Diam Ditindas atau Bangun Bangkit Dan Melawan Sebab
Mundur Adalah Pengkhiatan Revolusi Atau Mati!!

Dalam sepenggal hikayat dan puisinya, sang aktivis kemanusian, Wiji Thukul, berkata bahwa, “apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu.

Sepenggal puisi dari Wiji Thukul ini, memberikan peringatan, nada dering pemberitahuan dan teguran keras pada kita yang konon katanya aktivis dan pejuang kemanusian. 

Bahwa, tak cukup dengan titel, kecakapan organisasi, akademik dan punya ilmu tinggi. Tapi lebih dari itu, berbekal ilmu yang kita miliki harusnya mampu memberikan manfaat bagi kepentingan kemanusiaan, keadilan dan kebenaran untuk kemaslahatan umat bangsa dan masyarakatnya.

Lebih jauh, ukuran aktivis, tak hanya mengoleksi buku, sertivikat pelatihan organisasi dan seberapa banyak buku yang sudah dilahap. Tapi seberapa mampukah kita memberikan dan mewujud-nyatakan dalam bentuk yang real.

Sembari belajar, kita juga dituntut untuk berjuang bersama rakyat tertindas. Apa yang suda dibaca, didiskusikan dan diwacanakan harusnya mampu diimplementasikan dan dipraktikkan. 

Minimal menuangkanya dalam bentuk teks, mengadvokasi rakyat tertindas, tergusur dan dirampas haknya, aksi ke jalan dan berbagai gerakan lainya yang kesemuanya itu tidak lain dan tak bukan hanya untuk mewujudkan masyarakat yang adil makmur, sejahtera dan tentunya  diridai oleh Allah SWT.

Sebab hemat kami, ukuran aktisivis sejati, tak di ukur dan dilihat dari seberapa kecakapanya dalam ber-organisasi, ber-diskusi ber-kegiatan yang kebanyakan hanya debat kusir yang tak memiliki makna ril di lapangan. Tapi lebih dari itu.

Hiruk pikuk persoalan bangsa yang semakin kompleks ini, ada kasus Kendheng Pati Jawa Tengah dengah PT Semen dan Gubernur Jateng, Pulau Gebe Halmahera Tengah dengan PT FBLN (Fajar Bakty Lintas Nusantara), Kasus Ham di Papua, Sumatra, Kalimantan,  pengusuran di paramgkusomo, Urut Sewu tanpa relokasi yang jelas dan adil serta berbagai kasus penggusuran dan perampasan tanah yang terjadi di mana-mana dengan berbagai dalil pembangunan dan demi keramaian kota itu.

Semua itu mengharuskan kita untuk turun gelanggang, belajar, berjuang dan melawan bersama rakyat tertindas di mana pun. Berbekal ilmu, wacana dan hasil buku yang suda dibaca. Semua itu harus dibuktikan dan dikonfirmasi di lapangan. Kalau tidak, kita tidak akan terkesan aktif. Aktif!! Ya, aktif di organisasi, aktif diskusi dan aktif di mana pun.

Tapi tidak untuk aktivis. Aktivis harus mampu menyeimbangkan anatara baca buku, wacana dan praktek di lapangan agar jangan sampai, jadi aktivis wacana. Wacana menghasilkan wacana. Singkatnya mengasah pikiran, perasaan dan otak agar kelak jadi pemberontak sejati.

Memang dunia aktivis bukan perkara mudah, penuh cerita, intrik dan memilukan. Tapi apa boleh buat, pilihan sudah terpatri dan terlanjur memilih. Konsekuensi logis dari aktivis itu kan ber-organisasi. Namun bukan berarti mengabaikan yang lain.

Organisasi menjadi wadah pengembangan, pengemblengan dan penyaluran ide-ide, tempat di mana kita diasah, diasuh dan digembleng untuk jadi aktivis. Tapi ingat, aktivis tak segampang aktif. Ada misi yang lebih besar dari sekedar aktif.

Misi di mana semua Organisasi, Komnunitas dan elemen pergerekan  menaruh perhatian yang sama. Yakni, Kebenaran, Keadilan dan kemanusian. Mencurahkan tenaga, pikiran, waktu dan kesempatan untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan dan kepentingan rakyat tertindas, Kaum Lemah (Mustad’Afin). 

Adalah tugas ummat manusia di dunia ini dalam mengabdi pada Tuhan, Agama dan Manusia. Dengan begitu kehidupan kita sebagai aktivis-organisatoris, organisatoris-aktivis akan bermakna dan bernilai tinggi, bila ritual, tradisi dan agenda ke-organisasian di arahkan pada hal-hal yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Artinya bahwa sambil memperkuat organisasi di akar rumput, bangun Basis di kampus-kampus. 



Kita juga harus bersolidaritas dan menghimpun diri dalam solidaritas yang pro rakyat dan yang tidak diskrimatif. Solidaritas yang didalamnya tak mengenal dari amana asalmu, organisasimu, keyakinanmu, warna kulit dan embel-embel lainya. Tapi didasari oleh semangat sama yakni untuk merubah.


Semangat itu muncul atas dasar kesamaan nasib dan kondisi, ketimpangan, ketidakadilan, dan berbagai kejahatan kemanusiaan lainya yang dilakukam oleh pemerintah kita saat ini.

Maka, tidak ada pilihan lain selain membangun komitmen, solidaritas dan persatuan untuk melawan sistem yang menindas, melawan pemirintahan korup, lalim dan otoritarian serta lawan sitem ekonomi kapitalisme liberal dan individualistik yang menyengserakan rakyat.

Dengan demikian, hanya satu kata Lawan lawan dan lawan. Wawlahualam  Jangan mati perlawanan dan perjuangan.