Belum lama ini, tepatnya 16 Juni 2020, saluran berita Internasional BBC, melalui BBC News Indonesia, menayangkan laporan yang memuat kisah seorang penyintas bernama Santi (bukan nama sebenarnya) yang mengalami pelecehan seksual dan melibatkan mahasiswa dengan inisial RIA sebagai pelaku.

Penyintas dan pelaku diketahui adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam swasta di Jogja. Keduanya juga rekan di beberapa organisasi. Berdasarkan keterangan, mereka sedang terlibat dalam project sosial, relawan Covid-19.

Dalam pengertian paling umum, profil orang-orang di atas bisa kita sebut dan sematkan pada mereka kata “aktivis”. Meski stereotip yang diyakini bahwa orang-orang tersebut “hebat” dan piawai di bidang masing-masing, tetapi aktivis juga manusia dan manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk yang paripurna.

Kadang-kadang dalam perjalanan hidup, Tuhan memberi kesempatan berbenah dengan cara menunjukkan sisi paradoks.

Kronologi Peristiwa dan Menguji Validasi Berita

Dikutip dari laporan BBC News Indonesia, kasus ini sebenarnya berawal ketika RIA mengajak Santi untuk pergi ke tukang urut, karena kelelahan usai kegiatan relawan yang padat. Singkatnya, RIA justru meminta tolong Santi agar dia saja yang melakukan tugas tukang urut itu, dengan dalih khawatir terpapar Covid-19 karena riwayat tukang urut yang tak jelas.

Pada mulanya Santi dengan halus menolak permintaan itu. Ia juga menunjukkan gejala tidak nyaman dan khawatir. Santi kemudian berusaha menyiasatinya dengan cara mengajak RIA untuk mencari makan malam di luar, setelah sebelumnya melakukan panggilan video dengan salah seorang kawan.

Keluarlah mereka untuk makan malam. Namun mereka tidak makan di tempat, sebab warung makan akan tutup. Sebenarnya Santi meminta RIA agar mereka makan di troator saja atau di kontrakan kawannya agar bisa lebih ramai, tetapi dua usul itu ditolak.

RIA justru mengajak Santi untuk makan di sebuah hotel yang ternyata sudah dipesan sebelumnya oleh RIA. Dalam keadaan yang bingung, Santi terpaksa ikut sebab ia pikir paling tidak mereka akan makan malam di lobi hotel. Santi keliru dan di sinilah petaka itu dimulai.

Mengutip laporan BBC Indonesia, “Mereka malah masuk ke kamar dan RIA menguncinya. Penyintas sempat bertanya kepada RIA kenapa pintu kamar dikunci, tapi RIA tidak menjawabnya.”

Masih dalam baris laporan yang sama, lebih lanjut laporan itu menjelaskan bahwa Santi “sempat heran dengan perilaku RIA, namun Santi menepisnya dan mereka akhirnya makan bersama”.

Kisah berlanjut dengan kejadian tak mengenakkan yang dialami Santi. Kepada BBC ia menuturkan ulang, "Terus dia mulai meluk saya, mulai cium-cium di bagian leher. Dia mulai maksa meluk, malah tambah dikencengin terus, kayak berusaha mencium bibir saya. Saya nggak mau, berusaha nolak." Tetapi apa daya, “penolakan Santi tak digubris, dia malah mencoba untuk meraba payudara Santi. Ketakutan, Santi langsung beranjak pergi dari kamar hotel itu.”

Santi tak menyangka, RIA yang ia kenal adalah RIA yang lain dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. "Soalnya dia kan aktivis yang sudah biasa menyuarakan hak-hak perempuan, seharusnya juga sesuai apa yang disuarakan."

Laporan dari BBC News Indonesia juga menjelaskan bahwa Santi sempat berkonsultasi di salah satu lembaga konseling yang fokus menangani kasus kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa Women’s Crisis Center.

Usai dari peristiwa itu, pada pertengahan Mei silam, koresponden juga wartawan BBC News Indonesia di Jogja, Furqon Ulya, menanyai sikap Santi dan apa yang ia minta dan bagaimana sebaiknya. “Santi dengan nada getir,” berujar "keinginan saya agar pelaku jera, buat organisasi yang dia ada di dalamnya itu mereka memberikan sanksi atau punishment buat dia."

Kasus ini terjadi dua bulan yang lewat, yakni April. Artinya, ada serangkaian uji coba fakta lapangan sebelum kisah itu dipertimbangkan dan benar-benar dimuat, sebab media bukan suara gaib yang datang tak jelas arah. Terlebih untuk sekelas BBC, media dengan standar kode etik jurnalistik yang tentu saja dapat diuji.

Langkah Santi tak berhenti di situ, BBC News Indonesia dalam laporannya juga mengutip pendapat Sukiratnasari yang merupakan pendamping hukum kasus Santi bahwa, “apa yang dilakukan oleh RIA termasuk kategori pelecehan seksual karena menyentuh anggota tubuh tanpa persetujuan (consent)”.

Lebih jauh, kuasa hukum yang juga pernah menangani kasus Agni itu menerangkan, "Perbuatannya masuk kategori pelecehan seksual," ujarnya.

Kemudian melanjutkan, "Merujuk pada 15 jenis kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan, pelecehan seksual adalah adalah tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.”

Menurut Sukiratnasari berdasarkan kronologi peristiwa itu, “Santi mengalami dua kali pelecehan seksual. Dua kali pelecehan yang ia maksud adalah adalah perbuatan yang dilakukan RIA di kamar kos penyintas, yakni dengan meminta dipijat, dan perbuatan RIA ketika di kamar hotel seperti merangkul dan meraba payudara dari belakang sampai berusaha mencium bibir penyintas.”

Babak Akhir Kasus?

Harapan yang diutarakan Santi pada BBC News Indonesia menemui babak akhir yang mungkin bertolak belakang. Tertanggal 25 Mei, tiga organisasi yang berhubungan dengan RIA mengeluarkan semacam press release yang mencantumkan kronologi insiden versi mereka.

Berdasarkan penjelasan dari urut-urutan peristiwa, pada bagian akhir terdapat dua catatan yang intinya adalah: Pertama, tidak ada pelecehan seksual yang melibatkan RIA dan Sinta. Menurut catatan itu, yang tepat adalah ketidaktahuan mereka atas konsep consent dalam relasi dengan lawan jenis, hal itu dirasa wajar sebab mereka sudah lama saling kenal.

Poin pertama dalam catatan itu pada akhirnya menghantarkan kita pada baris penutup atau kesimpulan akhir dari kasus ini: kedua belah pihak (penyintas dan pelaku) masing-masing yang diwakili organisasi telah mengadakan mediasi dan LBH Jogja selaku pihak ketiga memutuskan untuk sepakat menutup kasus ini dan tidak lagi memperpanjang masalahnya.

Pelecehan Seksual dan Omong Kosong Aktivis Cabul

Apa yang terpikirkan oleh Anda jika saya bertanya dan menyebut kata “Aktivis”? Entahlah. Terkadang kita hanya perlu diam untuk sebuah pertanyaan yang sudah sama-sama kita ketahui jawabannya. Saya rasa, kata-kata telah mati dan jadi omong kosong belaka.

Kata orang, aktivis adalah mereka yang melek literasi, hobi nongkrong, demonstrasi, dan diskusi. Saya jadi ingat sebaris sajak Wiji Thukul, "Apa guna punya ilmu tinggi, kalo hanya untuk mengibuli."

Para aktivis, dalam pelbagai kesempatan, kerap kali mengutip sajak itu. Dalam konteks ini, saya pikir mereka tengah berbicara ke arah muka sendiri.

Boleh jadi, aktivis-aktivis jenis ini sedang berada dalam situasi “kegenitan intelektual”. Mereka yang sok jago dan seolah tahu tentang segala hal. Pada akhirnya di ruang sempit kos-kosan atau sudut-sudut gelap pinggir jalan atau hotel terang kelas melati, teori-teori mengenai keadilan gender, relasi kuasa, HAM, dan seterusnya cuma jadi bualan ajang pamer di forum-forum diskusi yang nilainya tak lebih dari seonggok sampah.

Melalui kasus ini, saya dan juga Anda harusnya merasa muak dengan orang-orang yang mendompleng nama sebagai aktivis. Dunia kian penuh dengan orang-orang yang meminta pengakuan diri, kata lain dari eksistensi belaka.

Kasus-kasus serupa sebenarnya banyak terjadi, tetapi dengan tingkat kerahasiaan yang sangat rapat. Maka kita patut berterima kasih pada media yang membuka telinga dan mata kita lebar-lebar, bahwa ada banyak sesuatu yang tak terungkap dalam tubuh seorang aktivis, dan media membantu kita untuk memahami sisi gelap itu.

Di tengah morat-marit kasus-kasus pelecehan atau kekerasan seksual, keberanian penyintas juga patut dipuji dan sudah semestinya ia mendapat hak dan jaminan hukum.

Kejadian ini bukan untuk “menelanjangi” pelaku yang kebetulan adalah aktivis, tetapi ini harus dipandang sebagai upaya untuk membangun kesadaran bahwa pelecehan atau kekerasan seksual dapat menimpa siapa saja. Pertanyaannya, akankah kita memaklumi kejadian ini?

Aktivis Cabul, Bisakah Kita Maklum?

Sebagai manusia biasa, jika kita berada pada posisi tersebut, apa yang kita perbuat? Saya kira kita tak mungkin akan menafikan bahwa tiap-tiap diri, masing-masing dari kita semua punya bakat berengsek. Tapi bukankah kita punya akal budi untuk menimbang-nimbang?

Namun harus diakui dalam kasus jenis ini, nafsu lebih sering mendominasi akal sehat, dan bisa jadi kita berakhir di pojokan sebagai orang yang kalah.

Hati-hati, ada banyak aktivis cabul lain yang berkelindan di organisasi atau di mana pun tanpa kita sadari. Mereka memakai topeng dan untuk waktu yang tepat akan memasang jaring jebakan dengan segala modus operandi. Mungkin saja aktivis itu adalah Anda, dan kemungkinan lebih besar adalah yang menulis catatan ini sendiri. Tapi maaf, saya bukan aktivis dan tidak pernah suka untuk disebut atau disematkan kata itu.

Semoga ini jadi pelajaran yang baik,paling tidak kasus ini menambah kosakata kita: bahwa aktivis tak seideal yang orang-orang pikirkan. Kadang tak sejalan dengan kehebatan dalam aktivismenya.

Ada begitu banyak contoh, katakanlah aktivis anti-korupsi yang tahu-tahu memakai rompi orange KPK, aktivis lingkungan yang tahu-tahu merusak alamnya sendiri, dan tentu dalam kasus ini aktivis isu-isu gender justru diberitakan melakukan tindakan yang mencederai prinsip gerakan.

Pada titik inilah sikap konsisten dan adil organisasi yang menaungi aktivis itu diuji, karena jangan sampai kasus-kasus yang diduga dan bahkan terbukti selalu berakhir dengan pendiaman dan atau perkara selesai lalu hilang tak terdengar lagi, hanya suara “damai” yang dijadikan alasan sebagai pembenaran dan untuk menutupi citra organisasi.