus belajar agar nanti memahami setiap persoalan yang ada di lingkungan sekitar.

Pernikahan pada dasarnya bertujuan untuk membentuk dan membangun rumah tangga yang bahagia, sudah pasti dambaan semua pasangan. Pernikahan adalah  ikatan  lahir batin antara  seorang  laki-laki dengan seorang  wanita  sebagai  suami  istri dengan  tujuan  membentuk keluarga (rumah   tangga)   yang   bahagia   dan   kekal   berdasarkan  keTuhanan Yang Maha Esa, (Undang-Undang pernikahan No. 1 tahun 1974).

Pernikahan adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumah tangga demi keberlangsungan hidup berdampingan selama ikatan pernikahan. Secara lahir batin peran istri akan menetupi peran suami begitu pula sebaliknya. Dengan begitu segala daya upaya hubungan antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi.

Hindari Nikah Dini

Pernikahan/perkawinan dini merupakan hal yang inklusif dipengaruhi oleh kemiskinan, dualisme hukum, pergaulan anak, dan budaya masyarakat kita. Budaya yang beragam dan multikultur membuat kasus pernikahan dini menjadi susah diatasi dan ditekan oleh pemerintah yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). 

Contoh kecil masyarakat Lombok (Sasak) memang tidak mengesahkan pernikahan dini. Namun, ada beberapa celah yang membuat pernikahan dini dilakukan. Budaya Sasak dalam pernikahan dini menjadi urgensi ketika dua pasangan telah melakukan perzinahan (hamil diluar nikah), maka harus dinikahkan. Disamping itu, pernikahan dini memiliki legalitas dalam dua legitimasi hukum, antara lain hukum islam dan hukum positif.

Kita lihat saja, pada UU Perkawianan No. 1 Tahun 1974, batas perkawinan anak laki-laki adalah 19 tahun dan batas perkawianan anak perempuan adalah 16 tahun. Legitimasi lain dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU perkawinan menjadi perdebatan. 

Perkawinan adalah sah apabila dilakukan dan dicatat menerut ketentuan perundang-undangan yang berlaku”. 

Legitimasi ini membuat dualisme hukum yang sama kuat  dalam mengatur pernikahan dini. Secara hukum pernikahan dini sah apabila dilakukan menurut hukum adat dan hukum agama.

Dalam hukum Islam misalkan, tidak ada batasan mutlak umur seseorang mempelai untuk dikawinkan/dinikahkan. Kelonggaran ini seringkali dimanfaatkan dengan tidak melihat penyebab terjadinya pernikahan dini. 

Jadi, anak yang belum cukup secara mental, ekonomi, dan pendidikan sah apabila kedua belah pihak menyetujuinya sebagai pasangan suami-istri.

Dominasi hukum adat dan agama memang mempengaruhi maraknya pernikahan dini. Dijelaskan dalam kitab suci Al-quran surah Annur ayat 32, Allah berfirman; “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba–hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Ayat di atas mempertegas lagi bahwa pernikahan adalah hak seseorang baik secara ekonomi, mental, dan pendidikan untuk melakukan pernikahan. Namun penulis menggasisbawahi “yang layak kawin” makna tersebut membuat masyarakat yang memeluk Islam dalam hal ini harus memperhatikan makna yang terkandung di dalam ayat di atas. Bahwa menurut beberapa ulama “yang layak kawin” adalah seseorang yang sudah mampu dalam hal mental dan spiritual, namun tidak pada batas usia.

Dualisme hukum tersebut menjadikan dilematis hukum yang membuat kasus pernikahan dini marak terjadi dan tak bisa dihindarkan. 

Maraknya kasus pernikahan anak usia dini dan membuat permasalahan ditataran sosial yang bisa menambah angka kemiskinan. Disamping itu,  membuat Indeks 

Pembangunan Manusia (IPM) menjadi semakin rendah. Dari data Badan Pusat  Statistik yang bekerjasama dengan KPPPA bahwa kemiskinanlah yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan anak usia dini.  

Pada tahun 2014 korban pernikahan anak usia dini berjumlah 722.518 anak dari jumlah pernikahan 2.110.776. Jumlah pernikahan anak usia 16-18 tahun berjumlah 711.000 anak, dan jumlah pernikahan antara 10-15 tahun berjumlah 245.000 anak,  (Kompas, 3/11/2017).

Data tersebut menunjukkan tingginya kasus pernikahan anak usia dini, sehingga regulasi pemerintah dalam menanggulangi masalah ini perlu bersinergi dengan masyarakat. 

Peran orang tua menjadi sangat penting dalam menjaga anak agar anak tidak terjun bebas dalam pergaulan, tontonan, dan pola hidup. Anak menjadi reaktif dan aktif mengenal lawan jenis ketika lepas kontrol dari orang tua.

Maka penulis berpendapat perlu kiranya memperhatikan pelbagai hal dalam  pencegahan pernikahan dini. 

Pertama, pemerintah harus mengkaji ulang legalitas hukum, hukum agama, adat, dan hukum positif, sehingga legitimasi tersebut dapat mencegah pernikahan dini, baik dari segi kesiapan mental dan usia. 

Kedua, perkuat peran kedua orang tua dalam menjaga pergaulan anak dan memberikan pengetahuan kepada anak untuk lebih memahami makna pernikahan. 

Ketiga, pendidikan dapat berupaya penuh secara kontekstual  dalam merepresi pernikahan dini, dengan mentransfer materi pembelajaran kepada peserta didik agar dapat mencegah pernikahan dini, baik tingkat SD, SMP, dan SMA sebagai pencapaian dan tujuan Sustainable Deplovment Goals (SDGs) tahun 2030.

Maka sudah seogyanya kita harus cemburu pada Bobby-Kahiyang. Pernikahan mereka bukan hanya menjadi tontonan dan polemik, melainkan mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan bukan hanya sekedar tentang seksualitas dan nafsu belaka. 

Namun, perlu adanya perhitungan secara matang agar lebih siap baik mental, pendidikan, dan ekonomi. Sebab pernikahan adalah sebuah hubungan  sakral yang harus ditanggung bersama kedua pasangan selama hidup dalam satu atap.