Kini, kita hidup dalam peradaban yang sarat akan kesadaran lingkungan. Begitu sarat, sampai banyak aktivis lingkungan yang bermunculan. Mulai dari Greta Thunberg, David Suzuki, sampai Pangeran Charles. Mereka semua berjuang keras untuk menjaga lingkungan bumi dengan berbagai cara.

Semakin ke sini, cara-cara mereka menjadi semakin militan. Tak hanya itu. Terbelahnya politik dunia juga membuat mereka semakin radikal, politis, dan partisan. Lihat saja bagaimana Extinction Rebellion melakukan civil disobedience, menduduki kota London, dan diserang oleh banyak kaum konservatif. Bahkan, PM Boris Johnson (anak seorang environmentalist) menjuluki mereka sebagai uncooperative crusties

Seperti yang penulis nyatakan pada tulisan ini, gerakan pro-lingkungan sudah semakin dipolarisasi dan menjadi "milik" dari kaum kiri. Sehingga, dirangkau sebuah kesan bahwa penyelamatan lingkungan membutuhkan big government. Sebuah pemerintahan yang "berani" mengambil peran yang besar dalam perekonomian. Sebuah perekonomian di mana kapitalisme harus diikat melalui command and control policy agar tidak merusak lingkungan.

Menyaksikan fenomena ini membuat penulis teringat masa lalu. Lebih tepatnya, sebuah rangkaian peristiwa di mana dua pemimpin dunia berjuang melawan kerusakan lingkungan. Siapakah mereka? Margaret Thatcher dan Ronald Reagan. Dua ikon kaum konservatif Barat yang terkenal sebagai pendekar Perang Dingin dan kapitalisme pasar bebas. 

Kerusakan lingkungan yang mereka lawan adalah lubang Ozon (Ozone Hole). Seandainya ia dibiarkan, kita sekarang akan dibakar oleh matahari. Untung saja keduanya adalah pemimpin yang rasional dan mau mendengar para ilmuwan. Lantas, bagaimana rangkaian peristiwa ini berlangsung?

Lubang Ozon ini tercipta karena konsentrasi tinggi chloroflourocarbons (CFCs) di atmosfer bumi. Hal ini sendiri ditemukan di era 1960an oleh seorang ilmuwan Inggris bernama James Lovelock. Lantas, pada tahun 1970an, Sherwood Rowland dan Mario Molina menemukan implikasi dari konsentrasi tinggi CFCs ini. Ternyata, ia menghancurkan lapisan ozon secara cepat dan masif.

Lantas, temuan ini menggedor kesadaran masyarakat. Begitu kencang, sampai sebuah sitkom Amerika mengangkatnya dalam satu episode dan menjadi viral pada tahun 1975. Merebaknya isu ini membuat masyarakat menuntut pemerintah untuk segera beraksi. Lakukan sesuatu untuk menambal Lubang Ozon. Sayangnya, berbagai dinamika yang dialami AS selama satu dekade membuat penambalan ini tertunda sampai 1987.

Dalam rentang waktu tersebut, para ilmuan dan aktivis lingkungan membangun sebuah argumen ilmiah. Argumen ilmiah yang begitu kuat dan faktual, sampai pemerintah tak mampu menghiraukannya. Lantas, argumen ini mulai dibahas dan sampai ke telinga Presiden Reagan.

Saat itu, Menteri Luar Negeri AS George Shultz berusaha membujuk Presiden Reagan. Sang Presiden baru saja sembuh dari kanker kulit. Akibatnya, Beliau memahami bagaimana radiasi ultraviolet matahari membahayakan manusia. Sehingga, Beliau pun memutuskan untuk join the bandwagon. Lagipula, Reagan sudah menyelamatkan AS dari keterpurukan. Ini adalah kesempatan untuk menyelamatkan dunia. The exact thing he always wanted. 

Kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. Amerika Serikat menjadi inisiator dari Protokol Montreal. Protokol ini adalah sebuah kesepakatan 30 negara di dunia untuk melarang produksi CFCs. Memang, protokol ini revolusioner dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, banyak negara berkembang tidak memiliki kemampuan finansial untuk menggantikan produksi CFCs mereka (Robinson dalam kpbs.org, 2020).

Dampaknya, protokol ini terancam gagal. Melihat ancaman ini, istri politik Ronald Reagan, Margaret Thatcher langsung memberikan bantuan. Meski sudah menjadi PM Inggris selama 10 tahun, Beliau sendiri adalah seorang ahli kimia by trade, dengan spesialisasi kristalografi. Maka, ketika para ilmuwan Inggris datang dengan argumen Lubang Ozon, Beliau langsung terobsesi untuk menyelesaikannya dan melangkah lebih jauh.

Apa langkah yang lebih jauh itu? Beliau juga ingin menyebarkan bahaya pemanasan global kepada seluruh pemerintahan di dunia. Sebagai seorang ilmuwan, Beliau adalah pemimpin pertama dunia yang mengerti the science behind global warming. Bahkan, Beliau sampai meminta formula kimia untuk menganalisis hujan asam sebagai bukti pemanasan global (economist.com, 2019).

Singkat cerita, pada tahun 1989, Margaret Thatcher memberikan pidato di Sidang Umum PBB mengenai pemanasan global. Pidato ini adalah peringatan pertama dari seorang pemimpin dunia terhadap kerusakan lingkungan. Selain itu, dalam pidato ini, Beliau mengajak semua pemerintahan di dunia untuk kooperatif dalam penyelesaian Lubang Ozon dan pemanasan global (Margaretthatcher.org, 2020).

That powerful idea is the recognition of our shared inheritance on this planet. We know more clearly than ever before that we carry common burdens, face common problems, and must respond with common action.

Kalimat di atas bisa saja kita dengar dari Greta Thunberg dengan penuh emosi. Namun, Thatcher menyampaikannya dengan wibawa dan otoritas khas Beliau. Selain itu, Beliau juga memberikan solusi yang sudah ditempuhnya untuk mengatasi Lubang Ozon dan pemanasan global. 

Pertama, memperkuat sistem pengendalian polusi air, udara, dan tanah. Kedua, melakukan berbagai market-based policies untuk mempromosikan tindakan yang ramah lingkungan. Ketiga, mendorong investasi riset pada masalah lingkungan global. Keempat, membantu negara-negara berkembang mengelola lingkungannya melalui asisted foreign aid (margaretthatcher.org, 2020).

Hasilnya, negara-negara di dunia pun kembali bersemangat untuk mengatasi masalah lingkungan. Akhirnya, setelah membesar selama bertahun-tahun, Lubang Ozon mulai mengecil. Bahkan, para ilmuwan memprediksi bahwa Lubang Ozon akan tertambal pada tahun 2065. 

Semestinya, para pemimpin konservatif saat ini belajar dari aktivisme lingkungan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher. Gerakkan semua stakeholder global untuk bergotong royong mengatasi krisis iklim melalui market-based policies yang inovatif. Jangan hanya berdiam diri. Itu sama saja menambah alasan bagi para climate strikers untuk beraksi di jalan dan mendorong polarisasi isu ini.

Ayo, solusi berbasis pasar sudah ada di atas meja. Sekarang waktunya untuk beraksi.