Aktivisme sosial adalah keharusan bagi kaum muda. Diksi aktivisme (activism) dalam dunia pergerakan sudah tak asing lagi. Bahkan, begitu akrab digunakan. 

Kamus Merriam-Webster mengartikan aktivisme sebagai “A doctrine or practice that emphasizes direct vigorous action especially in support of or opposition to one side of a controversial issue.” (Sebuah doktrin atau praktik yang menekankan tindakan langsung yang kuat terutama untuk mendukung atau menentang satu sisi dari suatu masalah yang kontroversial).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyematkan makna “Kegiatan (para) aktivis” dan makna yang hampir mirip dengan yang tercantum di Merriam-Webster, yakni “(Pol) doktrin yang menekankan perlunya tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan politik.” 

Aktivisme selalu berkaitan dengan tindakan, respons, gerakan, dan kontribusi nyata yang dilakukan secara langsung. Aktivisme juga lekat dengan gerakan sosial progresif yang selalu menginginkan adanya perbaikan demi suatu kemajuan.

Cendekiawan Muslim yang juga sejarawan, Kuntowijoyo, mengartikan aktivisme sebagai keterlibatan, kehadiran, atau keberperanan. Seseorang yang melakukan aktivisme, melibatkan dirinya dalam suatu realitas dan problem kehidupan masyarakat dengan penuh kesadaran. Bagi Kuntowijoyo, kesadaran itu adalah perpaduan antara kesadaran kemanusiaan dan kesadaran transendental (ketuhanan).

Aktivisme, menurut Brian Martin, “Is action on behalf of a cause, action that goes beyond what is conventional or routine. The action might be door-to-door canvassing, alternative radio, public meetings, rallies, or fasting.” (Tindakan atas nama suatu sebab, tindakan yang melampaui apa yang konvensional atau rutin. Tindakan tersebut dapat berupa penggalian dari pintu ke pintu, radio alternatif, pertemuan publik, demonstrasi, atau puasa).

Maka, aktivisme bisa kita pahami sebagai suatu tindakan yang lahir dari kesadaran seseorang atau sekelompok orang (organisasi/komunitas). Aktivisme berbeda dengan rutinitas dan program kerja, yang sedianya sudah terjadwal dan menjadi agenda tahunan.

Aktivisme lebih kepada keterlibatan secara langsung dan nyata dalam sebuah permasalahan yang ada di hadapan mata. Beberapa contoh dari aktivisme adalah aksi demonstrasi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja, aksi #GejayanMemanggil, aksi #ReformasiDikorupsi, dan aksi Kamisan.

Selain itu, aktivisme juga punya bentuk yang berbeda ketika menghadapi realitas yang berbeda pula. Apa yang disebut aktivisme sosial yang begitu lekat dengan dunia pergerakan kaum muda. Yaitu keterlibatan seseorang dalam memecahkan masalah-masalah sosial secara langsung. 

Aktivisme sosial mengharuskan seseorang untuk terjun langsung membersamai masyarakat menghadapi masalahnya. Menurut Kuntowijoyo, ini adalah salah satu tugas kaum intelektual, yakni meminjamkan pisau analisisnya kepada masyarakat. Tujuannya, membantu masyarakat untuk memahami realitas yang sedang mereka hadapi. Sehingga, kelak masyarakat bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Penggusuran Paksa

Salah satu masalah sosial paling krusial dan mendasar adalah masalah ketidakadilan. Seperti polemik Pembangunan Jalan Tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) 2 arah Bandara Soekarno-Hatta menuju Kunciran. Warga Kampung Baru, Kecamatan Benda, Tangerang, menjadi korban penggusuran paksa dengan alasan pembangunan jalan tol tersebut. 

Masalahnya, belum ada kesepakatan harga antara warga dan pemerintah. Pihak BPN (Badan Pertanahan Negara) malah menentukan harga secara sepihak. Dan tiba-tiba muncul surat eksekusi dari pengadilan. Warga pun berusaha mempertahankan rumahnya, hingga chaos tak bisa dihindari.

Alhasil, sebanyak kurang-lebih 300 warga (50 KK, di antaranya ada 82 anak-anak) di sana menjadi korban kebrutalan pemerintah dan aparat yang turun saat mengeksekusi lahan warga tersebut. Ratusan bahkan ada mengatakan seribu personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan Satpol PP diterjunkan dalam prosesi penggusuran tersebut. 

Tepat pada Selasa, 1 September 2020, rumah-rumah warga Benda dirobohkan. Warga pun menangis histeris sekaligus ketakutan melihat polah aparat yang begitu kejam terhadap rakyat.

Di tengah kesulitan warga yang kehilangan rumah, tanah, dan sebagian besar perabotannya, bahkan sebagian ada warga yang hilang juga pendapatannya, bantuan datang dari berbagai pihak. Mulai dari ormas, organisasi pemuda, pelajar SMA, dan mahasiswa. 

Kehadiran lembaga filantropi sosial, relawan kemanusiaan, organisasi-organisasi sosial pun tak terbendung. Meskipun situasi masih pada masa pandemi, tekad mereka untuk membantu warga tak terpatahkan.

Peran Milenial

Peran kaum milenial dalam mendampingi warga dirasa sangat membantu. Di sana, ada aktivis dari IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia), dan berbagai organisasi mahasiswa lainnya yang tergabung dalam aliansi yang mereka beri nama Baperan (Barisan Rakyat Tangerang). Sehari-harinya, aktivis milenial dari IMM dan GMNI mendampingi anak-anak warga di posko.

Aktivitas mulai dari belajar, bermain games, bernyanyi, dan sebagainya mengisi hari-hari anak-anak Benda tersebut. Meskipun beberapa alat sekolah mereka tak terselamatkan, lantaran pembelajaran masih dengan sistem daring, anak-anak masih bisa melanjutkan sekolahnya. Para mahasiswa di sana selain memberikan pembelajaran dan games, juga terkadang mendampingi anak-anak yang mesti sekolah jarak jauh.

Kehadiran para aktivis di tengah kesulitan warga ini menjadi satu sinyalemen bahwa kepekaan sosial (social responsibility) dan rasa kemanusiaan (sense of humanity) pada diri kaum milenial masih ada dan melekat. Tentu saja, mereka adalah milenial yang aktif dalam organisasi mahasiswa. Organisasi semacam IMM, misalnya, memiliki nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada anggotanya. IMM memiliki trikompetensi dasar yang terdiri atas religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

Sehingga, tak heran bila kader IMM dituntut untuk selalu siap menghadapi masalah sosial. Terlebih, mereka yang terjun ke lokasi warga Benda berada adalah IMM dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uhamka. 

Hal ini membuat mereka mampu memberikan pembelajaran kepada anak-anak sesuai bidangnya masing-masing. Selain memberikan pembelajaran dan mendampingi sekolah, mereka juga turut mendampingi proses pemulihan trauma (trauma healing) yang dialami anak-anak Benda.

Di samping itu, para milenial yang tergabung dalam aliansi Baperan juga melakukan pendampingan berupa advokasi hukum. Baperan mencoba menganalisis permasalahan yang dialami warga Benda. Pada Senin (28 September 2020), aliansi Baperan melakukan aksi longmarch dari Pengadilan Negeri Tangerang menuju gedung Badan Pertanahan Negara (BPN) Tangerang. 

Meski aksi tersebut berujung ricuh dan tanpa hasil memuaskan, aliansi Baperan masih terus mengawal kasus penggusuran ini. Tujuan mereka, tak lain agar warga mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya.

Kaum Organik

Apa yang dilakukan para aktivis milenial di Kampung Baru, Kecamatan Benda, Tangerang, adalah salah satu contoh aksi nyata. Seperti itulah idealnya aktivis mahasiswa, aktivis milenial. Tidak terjebak dalam ruang wacana dan perdebatan di menara gading. 

Seperti kata Mansour Fakih, tugas kita sebagai intelektual adalah ikut menciptakan sejarah dengan membangun gerakan pemikiran dan kesadaran kritis untuk memberi makna masa depan kita sendiri. Itulah tugas intelektual organik menurut Mansour Fakih.

Aksi nyata merupakan bukti adanya aktivisme di kalangan milenial. Apa pun bentuknya, pendampingan belajar anak-anak, membuat dapur umum, aksi penggalangan dana, advokasi hukum, aksi turun ke jalan, dan sebagainya, bila itu didasari pada kesadaran kolektif untuk mewujudkan satu tujuan terarah, itulah aktivisme. 

Dengan kata lain, aktivisme adalah jalan untuk menciptakan sejarah, menjemput masa depan yang terarah.