Tanganku sontak mengepal. Jemariku tiba-tiba membrutal. Hampir semua stasiun televisi di Indonesia menyiarkan bagaimana aksi unjuk rasa lantaran ulah Paman dan Bibiku kemarin itu.

Aku marah melihat mereka yang dibuat berdarah! Jantungku berdegup kencang, memacu tekadku untuk mengakhiri semua tindak semena-mena ini sekarang! Paman dan Bibiku sudah sangat keterlaluan!

Seraya menghentak kasar, aku pun membuka lemari yang mereka buat melebihi ukuran rumah orang-orang sayap kiri yang berada di pinggir kali. Ornamen-ornamen bergaya klasik ini, entah kenapa aku menjadi jijik melihatnya sedang semula, aku terpesona karenanya.

Aku mengambil celana gunung berwarna Army bersamaan dengan kaos Hitam seharga 55 ribu saja! Detik ini juga, aku akan menjadi "Masyarakat Indonesia".

"Non Agata mau ke mana?" tanya salah seorang asisten rumah tanggaku.

"Mau naik gunung," sahutku tanpa menolah.

"Tapi di luar sana lagi berbahaya, Non," cegahnya takut-takut.

"Kalau kamu tauh di luar sana lagi berbahaya, kenapa aku di rumah harus senang-senang aja?!" aku memang sudah marah sejak tadi.

"Maksudnya, Non?"

"Aku mau naik gunung!" Aku segera melangkah melewati pintu belakang. Tidak jauh dari istanaku, orang-orang di sayap kiri telah berbanjiran.

Aku berjalan ke luar komplek dengan penampilan yang tak seorang pun akan mengira bahwa aku adalah ponakan dari "Pejabat Negara".

Asap Hitam mengepul mencerminkan terbakarnya jiwa dan raga mereka. Ini Indonesia atau Palestina?! Air mataku telah habis! Jelas, ini bukan saatnya untuk menangis!

Oh Agata! Sepertinya semesta memang sedang berpihak kepadaku. Aku mendekati hamparan orang-orang sayap kiri, sedang mereka menyambutku baik bahkan lelaki yang tengah memimpin aksi siang itu malah menyerahkan toa legendaris tersebut.

"Apa mereka mengenaliku?" batinku seketika.

Aku jelas merasa tidak ragu, ini adalah saatnya aku bersuara! Aku bukan lagi ponakan lugu dan polos mereka! Aku adalah Agata, yang sedang menyuarakan permasalahan masyarakat Indonesia.

"Kami, masyarakat Indonesia menggugat RUU Cipta Kerja! Kepada yang berwenang, jangan kami para buruh yang kalian serang! Jangan kami rakyat biasa yang kalian tendang! Jangan kami rakyat tak tahu apa-apa yang kalian kuliti lalu kalian panggang!

Kami para buruh tahu arah! Kami rakyat biasa pun bisa lelah! Kami yang tak tahu apa-apa berhak untuk marah!

Negara kita, yang katanya 'Negara Pancasila', sekarang menjadi 'Negara Panca Sara!'

Satu, ketuhanan yang maha hormat. Dua, kemanusiaan yang adil bagi lara birokrat. Tiga, persatuan para investor. Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, penindasan dalam permusyawaratan diktatoriat. Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat kelas atas!" Mereka semua sontak bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu Paman Iwan Fals pada bagian,

Saudara dipilih bukan dilotre, meski kami tak kenal siapa saudara..

Kami tak mau pilih yang juara, juara diam, juara he'eh juara hahaha..

Wakil rakyat, seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat.. Wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tau nyanyian lagu setuju..

Toa legendaris itu aku serahkan kembali pada lelaki yang semula memberikannya kepadaku. Aku yang masih tidak paham dan sedikit kikuk ini belum memperoleh jawaban kenapa dengan mudahnya lelaki itu menyerahkan toa itu. Sudahlah, yang penting aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan.

Aku mundur beberapa langkah. Lelaki itu masih dengan semangat 2020nya menyuarakan apa-apa saja yang tengah dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Jika aku masih terkungkung dalam istana di tengah amarah orang-orang sayap kiri ini, maka aku akan merasa sangat berdosa.

Dalam hitungan detik, air deras ditembakkan ke arah kami. Orang-orang sayap kiri tak menyangka atas perlakuan yang mereka terima saat ini. Tidak! Orang-orang sayap kiri yang sedang bersamaku saat ini sama sekali tidak brutal. Mereka hanya membakar ban dan tidak merusak apa pun.

Tidak lama, gas air mata pun diluncurkan. Ini gila! Ini hanya akan mengundang caci, maki dan sumpah serapah rakyat! Masyarakat mulai berlarian meninggalkan tempat itu. Ledakan demi ledakan mulai meraja di langit hitam. Aku ikut berlari menjauh meninggalkan lokasi tersebut.

Mataku mulai perih dan pandanganku mulai kabur. Orang-orang di sayap kanan telah saat mengambil tindakan! Aksi seperti ini justru kian mengundang aksi yang lebih anarkis. Oh tidak, aku merasa penglihatanku kian gelap, semakin gelap dan..

***

Aku tersadar dan mendapati plafon berukiran ornamen klasik yang sudah bisa kutebak, aku telah kembali ke istana. Asisten rumah tanggaku bilang, Paman dan Bijbi masih belum pulang. Aku merasakan pusing yang luar biasa, belum lagi mataku perih sekali rasanya.

Aku beranjak menuju ruang tengah, menyalakan televisi dan mendapati momen penuh perjuangan dan pengorbanan hari ini. 

Mahasiswa yang terluka, masyarakat yang terluka, aparat yang mulai memainkan senjata.

"Paman, Bibi, hentikan," lirihku pelan. Lagi-lagi aku merasa sakit melihat video-video ini.

Aku sontak teralihkan oleh siaran berikutnya, siaran di mana gubernur-gubernur di beberapa provinsi yang sudah menandatangani surat penolakan atas RUU Cipta Kerja yang menjadi dalang itu. 

Aku merinding bukan main, gugatan di beberapa provinsi di Indonesia telah berhasil. Aku melompat saking girangnya. Bertepuk tangan dan berdoa kepada Tuhan, semoga negara ini terlindungi dan terselamatkan dari segala keburukan, dari luar negara ataupun dari dalam negara sendiri.

Aku terharu :'-)