Seks. Sebuah kata yang seolah tak pernah lepas dari peradaban dan eksistensi seorang individu. Entah pria maupun wanita, seks seolah menjadi asupan kenikmatan yang katanya sayang untuk dilewatkan. Seks kini tak lagi dipandang sebagai hal yang tabu untuk diperbincangkan. Ia nikmat hingga tak ada kata sekompleks apapun yang dapat melukiskan kenikmatan itu. Ahh sudalah yang penting seks itu nikmat. 

Tapi tunggu dulu jika kau memaknai seks hanya sebatas hubungan seksual yang dilakukan pria dan wanita maka aku akan menertawai dirimu. Kenapa? Itulah pertanyaan bullshit yang mungkin akan muncul dari otak awammu itu. Aku tak memaknai seks sebatas hubungan yang paling awam itu. Seks adalah tentang diriku dan bagaimana aku menikmatinya. Kau mungkin lebih tidak memahami dan memaknai hal ini. Bakilah akan kuceritakan kisah yang paling romantis itu. 

***

Jatuh cinta seolah telah buyar dari ingatanku. Frasa itu seolah hilang dari pikiranku dan mungkin aku akhirnya amnesia permanen khusus frasa itu. Aku memang pernah terlahir normal dari sel sprema ayah yang sukses membuhai sel telur ibu hingga terlahir menjadi manusia yang paling malang ini. Kukatakan malang karena hingga akhirnya aku tak lagi jatuh cinta dan menjadi tak normal lagi. Kau mungkin akan menertawai aku saat ini. Tapi itu kebebasanku sebagai individu yang paling merdeka. 

Aku pernah jatuh cinta. Cinta itu paling dalam hingga palung Mariana pun akan cemburu kalau sampai mengetahuinya. Tapi aku bukan manusia yang paling konyol hingga akhirnya bunuh diri karena frasa bullsiht yang gagal aku realisasikan itu. Cinta seolah tenggelam dan hilang tak tahu rimbanya. Aku tak berniat lagi untuk mencarinya karena percuma saja. Cinta itu membosankan. 

Ia hanya nafsu yang sengaja disederhanakan demi menutupi aib isi kepala yang mesum itu. 

Pernah dalam suatu diskusi yang paling egois sepenggal pertanyaan pernah dilontarkan kepadaku. "Jika kau tak memiliki rasa untuk jatuh cinta lagi, apakah nafsu seksualmu itu masih ada?" Pertanyaan ini seolah mengindikasikan kalau sang penanya merupakan orang paling goblok yang akhirnya lolos saat pembuhaan namun gagal hidup di republik ini. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab namun layak untuk dimaki. 

Omong kosong jika aku menyangkal nafsu seksual itu. Yang tidak normal memang aku tidak jatuh cinta, namun seksku normal meski wanita tak menjadi daya tarikku lagi. Kau mungkin akan bertanya lagi apa yang menjadi maksudku di sini. Apakah aku seorang gay, biseksual, pecinta mayat atau binatang? Ahh dasar orang goblok haruskah kujelaskan orientasi seksualku biar kau sadar dan tak lagi menyibukkan dirimu di negeri penggosip ini? 

Akan kusedehanakan maksudku di sini. Aku hanya mengatakan kalau aku tak lagi jatuh cinta tapi tak pernah mengatakan kalau aku tak lagi memiliki rasa sayang. Jika kau memahami cinta itu sama dengan sayang maka zona literasimu masih sebatas batok kepala yang perlu diisi lagi. Aku tak lagi jatuh cinta kepada wanita yang harus kuspesialkan untuk sepanjang hidupku. Wanita seolah menjadi bumerang dan petaka jika kau hanya memandangnya sebatas objek pemuas hasrat seksual yang liar itu. 

Seorang manusia mungkin akan memilih untuk tidak jatuh cinta lagi dengan alasannya tersendiri. Namun rasa sayang dalam diri manusia itu tetap ada kecuali ia seorang psikopat yang tak lagi memiliki rasa cinta bahkan sayang sekalipun. Kukatakan kalau aku seorang paling malang karena tak lagi memiliki rasa cinta namun tak pernah kukatakan kalau aku tak lagi memiliki rasa sayang. Sebuah pernyataan eksplisit ini secara gamblang coba mengartikan kalau cinta dan sayang merupakan dua makna kata yang berbeda yang harus kau pahami terlebih dahulu. 

Memang aku tak normal menjadi manusia karena semua manusia mempunyai perasaan untuk jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Tapi semua itu kini tak lagi berarti bagi diriku. Aku yang malang ini akhirnya menghilangkan perasaan jatuh cinta kepada sosok perempuan yang ayu sekalipun. Lalu kepada siapa kubagikan rasa sayang itu? Ya akan kubagikan rasa sayang itu kepada makhluk hidup termasuk manusia itu sendiri. Tapi aku tak lagi menjadikan seorang wanita menjadi yang paling spesial bagiku karena rasa sakit akibat masa lalu seolah telah membekas dalam nubariku. 

Omong kosong jika aku menyayangi semua manusia tanpa ada hasrat seksual yang tumbuh. Itu mungkin pernyataan lanjutan darimu yang seolah menjadi Socrates di era peradaban modern ini bukan? Hasrat seksual itu memang ada dalam diriku namun sebisa mungkin ku kendalikan hasrat omong kosong itu. Rasa sayang yang paling tulus ialah menerima semua kekurangan manusia dan menjadi sahabat yang baik bagi mereka. 

Lalu bagaimana aku dapat menghindar dari hasrat seksual itu? Bukankah seks itu nikmat? Itu bullshit. Kau seolah mengartikan dan menyamakan kalau cinta dan seks merupakan dualisme kebutuhan yang tak akan terpisahkan. Cinta yang tulus akan berpuncak pada rasa sayang yang paling mendalam. Lalu bagaiman aku tidak jatuh cinta jika ingin mencapai rasa sayang itu? Sudah kukatakan kalau aku pernah jatuh cinta namun itu akhirnya hilang. Aku memilih untuk membagi rasa sayang karena itu lebih universal. 

Hasrat seksual itu akan kukendalikan dengan terus menyibukkan diri membagi rasa sayang itu. Jika kau tak mampu mengendalikan hasrat seksual itu berarti bukan kau yang mengendalikan tubuhmu namun nafsu seksualmu yang membelenggu dirimu. Seks itu nikmat tapi percayalah membagi rasa sayang kepada semua makhluk hidup itu lebih nikmat. Tak ada cinta yang ditutupi nafsu. Semua tentang ketulusan yang akhirnya membawamu pada kebahagiaan. Jalaluddin Rumi pernah menuliskan, dekat dengan api menghangatkan, dekat dengan es mendinginkan. Maka dekatlah dengan sesama dan sayangilah mereka maka kau mendapat rasa sayang itu pula bagi dirimu. 

Bersenggama tak harus dengan tubuh manusia sebagai objek yang paling dewasa. Aku memeluk kehidupan dan mencumbu semua makhluk hidup dengan rasa sayang bukan nafsu berhubungan badan.