Penulis Lepas
1 bulan lalu · 1606 view · 5 min baca · Gaya Hidup 58535_93407.jpg
IG @chelseaislan

Aktivis Mahasiswa Menjemput Ajal

Menjadi mahasiswa memang cukup membanggakan. Seakan derajat dirinya naik beberapa persen daripada sebelumnya saat hanya sebagai siswa. 

Apalagi kemudian, dia bergelut di dunia organisasi yang nantinya mendapat gelar “aktivis”oleh banyak mahasiswa. Gelar aktivis adalah status seksi yang pada gilirannya mengangkat harkat dan martabat sebagai mahasiswa yang dielu-elukan dan berkesan angker.

Di samping juga peran dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat bukan main, dia tidak saja lakon penuh ambisi revolusi, tetapi menyimpan pernak-pernik yang orang tak semua memilikinya. Di dalam dirinya, ada insting yang lekas-lekas peka ketika menyaksikan kondisi riil kehidupan, mulai kebohongan, penindasan, pemerkosaan, ketimpangan, dan kemiskinan, serta dimensi-diemensi marginal dalam sisi hidup manusia.

Sebut saja, aktivis dengan dimensi filantropi sosialnya mampu memupuk aspek sosialitas ke dalam praktik kesalehan sosial. Problem akut sosial di mata mereka adalah kacamata untuk menganalisis dan menyelesaikannya.

Aktivis mungkin dianggap juru selamat zaman. Hampir di setiap masa tak kunjung sumur aktivisme mengering dan lapuk di pusaran zaman. Mereka bermodalkan pengetahuan dan analisis mendalam, lalu cepat-cepatlah kepalan tangan dengan teriakannya menyentak protagonisme kekuasaan yang menindas. 

Namun, gambaran di atas sekadar metafora heroisme seorang aktivis saja, tanpa secara total menyempitkan peranan mereka di mata sosial. Bergantinya zaman dengan segala dimensinya mengubah aspek-aspek orientasi masing-masing orang, tak terkecuali aktivis.


Sejarah mencatat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejak Orde Baru menjadi barometer kekuatan civil society yang dipandang “angker” di mata rezim Soeharto. Perlahan kelakuannya yang “meminta minta” membuat citranya buruk seketika. Dan yang membuat miris adalah tidak sedikit LSM menjadi tempat besutan aktivis mahasiswa bekerja.

Tak ketinggalan pun mahasiswa. Kondisi sosio-politik Indonesia sekarang ini yang membuka seluas-luasnya kepada mantan aktivis mahasiswa masuk dalam lingkaran kekuasaan, pada gilirannya menjadi corong yang tak lagi matian-matian mengagungkan idealisme. 

Kekuasaan yang berkorporasi dengan konglomerasi makin menutup idealisme mantan aktivis mahasiswa ke dalam lingkaran setan kekuasaan. Mereka terjepit, atau memang berupaya ikut melanggengkan trah kekuasaan oligarki.

Tak usah jauh-jauh, Partai Rakyat Demokratik (PRD) besutan Budiman Sujatmiko beserta kolega aktivis mahasiswa lainnya, mereka satu-satunya partai radikal yang lantang berani vis a vis rezim Orde Baru. Sejenak berlalu memasuki orde reformasi sampai sekarang, kita bisa menyaksikan bagaimana mereka menjadi dedengkot partai-partai oligarkis yang tak berkutik. 

Keberadaan mereka seolah tak mampu menyentak kekuasaan oligarki yang di dalamnya masih bercokol eks-eks jenderal purnawirawan eks orde baru. Bisa dilihat ketika pilpres 2019 lalu, masing-masing pasangan digawangi purnawirawan yang satu sama lain bersuara di balik ketiak calon presiden. 

Dan mantan aktivis 98 yang didewakan oleh mahasiswa itu pun ikut berperan menjadi striker di arena terdepan. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, mereka pernah garang di lapangan dan lapuk di lembah sistem kekuasaan kemudian.

Entahlah, wacana reformasi yang mereka boombastiskan seakan-akan menjadi trik jitu untuk bila target capaian berhasil, berbondong-bondong seperti eksodus untuk menguasai sistem, sehingga sering terdengar oleh kita, "berjuang lewat sistem". Kenyataan membenarkan akan hal itu, di mana aktivis mahasiswa yang dulu garang di lapangan, kini berada di zona nyaman kekuasaan. 

Di dunia aktivis, keberhasilan karier senior adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi juniornya. Mereka dijadikan patokan akan patron keberhasilan dan kesuksesan, di samping buah bibir yang membuat telinga banyak orang menilai positif padanya. Dan lebih girangnya bagi junior adalah dikarenakan mereka sudah sukses di sistem ataupun di sektor lainnya, maka hidup-tidaknya (progres) organisasi akan juga ditentukan

Artinya, koneksi antara mantan aktivis mahasiswa dengan juniornya yang kepalan tangannya masih kuat dan keras makin memperkukuh pola hubungan yang sinergis dalam intraksi yang saling mengisi pada kepentingan organisasi maupun kepentingan seniornya. 


Karena umumnya adalah mantan aktivis (senior) yang sudah berada di zona nyaman merupakan penyuplai kebutuhan material kepada aktivis-aktivis junior. Pada hubungan kekeluargaan ini, junior akan meminta biaya pendanaan pada kegiatan-kegiatan kaderisasi di organisasi dan tak kalah penting adalah juga untuk menyejahterahkan junior-juniornya atas jerih payahnya yang sudah takzim pada senioritas. 

Meminjam teori fungsionalisme struktural Talcot Parson, kesatuan fungsional dalam suatu tingkat keselarasan dan harmoni antara mantan aktivis (senior) dan aktivis mahasiswa (junior) dalam wilayah doktrinasi sarat dengan pemenuhan kepentingan semata, bukan satu-satunya murni membopong idealisme. 

Maka implikasinya, ketertiban sosial di masyarakat lekas teratur dikarenakan aktivis mahasiswa sudah terbaptis sebagai lidah penyambung status quo seniornya (kekuasaan) yang sesungguhnya medium problem sosial itu sendiri.  

Oleh karena itu, ada semacam doktrinasi yang tumpang tindih antara paradigma konflik yang dieskplorasi dari marjin kiri di satu sisi (marxisme) dengan sisi lainnya; doktrin untuk meredam kacamata Marx tersebut lewat beberapa kenyataan riil berupa material yang dimanjakan (fungsional struktural).

Sudah umum, pada biasanya manakala sejak mahasiswa baru mereka dicekoki doktrin perjuangan-perjuangan kelas buruh, petani yang tetindas, dan bagaimana melakukan gerakan demonstrasi di depan gedung pemerintahan. 

Tetapi di saat mulai menginjak matang prosesnya, mereka diperalat dan dicekoki aneka macam pragmatisme-oportunistik. Dan akhirnya, dahulu yang sebelumnya menuhankan idealisme, tiba-tiba berubah dengan paradigma “pragmatis itu sewaktu-waktu menjadi keharusan”.

Padahal sejatinya mereka terjebak di ruang konformitas yang berpotensi besar meninakbobokkan kerja-kerja sosial yang lebih berarti. Karena budaya paternalistik itu secara tidak langsung akan menjadikan mental mahasiswa keropos atas kenyamanan yang dimanjakan oleh seniornya. 

Alhasil, muncul sikap merasa tak nyaman "segan" bila sewaktu-waktu kasus menjangkiti seniornya dan lebih memilih diam seribu bahasa. Tak ayal ini adalah trik untuk supaya kekuasaannya tidak digoyang oleh juniornya. 

Menyaksikan fenomena ini di dunia aktivisme mahasiswa sungguh miris. Pada tataran yang lebih jauh, aktivis mahasiswa sama saja sebagai pewaris takhta kemapanan, di balik jendela penindasan yang menganga di ketiak kekuasaan senioritasnya. 


Di sini, aktivis mahasiswa menjadi kelas-kelas baru di tatanan sosial, bahkan eksistensinya sebagai pemasok status quo feodalisme kekuasaan dan membuka lebar-lebar dirinya sebagai kaum-kuam elite.

Aktivis mahasiswa jika tak berlebihan sekarang ini (meski bukan keseluruhan) terkerangkeng dalam gelembung pragmatisme-oportunistik yang infrastrukturnya difasilitasi oleh senioritas. Alhasil, budaya paternalistik makin mengental dan pada gilirannya menjadikan kerja-kerja aktivisme mandul di persimpangan jalan.

Makanya tidak sedikit fenomena aktivis mahasiswa hari ini lebih suka bersolek dan memilih cafe-cafe berkelas sebagai tempat bersenang ria. Pun juga lebih suka main gawai, seperti game di warung-warung kopi untuk menghabiskan uang, baik hasil orang tuanya maupun pemberian seniornya.

Kerja-kerja kontraproduktif aktivis hari ini merupakan penampakan tidak lebih sebagai era kemandulan aktivis dari ruang kesalihan sosial.

Jika begitu, aktivis akan kehilangan ruhnya sebagai juru selamat masyarakat, dan lama-kelamaan akan mengalami definisi yang sempit di mata orang. Bahkan tak dinyana, manakala aktivis lebih dikenal sebagai brutalitas dan premanisme, itu bisa jadi karena kerja-kerja aktivis tidak membuahkan hasil, sehingga banyak orang tidak memperoleh perubahan. Lebih mirisnya lagi, aktivis bakalan kehilangan eksistensinya di mata masyarakat.

Jika aktivis sudah tidak lagi melakukan aktivitas sebagaimana peranan dan keberadaannya sebagai penyambung lidah dan juru selamat rakyat. Maka akan kepada siapa rakyat meminta pertolongan?

Artikel Terkait