Hari kian renta dalam bentuk senja. Tapi kau malah kian membara di dalam dada.

Tentangmu yang tak bisa kurapikan. Mengingatmu yang tak bisa kuhentikan. Dan, mencintaimu yang tak bisa kutundukkan.

Kau hadir secara tak sederhana, menjelma kelindan rasa paling rumit di dunia. Bisakah sejenak semua ini biasa-biasa saja?

Satu hal paling kubenci dalam hidup: jatuh cinta. Aku juga tak bisa mencintai dengan sederhana. Aku punya rasa paling kusut nan semrawut. Berantakan, ambyar seambyar-ambyarnya.

Candaanmu receh dan amat murahan. Lalu, kau berhasil menyentuh hatiku samar-samar. Hingga teramat dalam.

Ternyata jatuh cinta tidak butuh hal-hal mewah dan mahal, ya? Atau, aku saja yang tak berkelas? Entahlah.

Awalnya, aku hanya ingin main-main saja. Alasannya sudah pasti, karena aku tak mau jatuh cinta. Yeah, sampai akhirnya aku terjebak sendiri. Mungkin juga kau. Atau bukan mungkin, pasti kau juga terjebak!

Kita, dua orang terperangkap dalam permainan hati. Ha-ha-ha. Kemudian saling mengasingkan dan saling menertawai kebodohan diri. Tapi, sayangnya tak bisa berhenti mencintai.

Permainan konyol macam apa ini?

Lantas kita sama-sama tak peduli dan pergi. Aku enyah dan kau berlalu. Namun, ganasnya rindu telah mengoyak-koyak hati.

Aku tetiba sering memimpikan dirimu (atau mungkin kau juga?). Rahangmu yang keras, matamu laksana elang, dan bahumu membidang gagah. Alamak, kau bak pangeran berkuda saja. Aku makin berhalusinasi dan (mungkin) hampir gila.

Di batas cakrawala, derita cinta tiada akhirnya. Kata siapa cinta itu indah? Ya, tentu saja kata mereka yang sama-sama dimabuk asmara. Sementara untukku yang juga dimabuk asmara (sepihak?), cinta menjadi rasa lebih rumit dari rumus fisika. Perasaanku terombang-ambing dipermainkan dahaga cinta.

Aku mulai dihinggapi todongan-todongan rindu. "Apakah kau juga merindukanku?" Rasanya, kau wajib merindukanku jua. Tapi, di rasa yang lain, rasanya, kau pun tak harus.

Ada batas di hatiku bagai sungai Nil yang terbelah ketika Nabi Musa dikejar Fir'aun. Satu sisi, aku ingin kita bersama. Satu sisi sebelahnya, kau pun berhak bahagia dengan keinginanmu.

Sudah kubilang, aku benci jatuh cinta. Aku benci pusing sendiri begini. Jatuh tertatih-tatih sulit mengalpakanmu dari hidupku. Andai saja cinta dan perasaan punya rumus yang tetap, aku harus giat memelajarinya. Ah, andai saja.

Musim silih berganti. Malam dan siang tak berhenti beradu. Hujan datang dan pergi sesuka hati ke bumi. Celakanya, kau tak mau pergi dari pikiranku.

Maka, kupilih jeda sejenak. Kuadukan segala rasa dan asa pada Pemilik rasa. Bertasbihlah cinta dalam untaian waktu, semoga ini menjadi pelabuhan rasa dalam asa-asaku.

Gelap. Semua tetiba tiada cahaya dan hampa. Di sana kutemui Pemilik rasa bercerita.

Jadi, aku tak pantas dan tak boleh benci jatuh cinta. Seperti daun jatuh tak pernah membenci angin. Kukira, hatiku tak pernah salah pilih dia. Dan, aku menduga, intuisi tak pernah salah sangka.

Baiklah, wahai Pemilik rasa. Aku mengalah dengan segala kerelaan. Kunikmati saja semilirnya angin yang membelai kesepian. Kala senja, dia pun tersenyum tampan di antara jingganya semesta.

Untuk sekadar memberi tahu. Rinduku mengakar dan membelukar memenuhi spasi di hatiku. Susah payah kucabut dan kupangkas, tapi ada lagi. Begitulah seterusnya.

Kau percaya jodoh? Aku sangat percaya.

Tiap cinta belum tentu berjodoh, tapi jodoh pasti saling mencinta. Setidaknya, Pemilik rasa pasti menghadirkan cinta untuk masing-masing.

Hatiku bercerita, kau pun tengah dilanda risau dan galau. Kau mengaduh kesepian, lalu lari ke sana dan ke sini. Tapi, tak menemui ketentraman.

Kau lari kepadaku dan merasakan bertemu "rumah", aman dan nyaman. Laksana anak rantau bertemu orang tuanya. Laksana bulan yang berganti fajar.

Tapi, kau berdusta. Kau ingin membohongi hatimu sendiri dan membiarkan kelindan rasa makin kusut. Lalu, kau pergi mencari tempat berlindung yang lain.

Berhentilah, Sayang. Aku bagaikan ibumu yang menanti kau pulang dari rantauan. Cemas dan terus terjaga.

Cinta dariku untukmu begitu sakral. Sesakral kasih ibumu kepadamu. Kau pasti mengira aku berbohong, terserah!

Aku pun tak percaya bisa sepalung ini jatuh cinta. Aku pernah bersama siapa saja, tapi tak seberhenti menemukanmu. Kau adalah pelepas dahaga di antara oase pencarianku. Kau seperti es teh di kala matahari menyengat. Sempurna!

Sakral. Aku ingin memiliki kasih putih nan sakral. Di mana ketika kita sama-sama berjanji kepada Pemilik rasa adalah sebenar-benarnya janji. Kita sadar dan terjaga, bukan terlelap dan diliputi mimpi.

Melihatmu, kesakralan itu kian mengental. Dan, aku rela menungguimu usai dengan kekasih-kekasihmu yang lain. Kau pasti tahu, aku mulai menggilaimu. Kau pasti tahu, aku mulai kehilangan warasku.

Kau ke mana-mana dan aku diam di sini saja. Sebab, semesta telah berbisik bahwa kau sisi kepingan jiwaku.

Aku merasakan kegelisahanmu. Pun tahu ketika kau coba berlindung di rumah yang salah. Kau hanya mengulur waktu dan membuatnya mubazir, Sayang.

Dan, suatu saat kau akan dipenuhi sesal. Sebab, tak bersamaku dari awal. Sebab pula, aku adalah kepinganmu. Sebab pula (lagi), selama ini kau telah menelantarkan sebagian dirimu (aku).