Gemuruh nyaring tuntutan mahasiswa meriuhkan isi kota mengkritisi kegagalan negara. Aroma keringat tercium sangat kuat kala gerombolan mahasiswa memadati jalanan depan DPR. “Hukum mati politikus jalang! Kerangkeng pemodal asing!” disusul gemuruh nyali masa bah tentara perang yang siap memukul.

Saling dorong mahasiswa dan polisi tak bisa lagi dihindarkan. Urat leher kentara kala memaki dan memancing semangat mahasiswa memasuki ruang DPR. Demonstrasi adalah perihal wajar untuk mendidik pemerintah yang kadang lupa keberpihakan mereka. Namun, pagar besi dan selongsong senjata beresiko melubangi tenggorokan mereka bila memungkinkan.

“Dor! Dor!” Gas air mata di arahkan kearah kerumunan masa karena tak kuat semangat dan tenaga meringsekkan tameng dan pagar berduri yang amblas barikade aparat. Dipukulnya beberapa mahasiswa apes karena tertangkap di medan tempur. “Tangan kosong! Kalau berani!” Sudah luput, pelipis sobek darah segar mengalir tak cuma-cuma.

Parfum wangi dan bedak eropa luntur karena keringat bercampur aduk rasa takut karena sinar surya membakar kulit halus mereka. Semprotan water canon membuat terpental hampir dua meter tetap mengibarkan bendera perlawan walau air masuk lubang hidung mereka.

Revolusi tetap hadir pada homo sapiens kritis untuk menyisir partikel negatif di kursi pemerintahan. Kondisi semi sunyi kala barikade aparat mulai mengakuisisi ruang demonstrasi. Peringatan mundur dilontarkan komandan aparat agar menjauh dari lokasi. Mundur!

Gemertak sepatu dan berisik jeritan masa dan pedihnya peluru gas mewarnai hari kala itu. Semua menyiapkan barisan berjaga-jaga menyelamatkan diri menghindar dari serangan tak berseragam, bila terjadi. Beberapa berlarian memegang kening yang sobek dan beberapa merintih sakit, gigi copot dari rahangnya.

Tak tau dari mana mereka datang, atas rasa solidaritaskah atau memang keinginan murni atas kejumudan regulasi kian menenggelamkan masyarakat pinggiran. Atau mungkin kebutuhan konten media menunjukan rasa heroik karena berani berhadapan aparat idaman para bidan?

Demonstrasi masih menjadi tolak ukur marwah mahasiswa mengisi ruang demokrasi di negeri ini. Semboyan -rela aksi seribu kali- tetap didendangkan meski kuping penguasa perlu berobat di dukun telinga. Nyawa dan masa depan opsi terakhir sebelum kritik mereka dijadikan opsi utama para penguasa. Utopia.

Imut nan lugu sebelum masuk di dunia perkuliahan adalah target empuk oleh kakak-kakak pembina untuk dijejali pikiran kiri klaim keberpihakan kaum tertindas. Kampus diklaim tak mewadahi kebutuhan pengetahuan mereka, Ivan Illich sampai Pulo Freire dijadikan semboyan perlawanan. Kuliah tepat waktu itu anak manja, perlawanan itu poinnya.

Menggauli buku-buku dengan harap menjadi orator jenius didambakan dibanding belajar satu buku dektat kampus itu –bisa cupet tak progresif. Semua itu pilihan tapi tak jarang murtad seratus delapun puluh derajat bacaan kiri diganti untuk konsumsi buku ternak lele karena tercekik realitas.

Politisi amis sampai yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka adalah target empuk untuk didebat. Idealisme saklek banyak ditemui sampai –haram bila bergaul dengan para politis, sama saja munafik. “kamu rela berunding dengan maling-maling penindas kita?”

Jiwa muda darah semangat masih tertanam kuat dibenak mereka. Respon cepat dan lincah membikin gempar satu kompi brimob bila mereka berkumpul satu juta masa. Berjam-jam waktu habis mengkaji terkait negara yang tak kian ada habisnya. Cekung mata dan bibir yang kian menghitam efek kopi dan rokok, ciri aktivis sejati. Tak banyak, adik-adik imut terpengaruh mencoba walau sebelumnya hanya lolipop saja berani untuk dikonsumsi.

Filsuf Henry Bergson memilah –Elan Vital sebagai pengaruh individu bisa terpengaruh karena termakan semangat kelompok yang lebih kuat. Tak gemar baca buku, tak gemar berfilsafat bisa saja berubah seperti filsuf bila dikampus rela duduk berjam-jam atau bertahun-tahun mengikuti lingkar mereka.

Karakater bisa saja terbentuk melalui proses pembelajaran dan interaksi kelompok. Kondisi ini akan mengatur kinerja akal mereka menggali lebih jauh agar bisa seperti kelompok tampilkan. Kata-kata motivator gacor kadang mengaitkan, “masa depanmu tergantung dari pertemananmu.” Benarkah?

“Bagimu negeri jiwa raga kami!” gerombolan masa dipaksa mundur, nampak wajah murung dan umpatan dilontarkannya. Tenggelamnya surya, sedikit demi sedikit melonggarkan kembali jalanan pepat karena masa. Jepretan kamera wartawan jadi saksi bisu gerakan. Beberapa dikonsumsi untuk memutar balikan fakta begitu para buzzer bekerja. Cengengesan aparat nampak dari kejauhan dalam hati mereka, “Negeri ini bukan untuk masa selemah itu.” Semoga saja tidak seperti itu.

Nyanyian jargon kemenangan aparat berlagak seperti Sparta membuat merah wajah para masa, tak kuat kepanasan atau muak. Dua sisi berbeda, tak bisa menjebol kantor DPR adalah kemenangan aparat atas tugasnya. Sedangkan masa berhamburan kepalang menyelamatkan diri dengan tujuan menggaet masa lebih besar.

Perselingkuhan politikus dan pemodal biang kerok dari segala keresahan di bumi ini. Seperti jual beli undang-undang balas jasa pemodal atas politikus. Tidak ada kata lain selain dengan lawan kawan!. Sedikit demi sedikit kita bangun kembali gerakan menghantam kejumudan negeri ini. Bisik-bisik geromobolan beberapa masa evaluasi atas gerakannya di pelataran sekretariat sore itu.

 Idealisme mahasiswa bisa-bisa dikubur dengan segepok dolar, bila saja mulut mereka tak mau diam. Politikus sangat licin dan tajam untuk mengebiri semangat mahasiswa. “Selama keberpihakan kita tepat pada kaum tertindas, maka kita tak akan tergiur pada tawaran omong kosong politikus!” Begitulah seharusnya mahasiswa. Semangat muda luar biasa. Bagaimana bila beranjak tua?

Kapitalisme sampai politikus amis menjadi algoritma kajian lingkar diskusi mahasiswa. Alat dedah teoritis  dari kiri hingga kanan rela digeluti mengatasi segala problematika. Tak kadang, benturan paradoksal terjadi ketika alumni gerakan masa bergiat pada jalur politik dengan dalih memperjuangkan kepentingan rakyat. Kemampuan filsafat mereka membiasakan diri bergulat lidah hingga beberapa percaya.

Bila saja kita hanya fokus pada gerakan masa, jelas saja negarawan atau politikus tak mau mendengar keluh kesah kita. Maka dari itu, harus ada bunuh diri idealitas terjun didalam zona hitam –zona politik. Beberapa menggunakan kosakata klasik itu coba meyakinkan dan melempengkan doktrinasi pemahaman.

Menelan ludah dan mengganti muka rela dilakoni mengkikis idealisme masa muda. Sistem politik negeri ini, yang amat kotor tak sedikit terbawa arus bahkan dijebloskan karena menentang sistem hingga rela dibui. Hukuman jadi bahan candaan. Aroma pesing tahanan bisa diatur sewangi kamar malam pertama. Miris!

Akulah bagianmu atas persamaan ideologi. Maka bergabunglah bersama kami! membangun kekuatan gerakan dinegeri ini. Suara megaphone menganga diantara mahasiswa baru yang sedang mencari tahu informasi organisasi di lapangan kampus yang sedang terik-teriknya.

Kepolosan sangat nampak –rasa ingin tahu dengan harap mampu mempertahankan kepercayaan di desa. Tapi belum tahu kemungkinan taktik manipulasi nan politis yang lebih dahulu dikuasai kakak-kakak pembina. Politik bukan hanya menyampaikan kebenaran. Kecacatan bisa juga dijadikan dalih untuk dikemas jadi kebenaran. Menarikah?

Kaderisasi. Proses itu sering mereka sebut sebagai proses kaderisasi. Menjaring masa sebanyak-banyaknya, setelah itu diberikan intrik, tanda dan pengetahuan untuk tujuan organisasi. Sifatnya lebih kepada strukturalis, laiknya tingkatan senior-senior The Godfather yang lincah itu.

“Saya tertarik kak! Karena selaras dengan ayah dan ibuku ajarkan kepadaku.” Raut ceria dengan genggaman kertas pendaftaran di tangan kanan pemuda. Berlanjut diskusi kecil-kecil dan baiat menjadi kader tangguh bergerak membela mengatas namakan rakyat tertindas.

Kebusukan belum tercium kala berproses pada tingkatan paling dasar. Pembelajaran filsafat, pengetahuan sosial hingga menguliti komposisi material adalah kajian sering berada pada fase dasar. Dibuat terlena ia, hingga mencapai titik militansi laiknya militer nazi rela mati membombardir Polandia pada tahun 1939.

Organisasi kita adalah organisasi indpenden, tidak berpihak pada satu parpol atau parpol lainnya. Kita bergerak sesuai dengan asas peraturan organisasi dengan menjunjung mbelo wong cilik. Ruangan berukuran dua kali tiga meter, berdempet-dempet pemuda-pemudi untuk mengikuti kajian keberpihakan.

Kepulan asap rokok memenuhi ruangan dan mulai membuat sesak tenggorokan peserta. Mata merah dan cekung hitam nampak pekat muncul di beberapa pemuda. Sembari menyimak, goresan tinta merah hitam diliukan untuk memberi tanda isi, agar mudah dibaca dan dikaji dengan semangat peserta mengikuti acara.

Dengan lantang pemuda, menyinggung terkati keberpihakan. Keberpihakan seperti apa dilakukan organisasi ini untuk mengatasi politikus kaya yang bisa memonopoli keadaan? Kesadaran masa adalah kuncinya. Dengan kita sadar bahwasannya ada suatu kerusakan, maka kita wajib dan bisa untuk memperbaikinanya.

Memperbaiki dengan cara apa? Toh aksi dan demonstrasi kita selalu kalah dan mundur dari martir yang mereka buat. Mengapa tidak partisipasi langsung dengan para politisi? Tidak. Kita ini organisasi independen, pengurus maupun anggota tidak bisa bergabung pada partai politik manapun. Terdiam pemuda merenungi segala kebuntuan.

Setelah melakukan banyak sekali celoteh perdebatan. Pemuda semakin bertanya-tanya mengenai keseriusan dan arah gerak organisasi. Keabsurdan semakin menjadi ketika ia berkomunikasi dengan petinggi atau tingkatan lebih atas. kernyit dahi ditambah konsumsi kopi dan rokok semakin menjadi memikirkan mengenai politik dan idealisme.

Berbungkus-bungkus rokok dihabiskannya ditengah desa amat sepi yang hanya ada suara kodok dan jangkrik. Kebisingan knalpot balap tak mungkin didengarnya. Kebuntuan itu terjadi ketika tertangkap basah atas peraturan organisasi yang tidak lagi berguna karena tidak dipatuhi alias formalitas semata. Ternyata! Tataran atas organisasi, beberapa anggota berafiliasi partai politik. Blaaiik!

Mati kutu selama ini yang diperjuangkan. Aroma tanah tercium ketika rintik hujan mengguyur isi desa malam itu. Dingin menyelimuti dan mulai menusuk tulang. Diambilah jaket dengan mulut tetap mengigit rokok yang belum tersumat. Kebimbangan dan kebingungan semakin menjadi. Difikirnya, karena ditemukan motif para politikus secara diam-diam memberikan segempal uang kepada petinggi untuk kepentingan amis dan secara langsung berepengaruh pada organisasi.

Dua pilihan antara idelalisme atau mengikuti arus mengakhiri rungan malam itu. Paduan suara kodok semakin menjadi memekikan telinga sembari berjalan manyusuri jalanan gelap penuh lumut dan licin. “Aku sudah menemukan!”. “Tiga hari kedapan adalah momentum,  Aku harus bersuara.”

 Digoyang forum hingga timbul perdebatan luar biasa. Berafiliasinya anggota organisasi dengan partai politik tidak ada tindak tegas untuk dilakukan pemecatan atau musyawarah luar biasa. Legalitas dipertanyakan hingga membuat malu seisi ruangan karena infomrasi tersebut baru saja terbongkar.

Perjuangan organisasi mengatasnamakan diri gerakan independen, tak lagi dipercaya. Pemuda tetap pada pendirian memperjuangkan idealisme disamping beberapa yang terbawa arus, hingga lupa jati diri mereka. Aksi demontrasi terkait kerusakan lingkungan ternyata adalah megaproyek yang senior mereka kerjakan. Mereka turut berperan kecuali si pemuda.

Semakin getol pemuda dibuat olehnya. Tidak ada kata lagi maaf, perlawanan harus tetap dilangsungkan. Namun, cercaan dan pengucilan mendera ia. Teman seperjuangan luput. Ia lebih memilih bagian dari partai politik dari pada hidup selamanya dalam arena perjuangan. Idealisme waktu muda berubah menjadi gerakan politis terfokus pada uang dan kekuasaan. Rakyat peinggiran lagi-lagi menjadi korban.

Pemuda dengan gerakan lebih prodgresif walaupun tampak lebih nambah kurus. Semakin dibenci banyak orang, karena tidak mau menerima sistem yang disembunyikan itu. Menjilat pantat penguasa lebih menggiurkan bagi teman-teman pemuda. Kesepian dan linglung proyek strategis rela tak ia dapatkan.

Dibandingkan dengan teman-temannya, subur dengan proyek tambang emas, bendungan hingga pengadaan sembako. Kenyang, nambah bulat perut mereka. Idealisme menentang dan mengkritisi negara berubah menjadi sahabat atau kawan. Muka tembok dipasang biar tak malu bila ditanya terkait idealisme.

Dikala pemuda kembali turun aksi menagih janji untuk membuat kebijakan tentang kelestarian lingkungan. Teman-temanya berdalih seribu alasan tak dapat menemui di kerumunan karena tugas kerja negara. Matilah! Kita jadi korban lagi! Sejak dari itulah pemuda memilh jalan lain untuk mencari jati diri mengantam orang-orang munafik itu.

Kebohongan atas nama rakyat sudah tertanam tanpa menjadi wakil rakyat, selanjutnya menjilat kran penguasa. Rakyat diladeni bila pinggang dan waktu ada untuk mereka. Proyek adalah target utama. Rakyat? –nanti dulu, bisa tersendat makan mala kita ini.

Ujian demi ujian melihat tingkah temannya dengan bergelimang harta. Tubuh tak lagi kurus tak seperti dulu, kusam, dan bercak jamur sering nampak dileher mereka karena sibuk advokasi korban penggusuran atau partisipasi mogok makan kala menentang kebijakan kenaikan harga BBM.

Pemuda itu hanya menelan ludah, bertahan dari segala cobaan yang bisa-bisa menggiringnya kearus hitam. Lebih memilih tinggal bersama masyarakat pinggiran mengadakan gerakan dan kolektiv ekonomi. Tubuh kurus, uban mulai tumbuh setia pada oposisi. Gelak tawa memodarkan pemuda kala teman-tamannya menganggap ia sok idealis. Muda itu wajib kiri, tua jadi kiri itu gila. Benarkah demikian?