Aku terbangun ketika ranah ini telah terbagi menjadi dua fraksi. Ya, aku bahkan tak sempat lagi untuk sekadar mengucek mata, terlebih aku harus berkaca segala. 

Orang-orang di sayap kiri memandangku "ngeri". Mereka bilang, aku adalah ponakan "zombie". 

"Zombie? Apa itu? Kenapa mereka mengataiku seperti itu? Bukankah aku adalah ponakan Paman dan Bibi?" Lirihku pelan seraya mundur ribuan langkah dari pandangan mereka.

Segera rasanya inginku berbicara pada Paman ataupun Bibi yang sejak pagi-pagi kemarin telah berpenampilan rapi dan ketikaku tanya, "Paman dan Bibi ada urusan apa?" Entahlah, mungkin aku hanya berbasa-basi mengingat mereka yang memang selalu rapi ke mana saja.

"Paman dan Bibi akan ada 'sidang paripurna', kamu hati-hati ya di rumah, jangan lupa makan, jangan main jauh-jauh, kalau ada apa-apa, telepon Paman atau Bibi secepatnya." Kurang lebih seperti itu kalimat yang terlontar dari mulut mereka setiap hendak meninggalkanku di rumah yang kusebut ini "istana". 

Dua panggilanku tak dijawab oleh Paman, dan dua panggilan tak dijawab oleh Bibi. Aku paham, lagi dan lagi, aku mereka abaikan. Namun ucapan-ucapan dari orang sayap kiri tadi membuatku berpikir keras, apa yang sedang terjadi? 

Baiklah, pertama-tama aku akan mencari tahu apa itu Zombie! Tekadku seraya mengambil laptop yang kubiarkan terletak begitu saja di atas meja belajar bersama miniatur Unicorn dan juga Barbie di sana.

Aku mengenal aplikasi YouTube melalui asisten rumah tangga kami yang bernama Mbok Rahmi. Hanya saja, sudah tiga bulan, Mbok Rahmi "dirumahkan" lantaran positif terjangkit Corona.

Bagi Paman dan Bibiku, tentu saja ketidakhadiran Mbok Rahmi di tengah-tengah keluarga kami merupakan suatu hal yang tidak perlu dipermasalahkan lantaran ada banyak sekali asisten rumah tangga di istana ini. Tapi bagiku, aku kehilangan sosok teman yang kerap membantuku ini dan itu selama tiga bulan terakhir.

Tidak butuh waktu yang lama, dan hanya melalui aplikasi YouTube saja, kini aku paham apa itu zombie! Namun yang menjadikanku tidak paham adalah, kenapa orang-orang di sayap kiri bilang bahwa aku adalah "ponakan" dari makhluk se "eeuuww" itu?

Berpikir seolah menguras energi naga-naga di dalam perutku. Ya, aku lapar. Seraya menyeduh sereal, aku pun mengamati trending topic pagi ini dan tentu saja masih menggunakan laptop yang sama.

"Hhh!" Terkejut  bukan main ketika aku meliat ada wajah Paman dan Bibi di layar monitorku bahkan menduduki trending pertama.

"RUU Cipta Kerja?" Aku penasaran lalu membaca lengkap isi dari RUU Cipta Kerja tersebut.

1. Uang pesangon dihilangkan.

2. UMP, UMK, UMSP dihapus.

3. Upah buruh dihitung per jam.

4. Semua hak cuti (cuti sakit, cuti kawinan, khitanan, cuti baptis, cuti kematian, cuti melahirkan hilang dan tidak ada kompensasi).

5. Outsourcing diganti dengan kontrak seumur hidup.

6. Tidak ada status karyawan tetap.

7. Perusahaan bisa memPHK siapa pun secara sepihak.

8. Jaminan sosial dan kesejahteraan lainnya hilang.

9. Semua karyawan berstatus tenaga kerja harian.

10. Tenaga kasir asing bebas masuk.

11. Buruh dilarang protes, ancamannya PHK.

12. Libur hari raya hanya pada tanggal Merah, tidak ada penambahan cuti.

13. Istirahat di hari Jumat cukup 1 jam, termasuk salat Jumat. 

"Haaaa?" Kedua bola mataku seperti hendak keluar dari cangkangnya membaca keputusan Paman dan Bibi yang sudah disahkan sejak kemarin.

"Yang benar saja? Paman dan Bibiku menetapkan RUU seperti ini? Kejam sekali!" keluhku.

Aku berjalan menuju jendela seraya mengintip keadaan di bawah. Orang-orang di sayap kiri menunjuk-nunjuk ke arah istana ini seraya memegang papan-papan bertagar,

#mositakpercaya

#batalkanomnibuslaw

#tolakruuciptaker

#wafatnyahatinuranidanakalsehatpemerintahri

Dan masih banyak yang lainnya. Paman, Bibi, aku takut. Bagaimana jika mereka bertindak lebih nekat dari ini? Tidakkah Paman dan Bibi memikirkan keluarga mereka? Anak-anak mereka? Kenapa? Kenapa Paman dan Bibi melakukan semua ini?

Aku terlambat menyeka air mataku yang telah menetes terlebih dahulu. Seraya berjalan menuju kamar, aku kembali fokus pada layar monitor untuk melanjutkan apa yang sedang dihadapi oleh negaraku sekarang. 

Ketika RUU Cipta Kerja itu disahkan, bukankah Paman Irwan, Paman Didi, dan Paman Benny hendak menginterupsi keputusan Paman dan Bibi? 

Kenapa Paman dan Bibi tidak memberikan mereka kesempatan? Kenapa Paman dan Bibi malah mematikan microfonnya? Kenapa Paman dan Bibi tidak memberikan hak mereka sebagai orang-orang yang juga berada di sayap kanan?

Jika hak sesama orang di sayap kanan saja, tidak diberi, apalagi hak orang-orang disayap kiri :'-( 

Jika orang-orang di sayap kanan saja, Paman dan Bibi buat mereka sakit, apa lagi orang-orang di sayap kiri :'-( 

Sekarang aku paham, Paman; sekarang aku paham, Bibi kenapa orang-orang bilang, aku adalah ponakan zombie, karena zombie "Merampas Kemanusiaan Manusia" :'-( Seperti yang telah Paman dan Bibi lakukan sekarang ini!

Tapi, Zombie hanya menyakiti Manusia, Zombie tidak pernah menyakiti sesama! Sedang Paman dan Bibi turut menyakiti orang-orang di sayap kanan juga, apa itu artinya, Paman dan Bibi lebih buruk dari zombie?

Benarkah? Lalu, aku ini ponakan siapa? :'-(