Bagaimana sebuah tindakan dapat dikatakan bernilai dalam kolektivitas manusia pada ruang publik? Bagaimana manusia dapat mendefinisikan dirinya sebagai makhluk yang bertindak bukan hanya atas tuntutan biologis semata, atau menghasilkan karya hanya dengan tujuan instrumental?

Dua pertanyaan pendahulu itu akan kita jawab dalam analisis teori tindakan Hannah Arendt.

Hannah Arendt adalah filsuf wanita yang unik. Pengalaman hidupnya turut membentuk gaya filsafatnya, sehingga sulit mengkategorisasikan Arendt dalam mazhab filsafat yang selama ini berkembang. 

Pemikiran-pemikirannya lahir dari sebuah refleksi atas kondisi anti-semitisme Nazi Jerman, sehingga Arendt dalam beberapa karyanya secara naratif membahas persoalan mengenai totalitarisme, kekerasan, dan kejahatan.

Hannah Arendt lahir di Hanover, Jerman, 14 Oktober 1906. Ia lahir dalam keluarga Yahudi sekuler dan merupakan anak tunggal dalam keluarga. 

Arendt, sebagaimana sebagian kisah filsuf Jerman yang hidup pada masa totalitarisme Nazi, menghabiskan sebagian besar hidupnya berpindah-pindah negara demi mengamankan dirinya. Ia berpindah dari Hanover ke Konisberg, dan kemudian Berlin. Tahun 1922-23, Arendt menempuh studi di Universitas Berlin, dan pada tahun selanjutnya masuk dalam Universitas Marburg untuk belajar filsafat. 

Di sini ia menjadi murid Martin Heidegger, dan menjalin kisah romantis dengan Heidegger, tapi pada tahun selanjutnya hubungan itu kandas. Kisah ini menjadi topik hangat pembicaraan di kalangan filsuf. Tidak heran dalam pemikirannya Arendt terpengaruh dengan Heidegger.

Setelah itu, Arendt pindah ke Heidelberg dan belajar pada Karl Jespers, seorang filsuf eksistensial, dan menyelesaikan disertasinya tentang konsep cinta dalam pemikiran Agustinus. 

Pada 1933, demi menghindari totaliterisme Nazi, ia pindah ke Prancis. Ketika Jerman menginvansi Prancis, Arendt bersama suami keduanya: Blucher, terbang ke Amerika dan menetap di New York pada 1941.

Arendt banyak menerbitkan karya-karyanya, antara lain yang utama adalah The Origin of Totalitarianism (1951), Human Condition (1958), Eichman in Jerusalem: A Report on Banality of Evil (1963), On Violance (1970). Beberapa karya ini belum termasuk dengan karya-karya Arendt lainnya yang membahas berbagai hal. 

Seperti yang diketahui, misalnya dalam The Origin of Totalitarianism ia membahas asal-usul totalitarisme, seperti anti-semitisme dan imperialisme. Dalam Human Condition, ia membahas kondisi manusia modern.

Dalam Eichman in Jerusalem: A Report on Banality of Evil membahas tentang banalitas kejahatan dari sebuah reportasi persidangan perwira Nazi, yaitu Eichman di Jerusalem, dan dalam On Violance membahas soal kekerasan.

Dengan demikian, sulit menyajikan semua topik pembahasan karya-karya Arendt dalam suatu artikel seperti ini. Seperti janji penulis, kita hanya akan membahas teori tindakan Hannah Arendt, yaitu Vita Activa

Mengenal Vita Activa

Arendt dalam Human Condition mencoba menganalisis kondisi manusia modern, yang kemudian hasil analisisnya itu disajikan dalam sebuah rangkaian teori tindakan, yaitu Vita Activa. Dalam Vita Activa, Arendt mengkategorisasikan tindakan manusia menjadi tiga tahapan; Kerja (labour), Karya (work), dan Tindakan (action).

Sebelum memulainya, Arendt mencoba mengkritisi tradisi filsafat barat yang berkembang, yakni kecenderungan filsafat pada ide-ide dan esensi, atau tradisi idealisme yang dimulai sejak Plato. 

Tradisi idealistik macam itu membawa filsafat pada kondisi subordinasi dunia praxis manusia, atau hanya membawa filsafat pada kegiatan kontemplatif. Tradisi filsafat ini membuat tindakan hanya pada dunia metafisik tentang ide-ide, dan bukan pada kehidupan konkret.

Arendt ingin membumikan filsafat pada suatu upaya nyata dalam tindakan konkret di dunia. Tradisi filsafat yang berkembang sebelumnya membawa pada kondisi yang meletakkan Theoria di atas Praxis, dan Episteme di Atas Doxa. Sehingga hal tersebut membuat filsafat kokoh pada menara gading dan tak mau membumi.

Vita Activa atau tindakan aktif, seperti disinggung di atas, terbagi dari tiga bagian, yakni; Kerja (labour), Karya (work), dan Tindakan (action).

Kerja (labour) adalah tindakan, atau aktivitas keseharian untuk pemenuhan kebutuhan hidup, yakni makan, minum, masak, dan menyangkut kebutuhan biologis lainnya. Pada tahapan ini, manusia bertindak secara alamiah, yaitu pemenuhan kebutuhan biologis.

Kerja dilakukan untuk menjaga eksistensi individu agar dapat berlangsung dengan cara memenuhi kebutuhan alamiahnya. Kerja tidak menciptakan permanensi atau keadaan tetap, tetapi suatu keadaan dinamis yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan alamiahnya. 

Arendt menyebutnya sebagai Animal Laborans atau binatang pekerja. Kerja dilakukan atas ketertundukan manusia atas kebutuhan alamiah-biologisnya, sehingga kerja merupakan tindakan ketidakbebasan (unfreedom), karena kerja adalah ketidakbebasan akibat kontrol alamiah, maka kerja ekuivalen dengan budak.

Dalam kerja (labour), manusia membuat tindakan yang menggambarkan kondisi animalitas atau kondisi alamiah, yang dilakukan adalah tindakan untuk bertahan hidup semata. 

Tindakan ini tentu belum bisa jika ditafsirkan ke dalam kolektifitas sebuah ruang masyarakat, karena dalam masyarakat dibutuhkan solidaritas, maka upaya-upaya individual untuk pemenuhan kebutuhan pribadi akan menghancurkan tatanan kolektifitas dalam masyarakat.

Kita bisa menganalisisnya dengan memakai distingsi Aristoteles yaitu; Oikos (dunia privat/dunia rumah tangga), dan Polis (dunia pubik/komunitas politik). Kerja (labour) hanya cocok dimasukkan dalam Oikos, karena usaha-usaha kerja atau Labour merupakan kebutuhan privat dan bukan kebutuhan publik dalam komunitas politik. 

Jika ia dimasukkan dalam Polis, maka efeknya adalah menghancurkan tatanan publisitas yang sudah terbangun dengan membawa suatu kondisi alamiah untuk bertahan hidup yang tentu bersifat individual. Publik akan disibukkan dengan kegiatan ekonomistik individu, dan akan menegasikan realisasi kebebasan politis di dalam Polis.

Selanjutnya, Karya (work) adalah kegiatan produktif, di mana manusia memproduksi suatu karya yang akan dijadikan sebagai sebuah alat atau instrumen. 

Kegiatan produktif manusia dalam membuat karya terbangun atas sebuah kesadaran instrumental, sehingga menghasilkannya dalam bentuk material (homo faber). Kelahiran suatu karya ini merupakan prakondisi dari tatanan publisitas, tetapi belum dalam kesadaran politik.

Dalam karya (work), mausia membedakan diri dengan kondisi animalitas alamiah, yaitu tuntutan biologis sebagaimana kondisi kerja (labour)

Jika dalam kerja atau Labour manusia sibuk atas kontrol alamiah, dalam karya manusia menciptakan sesuatu untuk kebutuhan manusia, atau kebutuhan instrumental dan bukan kebutuhan biologis semata.

Karena karya diatur dengan tujuan instrumental manusia, dan tidak dalam kontrol animalitas alaminya, maka dapat dikatakan karya merupakan upaya realisasikebebasan (freedom), tetapi nampak dalam kebebasan yang non-politik. 

Jadi berbeda dengan ketidakbebasan (unfreedom) dalam kerja (labour). Walaupun karya (work) tampak dalam kebebasan yang bentuknya non-politik, tetapi karya adalah prakondisi dari tindakan politik. 

Misalnya membuat WC umum di kampung sebagai kesadaran instrumental secara bersama-sama akan melahirkan kondisi kolektif, walau belum pada kesadaran politik, karna kesadaran politik akan muncul pada tahap ke tiga yaitu Tindakan atau (action).

Karya menciptakan sebuah ekosistem publik di mana karya menghasilkan sebuah arena publik di mana orang-orang berkumpul memanfaatkannya. 

Karya menghasilkan dunia bersama atau Common World karena fungsi intrumentalnya yang berguna bagi sesama, dan jika ini berlangsung konsisten, dan masyarakat menjadi dewasa dalam publik, maka bukan tidak mungkin muncul kesadaran politik.

Tindakan (action) dalam Arendt dimenegerti sebagai taraf tindakan paling tinggi. 

Tindakan adalah sebuah tindakan dimana manusia tidak hanya disibukkan dengan kegiatan alamiah dalam kerja (labour), dan tindakan instrumental dalam karya (work), tetapi suatu tindakan manusia dimana ia mulai mengorganisasikan diri dalam pluralitas ruang publik untuk merealisasikan capaian-capaian bersama secara bebas dan berkesadaran politis.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, politik ada pada tingkat paling atas yaitu tindakan (action) dalam suatu rangkaian tindakan Vita Activa

Politik menempati tingkat tertinggi dalam teori tindakan Vita Activa Hannah Arendt. Dalam hal ini, tujuan mengorganisasikan diri dalam dunia masyarakat konkret untuk merealisasikan kebebasan politik adalah tindakan nyata untuk mencapai kebaikan bersama.

Politik menurut Arendt hanya mungkin jika ada kebebasan. Kebebasan bukan sebuah hal yang statis atau sesuatu yang given, tetapi kebebasan harus dicapai dan direalisasikan. 

Politik dan kebebasan hanya mungkin jika ada ruang publik yang sehat dan produktif, maka politik, kebebasan, dan ruang publik adalah sebuah rangkaian paralel yang bergerak secara simultan.

Dalam taraf tindakan ini, manusia tidak lagi mendefinisikan diri sebagai Homo Laborans, dan Homo Faber, tetapi mendefinisikan diri sebagai Zoon Politicon

Kesadaran politik dalam Action menanamkan fondasi kuat atas pendefinisian diri sebagai mahkluk politik, maka sebagai mahkluk politik, manusia telah mempunyai kesadaran politik dan meralisasikannya dalam bentuk kebebasan di ruang publik. 

Ruang publik adalah ruang di mana sebagai tempat bersama, saling berbagi, saling memahami, saling melihat dan dilihat, saling mendengar dan didengar.

Dengan dijelaskannya teori tindakan konkret Hannah Arendt dalam rangkaian teori tindakan Vita Activa, maka Arendt memperjelas capaian tindakan manusia yaitu Action

Dalam Action kita mengkonstruksi budaya pada kehidupan nyata dengan tujuan praxis, bukan mengkonstruksi budaya kontemplatif tanpa ada upaya praxis.

Jelas di sini bahwa Arendt menghancurkan tradisi kontemplasi ide-ide dalam filsafat barat dan menuntun kita pada sebuah tindakan nyata denga menempatkan Praxis di atas Theoria

Dengan mengikuti dan menganalisis tindakan dalam Vita Activa, kita mendapatkan suatu rangkaian teoritis yang sistematis yang akan menuntun tindakan kita yakni: Action.

Referensi

  • Agus Sudibyo: Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt. Marjin Kiri, 2012.
  • Eddie Sius Riyadi: Politik Sebagai Kebebasan: Menilik Teori Tindakan dan Konsep Kebebasan Politik Hannah Arendt. Diambil dalam rangkaian tulisan dalam buku: Kembalinya Politik. Editor: Ronny Agustinus. Marjin Kiri, 2008.
  • Editor: F. Budi Hardiman. Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokrasi dari Polis Sampai Cyberspace. Kanisius. Yogyakarta, 2010.
  • Benyamin Molan: Hannah Arendt: Kekerasan Bukan Tindakan Politik, Namun Bukan Tanpa Resiko. Jurnal Respons volume 14 no. 1 (2009): 45 – 64 (c) 2009 PPE – UNIKA ATMA JAYA, Jakarta.
  • Stanislaus Nugroho: Politik, Kekuasaan, dan Kekerasan Perspektif Hannah Arendt. Jurnal Respons volume 14 no. 1 (2009): 65 – 77 (c) 2009 PPE – UNIKA ATMA JAYA, Jakarta.