Seorang perempuan yang membuat aku jatuh hati padanya. Semoga dalam keadaan yang diberkati kasih sayang oleh Tuhan. Dan beserta itu dikarunia kuasa pula untuk bisa rampung membaca suatu karya yang sengaja aku tuliskan untuknya.

Dengan alasan itu; aku persembahkan semua hak kausalitas dari tulisan ini untuk seorang gadis yang begitu anggun di mata hatiku. Seketika membuat aku paham arti sebuah doa yang selalu dipanjatkan untuk keselamatan keharibaan di sepanjang perjalanannya.

Sebenarnya aku terus mencoba untuk berhenti menulis tentangnya. Namun pada akhirnya kalah tanpa perlawanan; sebab pada dasarnya aku selalu punya niat baik untuknya.

Begini saja mudahnya. Biar gampang memahami maksud dari tulisan ini; pada pandangan pertama tanpa disengaja apalagi direkasa. Hatiku telah tertinggal di kedalamam hati yang paling dalam dari seoarang gadis yang sangat anggun. Selayaknya Dewi Anggraini putri Prabu Hiranyadanu dari negeri Nisada dalam cerita pewayangan Mahabratama. Yang amat murah hati, santun dan setia

Namun dalam kesempatan ini. Aku tidak punya niatan sama sekali untuk berperan sebagai Arjuna dalam pewayangan Mahabratama di kisah Dewi Anggraini. Yang selalu memaksakan kehendak untuk menanamkan obornya di hati putri Prabu Hiranyadanu. Agar rasa cinta yang dimiliki Arjuna mampu menerangi kegelapan dari kedua bola matanya yang telah terpanah dengan kecantikan Dewi Anggraini.

Aku pula tak mau adanya rasa mahabbah dengan jalan kekerasan. Seperti yang dilakukan oleh Arjuna dalam kisah Pewayangan Mahabratama; mengusung anak panah tanpa parang ataupun pedang melawan Prabu Ekalawya di medan perang.

Sebenarnya aku pada awalnya datang membawakan rasa kasih sayang yang lemah lembut tanpa paksaan. Namun aku dulu tak sanggup pula untuk memilih kepada siapa aku harus dilahirkan. Dan kini aku juga tak sanggup memilih kepada siapa aku harus mencintai.

Tanpa argument untuk membantah diri sendiri bagiku tak perlu. Sebab aku sangat setuju dengan kata Sujiwo Tedjo. Sang dalang itu; menikah merupakan nasib dan mencintai itu takdir. Kau bisa menikah dengan orang yang kamu kehendaki. Namun kau tak bisa menghentikan kepada siapa cintamu bersemi. Dan pemilik hak kausalitas dari tulisan ini adalah seorang perempuan yang aku cintai.

Meskipun demikian. Aku sadar ada penalaran yang belum bisa dirasionalkan. Sebagai tanda telah jatuh hati aku padanya. Semua akan aku rasionalkan. Dengan pemaparan yang aku sandarkan pada Usman Arumy sebagai perawi yang menyampaikan tentang penjelasan Imam Ghozali yang begitu rinci dalam perihal Mega karyanya; Ihya bahwa amal itu muncul lantaran bermula dari ahwal, dan ahwal itu bisa terjadi jika ada ilmu.

Maka begini saja gampangnya; begitu aku memandangnya untuk kali pertama. Ada sesuatu yang berdesiran di dalam dada. Nah pada pandangan pertama itu dinamakan ilmu. Sebuah informasi yang didapat melalui mata. Setelah mendapatkan ilmu tersebut lalu muncul ahwal.

Sesuatu yang berdesiran di dalam dada itu dinamakan ahwal. Istilah gampangnya yaitu keinginan-keinginan yang bersuara di hati. Maka mencintai seorang gadis yang punya hak kausalitas dari tulisan ini. Dinamakan amal.

Dan tidak musthahil pula. Sudah 6 bulan lebih semenjak aku memandangnya kali pertama. Tuhan masih menjaga amal yang telah aku jaga dengan untain doa di pagi buta. Nah di situ pula ketika embun bercucuran di ujung daun-daun pohon kehidupan. Aku selalu menyambutnya dengan takzim; membayangkan hubungan gaib antara manusia dengan Tuhan. Dari hubungan gaib itu manusia semakin dekat dengan Tuhan.

Bermula dari hubungan antara manusia dengan Tuhan. Aku merasa ada kebebasan yang Tuhan berikan. Semua rasa rindu telah aku ekspresikan melalui doa. Karena yang aku sadari rasa mahabbah adalah penentu kebebasan ekspresi spiritual manusia. Tuhan memberikan ruang yang luas bagi manusia untuk mengungkapkan rasa cintanya.

Aku menduga-duga seperti itukah hubungan yang aku jalani selama ini? Aku tak yakin. Namun diam-diam aku berharap demikian.

Mata hatiku bertasbih untuk mempelajari agama. Dan aku sadar pula. Setiap perempuan punya iffah yang tak boleh dinodai dengan permata atau berlian sekalipun. Sedangkan aku mempunyai muru’ah yang harus dijaga.

Berbicara tentang mahabbah (antara fitrah dan fitnah). Aku lebih memilih pada suatu ungkapan yang dinisbatkan pada Al-Ilmu Tajwid; layaknya wakaf mu’anaqoh. Aku hanya diperbolehkan berhenti di salah satunya yaitu ta’aruf atau khitbah saja.

Maka lupakanlah cinta!

Sebab cinta adalah kesepian untuk menjaga, merawat dan menumbuhkan seseorang menuju derajat kehidupan yang lebih tinggi. Dan kesepian selalu mensyaratkan dua hal penting; kemantapan hati serta kemampuan. Kata, Azhar Nurun Ala.

Dalam konteks tersebut pasti sudah paham. Apa maksud baikku? Pada awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk mengubah statusnya sebagai pacar. Begini saja mudahnya; di qaidah ushul fiqh dalam perihal amar (suruhan) bahwa Al-Ashlu fil Amri Lilwujuubi (pada dasarnya perintah itu menunjukkan wajib). Tapi sayangnya dalam agamaku tidak ada suruhan; Ghoozil (berpacaranlah). Semacam itulah niat baik sudah aku rasionalkan.

Agar lebih jelasnya. Anggap saja kita saling mengenal. Yang duduk berdua dengan hidangan susu coklat hangat di meja kita. Dalam ucapan santun yang kita pesan pada Tuhan.

Maka tersenyumlah. Semacam itu cara aku mencintai seorang perempuan yang hak kausalitas tulisan ini dipegang olehnya. Dan terimakasih di sementara waktu ini. Masih diberi kesempatan aku mengenal untuk sekian kalinya.