Kau adalah hujan lebatku
Kebisingan yang memenuhi ruangku
Suaramu memadati kepalaku
Keriuhan yang kurindukan selalu.

Musim hujan tiba. Air langit membentuk genangan, kenangan, mantan, gebetan, chat-an, dan semua yang berakhiran –an. Juga aku yang masih sedikit bajingan.

Kurangkai kalimat-kalimat ini sebagai pengingat bagi diriku sendiri. Bahwa aku pernah memiliki perasaan istimewa kepadamu, bahwa aku mengakuinya, mengingatnya, dan menjadikannya bagian dari diri dan hidupku.

Aku mengungkapkan semua yang kurasakan kepadamu. Hal-hal yang kusukai hingga hal-hal yang tidak kusukai. Tapi, toh tak ada artinya. Kau tak pernah peduli.

Kau masih menjadi alasan jantungku berdebar. Itu benar adanya. Selama bertahun-tahun. Tapi, kini debaran itu makin berkurang seiring pesanmu yang makin jarang datang.

Aku masih memikirkan sejak kapan kerenggangan itu bermula. Kau mulai sering marah kepadaku dan memanggilku dengan kata-kata yang tidak sepatutnya. Tapi, menurutmu, aku pantas mendapatkannya. Kau menunjukkan dirimu yang sebenarnya.

Mengapa aku menyukaimu? Aku pun kerap kali bertanya. Aku melihatmu sebagai pribadi yang unik. Karakter yang belum pernah kutemui sebelumnya. Perpaduan antara pikiran yang keras, mulut yang kasar, dan hati yang melankolis, juga sensitif.

Aku suka hatimu yang melankolis, ketika kau dimabuk asmara dan mulai menuliskan sekumpulan puisi tentang hujan. Puisi tentang dan untuk seorang perempuan yang selama ini kau cintai dalam diam. Dan oleh dirinya, kau ditolak. Aku berkabung denganmu pada saat itu. Tapi, katamu, kau baik-baik saja. Ya sudah.

Aku ingin berada di dekatmu, mendengarkan semua keluh kesah permasalahan hidupmu. Aku ingin menawarkan pundakku untukmu bersandar. Menawarkan pemikiranku untuk membentuk sudut pandang baru dan melihat dunia dari sisi yang beragam. Aku ingin kau merasa bahwa kau punya teman berbagi dalam banyak hal.

Tapi, semua itu hanya keinginan dan perasaanku saja. Segala sesuatunya secara sepihak. Entah bagaimana perasaanmu sebenarnya, kau tak pernah mengatakan apa pun. Aku juga tak bertanya, karena aku tahu bahwa kau akan menggunakan hakmu untuk tidak mengatakan apa pun.

“Perasaan adalah urusan masing-masing,” katamu mengutip kalimat itu begitu sering. Sesering setiap kali gejolak emosimu kambuh sejak saban hari. Dan pada sebuah senja yang kita nikmati bersama, akhirnya kau ucap kata pisah. Kau harus ke luar kota untuk bekerja. Menguras keringat untuk bertahan hidup di dunia yang makin kapitalistis.

“Aku masih melihat bayangan perempuan itu di mana-mana," gumammu pada saat itu. Ketika senja mengendap perlahan lalu hilang tak bersisa. Aku tahu, kau sedang tidak baik-baik saja.

Hari itu, aku tidak tahu apakah wajah yang kulihat itu—yang menangisi perpisahan kami, melihatku sebagai teman, adik, ataukah seorang kekasih? Tapi, aku tahu pasti, cinta segitiga tidak pernah benar-benar sama sisi.

Tujuh belas purnama telah berlalu sejak pertemuanku yang terakhir kali denganmu. Aku ingin mengirimkan pesan, menanyakan ini dan itu, dan berbasa-basi seperlunya. Tapi, aku urung melakukannya. Aku takut mengganggu aktivitasmu. Terlebih jika hanya harus meladeni omong kosongku.

Lalu, aku mulai menjelajahi dunia maya, mengintip setiap akun media sosial yang kau miliki. Kau masih seperti dulu. Menulis puisi tentang hidup, hujan, dan mungkin juga perempuan itu. Kau masih mengingatnya.

Kuyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Di sana pun, kau juga baik-baik saja. Tapi, apakah kita benar-benar baik-baik saja?

Aku mulai mengirimimu pesan, tapi kau meresponsnya dengan tidak bersahabat. Penuh benci dan caci maki. Aku bertanya mengapa. Adakah aku melakukan kesalahan kepadamu atau bagaimana? Jawaban terkait hal itu tak pernah datang.

Aku memohon maaf padamu atas segala hal. Tapi, yang kudapatkan darimu hanya diam. Pesan-pesanku tidak terbaca, terlebih lagi berbalas. Rupanya, visabilitas media telah kau nonaktifkan.

Lalu, satu per satu pesanku makin gencar menujumu. Menjadi spam, menjadi sampah. Aku tidak lagi peduli. Aku akan terus mengirimkan pesan omong kosong hingga aku bosan. Aku tahu kau membacanya, walau tidak menanggapinya. "Perasaan adalah urusan masing-masing," gumamku pada diri sendiri.

Hingga akhirnya, sebanyak dua ratus enam puluh tujuh pesanku hanya kau baca saja. Mengapa kau tidak memblokir akunku? Jawabannya, kau tidak bisa. Kau memiliki perasaan itu kepadaku, entah rasa benci ataukah antonim katanya. Yang terpenting bagiku adalah bahwa kata-kataku merasuki pikiranmu. Pikiran orang yang berpikir bahwa ia mampu mengabaikanku.

Abaikan saja aku. Hempas aku sesukamu. Negasikan saja eksistensiku seperti yang selama ini kau lakukan. Aku mungkin sedikit kehilangan, tapi kau akan banyak kehilangan. Tidak ada orang lain seperti diriku, kau tahu itu.

Aku lelah. Lelah menginginkan penjelasan yang tak kunjung tiba. Maka, biarlah kubuat sendiri kepastian itu. Aku akan beranjak pergi. Membawa diri dan kisah-kisahku menuju hati yang lain.

Setiap hujan pasti akan berhenti. Dan aku akan berhenti mencintaimu kala hujan reda.