Suatu ketika aku menyusuri telaga sunyi di matamu yang tak juga tumpah-ruah. Aku ingin berenang bersama dengan segala sedih yang pernah kau tawarkan, sekaligus menyucikan diri akibat bekas gigitan juga kukumu yang tajam mencekam itu, kala kuajak kau saling memeluk untuk melebur dosa untuk menyisakan kenangan.

Aku membayangkan bagaimana Tuhan mencipta semesta dan kelamin kita yang saling membutuhkan. Mungkin itulah manifestasi kesempurnaan di dunia. Tabu terucap, tapi liar menancap, kadang-kadang.

Luka-luka di tubuhku membekas layaknya korban yang sempat terselamatkan dari ganasnya Buaya lapar.

Tapi anehnya aku yang melulu kau sebut Buaya darat, Buaya ganas, dan Buaya semacamnya yang mengerikan, walau kaulah yang selayaknya kusebut demikian. 

Di lain sisi, aku juga heran pada kehidupan ini, khususnya kaum muda yang seumuran denganku. Sedikit-sedikit mengeluarkan kata disebut Buaya, di mana penamaan itu kerap kali dilontarkan oleh perempuan-perempuan yang terlihat intelek, justru.

Nama reptil yang dipilih tersebut bisa jadi sudah melekat di alam bawah sadar beberapa perempuan untuk membentengi dirinya agar nampak terlihat pongah dan berjiwa besar yang tak mempan dengan kata-kata gombalan.

Kelirunya sebab kalimat itu kadang dikeluarkan tanpa landasan kuat dan analisis yang mendalam, sungguh mengerikan bila hal semacam ini terjadi dalam konteks lain pada kehidupan ini.

Aneh tapi nyata, sebuah konteks yang bertentangan secara moral. Antara kemuliaan dengan sesuatu yang nyaris terbilang rendah. Sebagaimana diketahui bahwa Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air.

Secara ilmiah, Buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk pula Buaya sepit (Tomistoma schlegelii). Meski demikian nama ini dapat pula dikenakan secara longgar untuk menyebut ‘Buaya’ Aligator Kaiman dan Gavial; yakni kerabat-kerabat Buaya yang berlainan suku. (Wikipeida.org).

Kalau pun Buaya identik dengan sesuatu yang hina, seperti perlakuan lelaki nakal yang suka ganti-ganti pasangan, juga tidak relevan bila memilih Buaya sebagai pelabelannya. Sebab, ternyata Buaya justru tergolong hewan yang paling setia. 

Buaya jantan bisa dibilang sebagai hewan paling setia dan cukup menyayangi pasangannya. Bila sang betinanya mati, Buaya jantan tak akan mencari betina lain. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sendirian. (Kompas.tv).

Adalah keanehan bila lelaki yang suka menulis puisi atau merangkai kata-kata pada perempuan yang disenanginya dibalas, Buaya. Sebuah perlakuan yang mencerminkan kebengkokan logika dan membatunya keping hati.

Aku juga jadi khawatir hal semacam ini menjadi tradisi, terlebih warisan hingga anak-cucu kita nanti, yang melabeli apa-apa saja sesuai keinginannya, lalu menjadi viral dan membudaya.

Penjelasan singkat di atas sengaja aku masukkan agar cakar dan tajam gigimu tak lagi berfungsi keliru, sayang. Agar perilaku kebinatanganmu bisa takluk berbuah romantis.

Belum lagi sebutan yang sebelumnya seolah telah menjadi langganan bibirmu, hendaknya kau hentikan saja, atau paling tidak cari kata lain dan berikan pada benda-benda langit yang sampai hari ini belum punya nama.

Selain merendahkan esensi manusia, penyebutan Buaya juga sangat menghina akal sehat, oleh sebabnya aku selalu mengharap engkau bisa melepas kebiasaan  burukmu itu, dengan memulai cara yang lebih objektif.

Meski kau tahu, apapun yang kau lakukan, aku tetap mengagumimu sebagaimana mestinya. Seperti gerak planet lewat porosnya, tak saling sikut dan tetap saling menjaga secara harmoni.

Tapi bila kau tak sanggup merubahnya, aku terima dengan lapang dada, bisa jadi kita memang hanya sepasang kemungkinan yang konyol, antara aku yang Buaya dengan kau sebagai lubangnya.

Kita menjadi lubang buaya yang nelangsa. Saling butuh untuk memeluk menuju kehancuran, sia-sia.

Namun harus kau ketahui, sayang. Bila penamaan tak sesuai objek, walau eksistensi tak akan berubah hanya karena penyebutan,tapi  tetap saja. Ada semangat yang remuk patah oleh harap yang tak sesuai kenyataan, ada ingin yang tumbang sebab penolakan.

Demikian dialami lelaki yang benar-benar tulus mencintai, lalu mendeskripsikan perasaannya dalam bentuk kata-kata, puisi, potongan sajak, tapi dibalas, “Dasar Buaya”. Sialnya hidup ini!

Kita tidak mampu menerka kebenaran sebuah cinta kasih. Orang-orang menulis dan menyampaikan perasaannya dengan cara sendiri-sendiri. Sekali lagi, jangan mengira-ngira. 

Ini adalah perihal kecil dari polemik kehidupan, tapi semua hal-hal besar juga bermula dari sesuatu yang kecil, bukan?

Aku menulis ini untukmu sebagai pertimbangan, bukan menggurui apalagi mengintervensi. Aku hanya bermaksud membuatmu berpikir berbeda dengan perspektif gila.

Kau yang terlahir sebagai perempuan, kuharap bisa merdeka dan berdaulat atas otoritas tubuhmu sendiri.

Aku berharap kau tak membabi-buta dengan penyebutan yang kacau hanya sebab ingin dipandang menawan, padahal buta makna.

Bila kau terusik, pergilah tempuh jalan hidupmu. Jadilah calon ibu yang membanggakan dan membahagiakan, biar luka lusuh dan rontok rindu ini kutanggung sendiri.

Sampai ketemu di lain waktu. Mungkin dengan bekas luka yang menampung segala kenang tentangmu. Tentang kita yang usang dan masih terus berjuang usai di sisa hidup yang sudah lama asing juga terasa mati ini.